Dosen Pengampu: Hasnawati, S.Pd.,M.M
PGMI/A/VII
AWAL MASA KANAK-KANAK
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Psikologi
Perkembangan Anak
Disusun
oleh :
Kelompok
2
Haniyuliana
( NIRM: 1209.15.07667)
Nurhalimah (NIRM : 1209.15.07684)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2018
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Awal masa
kanak-kanak
Masa kanak-kanak pada umumya berdasarkan literature, kebanyakan
dimulai dari umur 2-6 tahun, tetapi ada literature juga yang menyatakan bahwa
kanak-kanak di mulai dari umur 1-4 tahun, pada dasarnya para ahli menetapkan
batasan-batasan tersebut menurut pengamatan dan penelitian yang dilakukan
masing-masing para ahli.
Awal masa kanak-kanak adalah suatu masa dimana proses dari bayi
menuju perkembangan selanjutnya. Masa ini adalah masa awal dimana anak-anak
akan lebih banyak kepada pemenuhan kepuasan bermain anak, karena hamper 70%
keseharian anak dihabiskan untuk bermain, meskipun didalam permainan yang
dimainkan anak mengandung unsure pembelajaran yang tidak terduga. Seperti
halnya ketika anak dibiarkan makan pada sebuah makanan yang terdapat pada
piring dan anak memegang sendok untuk berusaha memasukkan makanan yang ia makan
kedalam mulutnya, tetapi anak tersebut lebih sering membentur-benturkan sendok
pada piring, karena anak tersebut menganggap bahwa itu adalah sebuat permainan.[1]
B.
Ciri-ciri awal
masa kanak-kanak
a.
usia yang
mengandung masalah atau usia sulit.
Menurut sebagian orang tua, awal masa kanak-kanak adalah usia yang
mengandung masalah atau usia sulit karena pada masa ini anak-anak dalam proses
pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan.
b.
Usia mainan
Usia bermain pada kanak-kanan di mulai pada usia 3-5 tahun. Menurut
Erickson hasil perkembangan ego pada usia ini adalah inisiatif dan masa
bersalah. Kekuatan dasarnya adalah tujuan atau dorongan selama periode ini anak
mengalami suatu keinginan untuk meniru orang dewasa disekitarnya dan mengambil
inisiatif dalam menciptakan situasi belajar. Mereka bisa bermain dengan boneka
berbie, menggukan telpon mainan dan miniature mobil, bermain peran, dan
sebagainya.
c.
Usia prasekolah
Usia sekolah di mulai pada umur 6-12 tahun. Menurut Erickson hasil
perkembangan pada masa ini dimana manusia mampu belajar, menciptakan, dan
menyelesaikan berbagai keterampilan baru dan pengetahuan.
Fase ini juga merupakan tahap yang sangat penting bagi pengembangan
social dan jika manusia mengalami perasaan yang belom terselesaikan, ketidak
cukupan kemampuan, dan inferioritas di antara teman-temannya, dia dapat
memiliki masalah serius dalam hal kompetensi dan harga diri. Ketika dunia
pergaulan meluas, yang paling signifikan adalah hubungan manusia dengan sekolah
dan lingkungan. Orang tua tidak lagi menjadi sumber otoritas lengkap mereka
seperti fase sebelumnya, meski keberadaannya masih di rasa penting. [2]
d.
Usia belajar
kelompok
Usia belajar kelompok adalah masa dimana anak mempelajari
dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih
tinggi
e.
Usia menjelajah
dan banyak bertanya.
Usia menjelajah adalah dimana anak-anak ingin mengetahui keadaan
lingkungannya, mekanisme, perasaan dan dapat menjadibagian dari lingkungannya,
sedangkan banyak bertanya merupakan salah satu cara anak-anak pada umumnya
dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan cara bertanya.
f.
Usia meniru dan
kreatif.
Usia meniru merupakan usia dimana anak-anak mudah sekali meniru
pembicaraan dan tindakan orang lain. Sedangkan usia kreatif adalah usia dimana
anak-anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain.[3]
C.
Tugas
perkembangan awal masa kanak-kanak
Tugas perkembangan adalah sesuatu yang bisa diduga timbul dan
konsisten pada atau sekitar periode tertentu dalam kehidupan individu
(Havighurst, 1953)konsep tugas perkembangan didasari asumsi bahwa perkembangan
manusia dalam masyarakat modern ditandai oleh serangkaian tugas dimana individu
harus belajar sepanjang hidupnya. Beberapa dari tugas perkembangan ini memiliki
kesamaan di masa kanak-kanan dan remaja, sedangkan yang timbul pada saat
manusia memasuki usia dewasa dan usia tua.[4]
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang
muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila
tugas itu dapat berhasil di tuntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan
dalam menuntaskan tugas. Sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidak
bahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan
masyarakat, dan kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau
keterampilan, yang dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia dan fase
perkembangannya.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa kanak-kanak yaitu sebagai
berikut:
1.
Belajar
berbicara
Belajar berbcara, yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan
menyampaikannya kepada orang lain dengan perantara suara itu. Untuk itu,
diperlukan kematangan otot-otot dan saraf dari alat-alat bicara,[5]
Berbicara pada anak
dimulai pada fase jeritan. Artinya, anak akan menggunakan jeritan sebagai cara
mengungkapkan perasaan. Secara bertahap, jeritan ini akan berubah hingga dapat
mengeja beberapa kata yang di dasarkan pada tempat keluarnya huruf tertentu di
dalam mulut. Pengejaan ini berubah menjadi kata-kata yang terbentuk dari dua
atau tiga huruf yang digunakan anak untuk menggantikan ungkapan yang panjang atau pendek untuk
mengungkapkan kebutuhannya. Selanjutnya, anak akan sampai pada fase penggunaan
ungkapan, baik secara benar maupun keliru.
Masa kanak-kanak adalah
masa-masa yang cocok untuk belajar bahasa. Bagi anak, pada fase-fase pertama,
hal ini merupakan permainan dan setahap demi setahap akan menjadi kebiasaan.
Dengan demikian, anak dapat menirukan suara-suara orang lain dan merasa senang
dengannya. Oleh karena itu, orang tua harus mengawasi fase ini dengan sangat hati-hati.
Usia anak 1-3 tahun
sangat penting untuk belajar bahasa. Usia tersebut merupakan masa bagi anak
untuk memulai meniru suara orang lain. Ia akan meniru dan mengulang-ngulang
kata yang diucapkan oaring dewasa. Oleh karena itu, orang tua harus berbicara
dengannya secara perlahan-lahan dan dengan kata-kata yang jelas serta
menggunakan kata-kata dan ungkapan yang tersusun sederhana dan mudah dipahami.
Contoh kata yang di ucapkan kata Ibu, Ayah dan benda-benda yang ada di
sekitarnya.[6]
2.
Belajar
membedakan jenis kelamin
Melalui
observasi anak dapat melihat tingkahlaku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda
antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, anak
dapat mengenal perbedaan pria dan wanita, anak menaruh perhatian besar terhadap
alat kelaminnya sendiri maupun orang lain. Agar pengenalan terhadap jenis
kelamin itu berjalan normal, maka orang tua perlu memperlakukan anaknya, baik
dalam memberikan alat mainan, pakaian, maupun aspek lainya sesuai dengan jenis
kelamin anak.
3.
Belajar mengadakan
hubungan Emosional selain dengan orang-orang terdekat
Anak mengadakan
hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya menggunakan berbagai cara,
yaitu isarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang diperoleh dalam
belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain, sedikit banyaknya akan
menentukan sikapnya di kemudian hari apakah ia bersikap bersahabat, bersikap
dingin, introvert, extrovert dan sebagainya. Misalnya, apa bila anak memperoleh
pergaulan dengan orang tuanya itu mennyenangkan, maka cenderung bersikap ramah
dan ceria.
4.
Belajar
membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk dan menggembangkan kata hati
Anak kecil
dikuasai oleh hedonisme naiv, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan
penderitaan dianggapnya buruk (hedonism adalah aliran yang menyatakan bahwa
manusia dalam hidupnya mencari kenikmatan dan kebahagiaan). Apabila anak
bertambah besar dia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan
salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya
memperhatikan kepentingan atau kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus
memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenak pengertian baik dan buruk,
benar dan salah ini dip e garuhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada
mulanya anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah apa yang di
perbolehkan itu berarti baik atau benar. Pengalaman ini merupakan permulaan
pembentukan kata hati. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasehat,
bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting
dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri tauladan dari orang tua dan
bimbingannya hal ini lebih baik dari pada penggunaan hukuman dan ganjaran,
meskipun dalam situasi tertentu masih tetap di perlukan.[7]
5.
Membentuk konsep-konsep
pengertian sederhana tentang kenyataan sisoal dan alam
Pada mulanya
dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang komplesk dan membinggungkan.
Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya.
Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk
kesimpula dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai cirri yang sama. Anak
belajar bahwa bayangan tertenru dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi
kebutuhanya di sebut” orang”, “ibu dan ayah”.
Anak belajar
bahwa benda-benda khusus dapat dikelompokkan dan di beri satu nama, seperti,
kucing, ayam, kambing, dan burung dapat di sebut binatang. Untuk mencapai
kemampuan tersebut (mengenal pengerian-pengertian) di perlukan kematangan
system saraf, pengalaman, dan bimbingan dari orang dewasa.[8]
D.
Emosi awal masa
kanak-kanak
Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak yaitu: marah, takut,
cemburu, iri, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan gembira.
Perkembangan emosi mencangkup sebagai berikut:
1
Menunjukkan dan
menanamkan perasaan
2
Memiliki
control emosi yang lebih baik.
3
Menunjukkan
selera humor
4
Sensitive
dengan tawaan dan kritikan
5
Menunjukkan
kekhawatiran berlebih, seperti kehilangan orang tua
6
Memperlihatkan
ketekunan
7
Menunjukkan
empeti yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
E.
Pola bermain
awal masa kanak-kanak
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosialyang dominan
pada awal masa anak-anak, sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya
di luar rumah bermain dengan teman-temannya disbanding terlibatdalam aktivitas
lain. Karena,itu, kebanyakan hubungan social dengan teman sebaya dalam masa ini
terjadi dalam bentuk permainan. Hetherington & Parke (1979) mendefinisikan
permainan sebagai suautu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan
semata-mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu
yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak-anak
proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya
(Sehwartzman,1978)[9]
F.
Jenis disiplin
awal masa kanak-kanak
1.
Disiplin
Otoriter
Ini merupakan disiplin radisional dan yang berdasarkan pada
ungkapan kino yang mengatakan bahwa”menghemat cambukan berarti memanjakan
anak”.’ Dalam disiplin yang bersifat otoriter, orang tua dan pengasuh yang
lain menetapkan peraturan-peraturan dan memberikan anak bahwa ia harus mematuhi
peraturan-peraturan tersebut. Tidak ada usaha untuk menjelaskan pada anak,
mengapa ia harus patuh dan padanya tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan
pendapat tentang adil tidaknya peraturan-peraturan atau apakah
peraturan-peraturan itu masuk akal atau tidak. Kalau tidak mengikuti peraturan,
ia akan di hokum yang seringkali kejam dank eras dan yang dianggap sebagai cara
untuk mencegah pelanggaran peraturan di masa mendatang. Alas an mengapa
pelanggaran peraturan oleh anak tidak pernah dipertimbangkan adalah bahwa ia
mengetahui peraturan itu dan sengaja melanggarnya, juga tidak perlu diberikan
hadiah karena telah mematuhi peraturan. Hal ini dianggap sebagai kewajibannya
dan tiap pemberian hadiah di pandang dapat mendorong anak untuk mengharapkan
sogokan agar melakukan sesuatu yang diwajibkan masyarakat.
2.
Disiplin yang
Lemah
Disiplin yang lemah berkembang sebagai proses terhadap disiplin
otoreter yang dialami oleh banyak orang dewasa dalam masa kanak-kanaknya.
Filsafat yang mendasari teknik disiplin ini adalah bahwa melalui akibat dari
perbuatannya sendiri anak akan belajar bagaimana berperilaku secara social/ dengan
demikian anak tidak di ajarkan peraturan-peraturan, ia tidak dihukum karena
sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku
social baik. Baik orang yang dewasa saat ini yang cenderung meninggalkan bentuk
disiplin ini karena tidak berhasil memenuhi tiga unsure penting dari disiplin.
3.
Disiplin
Demokratis
Kecenderungan untuk menyenangi disiplin yang berdasarkan
prinsip-prinsip demokratis sekarang meningkat. Prinsip demikian menekankan hak
anak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan di buat dan memperoleh
kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa
peraturan tidak adil. Sekalipun anak masih sangat muda tetapi daripadanya tidak
diharapkan perilaku patuh yang buta-butaan diusahakan agar anak mengerti apa
arti peraturan-peraturan dan mengapa kelompok social mengharapkan anak mematuhi
peraturan-peraturan itu. Dalam disiplin yang demokratis hukuman “disesuaikan
dengan kejahat” dalam arti diusahakan agar hukuman yang diberikan berhubungan
dengan kesalahan perbuatannya, tidak lagi diberikan hukuman badan. Penghargaan
terhadap usaha-usaha untuk menyesuaikan dengan harapan social yang tercakup
dalam peraturan-peraturan diperlibatkan dan pengakuan social.[10]
G.
Bahaya fisik
dan psikologis awal masa kanak-kanak
1.
Bahaya fisik
yang terjadi pada anak-anak yaitu:
a)
Penyakit,
karena vaksin terhadap sebagian penyakit anak-anak sekarang mudah didapat,
penykait yang diderita anak-anak biasanya gangguan-gangguan pada pencernaan.
b)
Kegemukan pada
anak-anak yang lebih besar dapat disebabkan kondisi kelenjar, tetapi lebih
sering disebabkan terlalu banyak makan.
c)
Bentuk tubuh
yang yang tidak sesuai, anak perempuan yang gayanya seperti laki-laki dan anak
laki-laki seperti perempuan sering kali dicemooh oleh teman-temannya sebayanya.
d)
Kecelakaan,
sekalipun tidak meninggalkan bekas-belkas fisik, akan tetapi kecelakaan dapat
meninggalkan bekas psikologis.
e)
Kesanggupan
yaitu, jika anak mulai membanding-bandingkan diri dengan teman-teman sebayanya,
ia sering merasa canggung dan kaku untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh
temannya
2.
Bahaya
psikologi pada anak-anak yaitu:
a)
Bahaya dalam
berbicara
b)
Bahaya emosi
c)
Bahaya sosial
d)
Bahaya bermain
e)
Bahaya moral
f)
Bahaya minat
g)
Bahaya dalam
hubungan keluarga[11]
h)
Bahaya dalam
perkembangan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth B.Hurlock,1980, Psikologi
Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupan,edisi 5 jakarta:Erlangga
Khairil,2011,
Psikologi pendidikan ,bandung: Alfabeta
Rosleny
Marliani. 2015 Pikologi perkembangan,Bandung: Pustaka setia
Syamsu yusuf, 2012 psikologi
perkembangan anak dan remaja,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012
Desmita,
2002 Psikologi perkembangan Bandung:
Rosda Karya, 2002
Hurlock,E.B
2015, psikologi perkembangan. Jakarta:
airlangga.
Ija
Suntana, Etika Pendidikan Anak, Bandung: Pustaka Karya
[1] Hurlock,E.B
(1980) psikologi perkembangan. Jakarta: airlangga.
[2] Khairil,Psikologi
pendidikan , (bandung: Alfabeta, 2011)halm 72-73
[3] Ibid hlm 69
[4] Ibid halm 69
[5] Syamsu yusuf, psikologi
perkembangan anak dan remaja,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)hlm 66
[6] Ija Suntana, Etika
Pendidikan Anak, (Bandung: Pustaka Karya, 2015) hlm 75
[7] Syamsu Yusuf,
Op.cit hlm 68-69
[8] ibid
[9] Desmita,
Psikologi perkembangan (Bandung: Rosda Karya, 2002) hlm 141-143
[10] Elizabeth
B.Hurlock, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupanLedisi 5
jakarta:Erlangga,1980)hlm 125
[11]
Rosleny Marliani.
Pikologi perkembangan,( Bandung: Pustaka setia, 2015). hllm 148-149
Tidak ada komentar:
Posting Komentar