Dosen pengampu: Hasnawati, S.Pd. I., M.M. PGMI/VII/A
AKHIR MASA KANAK-KANAK
|
|
Disusun oleh
kelompok III:
Muhammad Yusra
Winda Anggriaini
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAHTINGGI AGAMA ISLAM AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
AKHIR MASA KANAK-KANAK
Masa
akhir kanak-kanak dimulai dari usia 6 tahun sampai kira-kira usia 12 tahun atau
sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Selama setahun atau
dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol
dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai-nilai, dan
perilaku. Menjelang berakhirnya periode ini anak mempersiapkan diri secara
fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja. Anak pada masa ini di golongkan
sebagai anak usia sekolah karena anak sudah memasuki dunia sekolah yang lebih
serius, walaupun pembelajaran di sekolah
tetap harus disesuaikan dengan dunia anak-anak yang khas. Masa ini juga
ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku, yang membuat anak lebih
mampu dan siap untuk belajar dibandingkan sebelumnya.
A. Ciri-ciri
akhir masa kanak-kanak
Hurlock menyatakan orang tua umumnya
menganggap masa ini merupakan usia yang menyulitkan,
karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh
teman-teman sebayanya. Juga disebut usia
tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam
penampilan, kamarnya sangat berantakan, dan tidak bertanggung jawab terhadap
pakaian dan benda-benda miliknya, terutama pada anak laki-laki. Selain itu,
disebut usia bertengkar karena anak
sering bertengkar dengan saudara-saudaranya.
Para pendidik menyebut sebagai usia sekolah dasar, yaitu saat anak
memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan berbagai keterampilan di sekolah dasar.
Masa ini merupakan masa pembentukan kebiasaan dorongan berprestasi yang
cenderung menetap sampai dewasa sehingga disebut juga masa kritis dalam
dorongan berprestasi.
Psikologi menyebutkan masa ini usia berkelompok karena anak ingin
diterima oleh teman-teman sebayanya sebagai anggota kelompok dan saat anak
ingin menyesuaikan diri dengan standar kelompok dalam penampilan, berbicara dan
perilaku. Disebut juga usia kreatif karena
saat pe nentuan apakah anak akan menjadi
pencipta karya yang konformis atau baru dan orisinal. Pada masa ini anak
mempunyai minat dan kegiatan bermain yang beragam atau luas sehingga disebut usia bermain.
B. Tugas
perkembangan masa akhir kanak-kanak
Menurut Havighurst, tugas-tugas
perkembangan pada masa kanak-kanak, yaitu:
1. Belajar
kemungkinan-kemungkinan fisik/ketangkasan fisik.
2. Membentuk
sikap sehat terhadap dirinya sendiri sebagai pribadi yang sedang tumbuh dan
berkembang.
3. Belajar
peran jenis kelamin.
4. Belajar
bergaul dengan teman-teman sebayanya.
5. Mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam
membaca, menulis, dan menghitung.
6. Mengembangkan
hati nurani atau kata hati.
7. Belajar
membentuk sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga di lingkungannya. [1]
C. Pola
Bermain akhir masa kanak-kanak
Kompleksitas bermain membuat
defenisi bermain menjadi sangat sulit
dan secara umum dianggap bahwa tidak ada satu pun defenisi bermain yang
diperlukan atau memadai. Salah satu kriteria yang paling disepakati untuk
mendefenisikan bermain adalah perilaku yang tampaknya tidak memiliki tujaun
langsung yang jelas. Menurut defenisi ini, anak-anak kurang perduli pada hasil
perilaku tersebut ketimbang proses-proses perilaku itu sendiri. Dala istilah
disposisional, yang penting adalah “cara dan bukan tujuan”. Meskipun, seperti
akan anda baca dalam bagian berikutnya, ini tidak berarti bahwa bermain tidak
memiliki tujuan, hanya saja tujuannya tidak tersurat atau diketahui secara
sadar oleh pelakunya.[2]
Pada masa ini, waktu bermain sudah lebih
sedikit dibanding saat sebelumnya. Tetapi mengingat pentingnya bermain bagi
perkembangan fisik, sosial dan emosi anak, maka anak perlu diberi waktu untuk
bermain yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Lever menyatakan bahwa selama
bermain anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial sehingga
memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat
anak-anak.
Saat ini anak suka bermain konstruktif,
menjelajah, mengumpulkan/ mengoleksi sesuatu, permainan dan olahraga, serta hiburan
seperti membaca komik, mendengarkan radio, menonton film/televisi, atau
melamun/berkhayal. Bermain juga merupakan salah satu cara bagi anak untuk
mengasah kepekaannya melalui kelompok pergaulannya. Saat bermain dengan
temannya, anak mulai belajar memahami sudut padang orang lain. Menjadi bagian
dari kelompok dan lingkungan tertentu, menunggu bagiannya untuk beraksi, tidak
selalu menang dan menjadi yang terbaik, merupakan cara anak mempelajari hal
yang selama ini mungkin tidak diperhatikannya. Hal ini tentunya sulit, tetapi
kegiatan ini member kesempatan kepada anak untuk belajar berbagi. Pada saat
anak duduk di kelas 4-5 Sekolah Dasar, anak akan memperoleh kepuasan yang lebih
besar jika bermain dengan teman yang seusia, berminat sama, dan dari jenis kelamin
yang sama.
Games memiliki peran yang lebih kuat
dalam kehidupan kehidupan anak-anak usia sekolah dasar. Dalam satu studi
dinyatakan bahwa jumlah/frekuensi terjadinya permainan games yang paling tinggi
terjadi di antara usia 10-12 tahun. Setelah usia 12 tahun, popularitas games
menurun.
Saat ini permainan games tidak hanya
dilakukan dalam kegiatan nyata, tetapi juga di computer, baik video games maupun game online. Hal ini dimungkinkan terjadi karena sekarang ini
hampir semua keluarga di Indonesia, terutama yang di kota-kota besar, mempunyai
computer dan banyak anak-anak usia sekolah dasar yang sudah sangat paham dengan
peralatan ini. Kekhawatiran berbagai
pihak adalah anak-anak akan lebih asik bermain sendiri sehingga kurang menjalin
interaksi dengan orang-orang disekelilingnya, terutama dengan teman-teman
sebayanya. Yang perlu diperhatikan adalah permainan games di computer membuat anak sedikit bahkan tidak mempunyai
interaksi dengan orang lain, mengganggu jadawal belajar dan tidur anak karena
terlalu asik bermain. Selain itu yang membahayakan juga karena ada games yang tema permainannya cenderung
bersifat perilaku yang penuh kekerasan/agresivitas. Bahkan ada beberapa games yang dilaporkan menyelipkan
perilaku porno, yang tentunya semua itu dapat memengaruhi perkembangan anak,
apalagi biasanya mereka bermain tanpa didampingi orangtua.
Memang berbagai pihak tidak bisa
memungkiri bahwa games juga ada sisi
positifnya. Menurut Oppenheim tahun 1984, ada beberapa nilai positif dari
computer dan video games. Alat
permainan ini memang menarik bagi anak-anak dan dapat mengembangkan koordinasi
tangan dan mata. Karena anak dirangsang
untuk melihat dan langsung bereaksi dengan menekan tombol-tombol yang tepat.
Selain itu, beberapa peneliti menyatakan bahwa permainan ini dapat meningkatkan
tentang perhatian dan konsentrasi anak. Mengingat sifatnya yang kompetitif,
alat permainan ini juga dapat menjadi ajang untuk kompetisi diri, yaitu melihat
seberapa jauh kemampuannya sendiri.[3]
D. Bahaya
fisik dan psikologis pada masa akhir
kanak-kanak
Bahaya pada akhir masa kanak-kanak dapat
berbentuk bahaya fisik dan psokologis.
1. Bahaya
Fisik
Bahaya
fisik pada masa akhir kanak-kanak dapat berbentuk sebagai berikut:
a. Penyakit
Karena vaksin terhadap sebagain penyakit
anak-anak sekarang mudah didapat, penyakit yang diderita anak-anak biasanya
salesma dan gangguan-gangguan pencernaan yang jarang menimbulkan akibat fisik
yang lama.
b. Kegemukan
Pada anak-anak lebih besar dapat
disebabkan kondisi kelenjar, tetapi lebih sering disebabkan terlalu banyak
makan, terutama karbohidrat.
c. Bentuk
tubuh yang tidak sesuai
Anak
perempuan yang tubuhnya kelaki-lakian dan anak laki-laki yang bentuk fisiknya
seperti perempuan sering dicemooh teman-temannya.
d. Kecelakaan
Sekalipun tidak meninggalkan bekas-bekas
fisik, kecelakaan dapat menyebabkan bekas psikologis.
e. Kecanggungan
Jika anak mulai membanding-bandingkan
diri dengan teman-teman seusianya, ia sering merasa canggung dan kaku untuk
melakukan hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman.
2. Bahaya
psikologis
a. Bahaya
dalam berbicara
Ada empat bahaya berbicara yang umum
terdapat pada akhir masa kanak-kanak, yaitu:
1) Kosakata
yang tidak berkembang
2) Kesalahan
dalam berbicara
3) Kesulitan
berbicara
4) Pembicaraan
yang bersifat egosentris
b. Bahaya
emosi
Anak akan dianggap tidak matang oleh
teman-teman sebaya ataupun orang-orang dewasa jika ia masih menunjukkan pola
ekspresi emosi yang kurang menyenangkan, seperti amarah yang sangat berlebihan.
Apabila emosi yang buruk seperti marah dan cemburu masih sangat kuat, ia akan dijauhi
oleh teman-temannya.
c. Bahaya
Sosial
Bahaya sosial mencakup sebagai berikut:
1) Anak
yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman-teman akan kurang mempunyai
kesempatan untuk belajar bersifat sosial.
2) Anak
yang terkucil, yang tidak memiliki persamaan dengan kelompok teman-teman akan
menganggap dirinya “berbeda” dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk
diterima oleh teman-teman.
3) Anak
yang mobilitas sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan untuk diterima
dalam kelompok yang sudah terbentuk.
4) Anak
yang berasal dari kelompok rasa atau kelompok agama yang berbeda sering terkena
prasangka.
5) Para
pengikut yang ingin menjadi pemimpin akan menjadi anak yang penuh dengki dan
tidak puas.
d. Bahaya
Bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan
sosial akan merasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan
olahraga yang penting untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang
berkhayal atau melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan menjadi anak penurut
yang kaku.
e. Bahaya
Moral
Ada enam bahaya yang dikaitkan dengan
perkembangan sikap moral dan perilaku anak-anak, yaitu:
1) Perkembangan
kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau berdasarkan konsep media massa
tentang benar dan salah yang tidak serupa dengan kode orang dewasa.
2) Tidak
berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam terhadap perilaku.
3) Disiplin
yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang sebaiknya
dilakukan.
4) Hukuman
fisik merupakan contoh agresivitas anak.
5) Menganggap
dukungan teman-teman terhadap perilaku yang salah begitu memuaskan sehingga
perilaku itu menjadi kebiasaan.
6) Tidak
sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.
f. Bahaya
yang menyangkut Minat
Ada dua bahaya umum berkaitan minat masa
akhir kanak-kanak, yaitu:
1) Tidak
berminat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman-temannya.
2) Mengembangkan
sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai bagi dirinya, seperti
kesehatan dan sekolah.
g. Bahaya
Hubungan keluarga
Hubungan dengan anggota-anggota keluarga
mengakibatkan dua hal, yaitu melemahkan ikatan keluarga dan menimbulkan
kebiasaan pola penyesuaian yang buruk serta masalah-masalah yang dibawa ke luar
rumah.
h. Bahaya
Perkembangan kepribadian
Bahaya dalam perkembangan kepribadian,
antara lain:
1) Perkembangan
konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri.
2) Egosentrisme
merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrime merupakan hal yang
serius karena memberikan rasa penting diri yang palsu.[4]
DAFTAR PUSTAKA
Soetjiningsih,
Christiana Hari. 2014. Perkembangan Anak
Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir. Jakarta: Prenada.
Upton, Penney. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta:
Erlangga.
Marliani, Rosleny. Psikologi perkembangan. Bandung: Pustaka Setia.
[1]Christiana
Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak
Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2014).,
hlm. 248-249.
[2]Penney
Upton, Psikologi Perkembangan, (Jakarta:
Erlangga, 2012),. Hlm. 130.
[3]Christiani
Hari Soetjiningsih., Op. Cit. hlm.
268-271.
[4]Rosleny
Marliani, Psikologi Perkembangan, (Bandung:
Pustaka Setia)., hlm.149-151.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar