ASPEK PERKEMBANGAN ANAK
(KECERDASAN MAJEMUK)
(Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak)
A.
PENGERTIAN
KECERDASAAN MAJEMUK
Kecerdasan Majemuk adalah kemampuan memecahkan masalah dan
menciptakan produk yang bernilai budaya (anak yang bisa menghasilkan sesuatu
dan bisa dinikmati dalam kehidupan manusia). Secara umum kecerdasan ini
diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir, bertindak dan berperilaku
sesuai dengan apa yang dihadapi.[1]
1.
Perkembangan
kecerdasan (inteligensi)
a.
Makna Kecerdasan
atau Daya Pikir
Kecerdesan atau daya pikir
berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Pertumbuhan saraf yang telah
matang akan diikuti oleh fungsi nya dengan baik.
Arthur Jensen (Amin, dkk.2006)
mengemukakan bahwa kecerdasan itu diwariskan (diturunkan), sedangkan lingkungan
dan budaya hanya mampunyai peranan kecil dalam kecerdasan.
Perkembangan lebih lanjut tentang
perkembangan kecerdasan ditunjukan pada perilaku seseorang, yaitu tindakan
menolak dan memilih sesuatu. Tindakan tersebuttelah mendapatkan proses
pertimbangan atau lebih dikenal dengan proses analisis, evaluasi,sampaidengan
kemampuan menarikkesimpulan dan keputusan.
b.
Karakteristik Perkembangan
Intelektual
Jean
piaget (Bybee dan Ssund, 1982) membagi karakteristik intelek menjadi dua bagian
yaitu:
1)
Karakteristik
tahap sensori-motoris, ditandai dengan karakteristik berikut:
a)
Segala
tindakannya masih bersifat naluriah.
b)
Aktivitas
pengalaman didasarkan pada pengalaman indra.
c)
Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman,
tetapi belum mampu untuk mengategorikan pengalaman.
d)
Individu mulai
belajar menangani objek-objek konkretmelalui skema-skema sensori-motorisnya.
2)
Karakteristik
tahap praoperasional, ditandai dengan karakteristik berikut.
a)
Individu telah
mengombinasikan dan menstransformasikan berbagai informasi.
b)
Individu telah
mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide.
c)
Individu telah
mengerti adanya hubungan sebab-akibat dalam suatu peristiwa konkret, meskipun
logik hubungan sebab-akibat belum lengkap.
d)
Cara berpikir
individu bersifat egosentris, yang ditandai oleh tingkah laku:
(1)berpikir imajinatif:
(2)berbahasa egosentris;
(3)memiliki aku yang tinggi;
(4)menampakan dorongan ingin tahu yang tinggi;
(5)perkembangan bahasa mulai cepat.
c.
Perkembangan
Intelektual
Jean piaget (Bybee dan sund, 1982)
membagi perkembangan intelek menjadi empat tahapan sebagai berikut.
1)
Tahap
sensori-motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2tahun. Pada tahap ini anak berada
dalam masa yang ditandai oleh kecenderung sensor-motoris yang sangat jelas.
Segala perbuatan merupakan perwujuan dari proses pematangan
aspeksensori-motoris tersebut.
2)
Tahap
praopesional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga
tahap intuisi sebab perkembangan
kognitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana
intuitif.
3)
Tahap
operasional konkret
Tahap ini berlangsung antara
usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas
konkret dan rasa ingin tahunya mulai berkembang.
4)
Tahap
operasional formal
Tahap ini dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke atas. Pada masa
ini, anak telah mampu mewujudkan keseluruhan dalam pekerjaannya dan moralnya
juga telah berkembang sehingga mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Beberapa
defenisi diatas, inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir secara
abstrak, memecahkan masalah dengan menggunakan simbol-simbol verbal,dan
kemampuan untuk belajar dari dan menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman
hidup sehari-hari.[2]
B. CONTOH KONSEP KECERDASAN MAJEMUK
1.
Jenis- Jenis
Kecerdasan Majemuk
Berikut ini 9 macam kecerdasan yang
telah dipaparkan oleh Gardner yaitu:
a.
Kecerdasan
Linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik untuk
memengaruhi maupun memanipulasi. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan
linguistik bermanfaat untuk: berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis.
b.
Kecerdasan
Logis- Matematis yaitu melibatkan ketrampilan mengolah angka atau kemahiran
mengunakan logika atau akal sehat. Dalam kehidupan sehari-hari bermanfaat untuk
: menganalisa laporan keuangan, memahami perhitungan utang nasional, atau
mencerna laporan sebuah penelitian.
c.
Kecerdasan Visual
dan Spasial yaitu melibatkan kemampuan seseorang untuk memisualisaikan gambar
di dalam kepala (dibayangkan) atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga
dimensi. Kecerdasan ini sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan
sehari-hari, misalnya: saat menghias rumah atau merancang taman, menggambar
atau melukis, menikmati karya seni.
d.
Kecerdasan
Musik yaitu melibatkan kemampuan menyanyikan lagu, mengingat melodi musik,
memunyai kepekaan akan irama, atau sekedar menikmati musik. Manfaat dari
kecerdasan ini dapat dirasakan dalam banyak hal
dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: saat menyanyi, memainkan alat
musik, menikmati musik di TV/ Radio.
e.
Kecerdasan
Interpersonal yaitu melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja dengan
orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal misalnya: kemampuan berempati,
kemampuan memanipulasi, kemampuan “membaca orang”, kemampuan berteman.
f.
Kecerdasan
Intrapersonal adalah kecerdasan memahami diri sendiri, kecerdasan untuk
mengetahui “siapa diri saya sebenarnya”, untuk mengetahui “apa kekuatan dan
kelemahan saya”. Ini juga merupakan kecerdasan untuk bisa merenungkan tujuan
hidup sendiri dan untuk memercayai diri sendiri.
g.
Kecerdasan
Kinestetik adalah kecerdasan seluruh tubuh dan juga kecerdasan tangan. Dalam
dunia sehari-hari kecerdasan ini sangat dibutuhkan, misalnya: membuka tutup
botol, memasang lampu di rumah, memerbaiki mobil, olah raga, dan berdansa.
h.
Kecerdasan
Naturalis yaitu melibatkan kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar
kita. Dalam kehidupan sehari-hari kecerdasan itu sangat dibutuhkan untuk :
berkebun, berkemah, atau melakukan proyek ekologi.
i.
Kecerdasan
Eksistensial adalah kemampuan dan kepekaan seseorang untuk menjawab
persoalan-persoalan terdalam mengenai keberadaan manusia, misal sering muncul
pertanyaan dalam diri sendiri mengapa aku ada, apa makna dari hidupku ini,
bagaimana seseoramg bisa mencapai tujuan hidup yang sejati, mengapa seseorang
harus mati, bila sudah mati ke mana.
2.
Ciri-Ciri
Kecerdasan Majemuk
a.
Kecerdasan Linguistik
Seorang anak
yang mempunyai kecerdasan linguistik memiliki kepribadian yaitu peka terhadap
bahasa, dapat berbicara dengan teratur dan sistematis, memiliki penalaran yang
tinggi. Disamping itu juga mampu mendengarkan, membaca dan menulis, lancar
dalam mengucapkan kata-kata dan suka bermain kata-kata serta memiliki ingatan
perbendaharaan kata yang kuat.
b.
Kecerdasan
Logis- Matematis
Anak yang
memunyai kecerdasan logis matematis memiliki ciri-ciri kepribadian yaitu anak
suka berpikir abstrak dan suka akan keakuratan, menikmati tugas
hitung-menghitung. Memecahkan soal-soal dan computer dan suka melakukan
penelitian dengan cara logis, catatan
tersusun rapi dan sistematis.
c.
Kecerdasan
Visual dan Spasial
Ciri
kepribadian yang menonjol dalam diri anak yang memiliki kemampuan
visual-spasial adalah anak dapat berpikir dengan menciptakan sketsa atau
sambar, mudah sekali membaca peta dan diagram, mudah ingat bila melihat gambar,
memiliki cita warna tinggi dan mampu menggunakan semua panca indra untuk
melukiskan sesuatu.
d.
Kecerdasan Musik
Beberapa sifat
yang nampak dalam diri seorang anak yang memiliki kecerdasan musik adalah anak
peka terhadap nada, irama dan warna suara. Peka terhadap nuansa emosi suatu
musik dan peka terhadap gubahan musik yang bervariasi dan biasanya sangat
spiritual.
e.
Kecerdasan Interpersonal
Sifat-sifat
yang menonjol dalam diri orang anak yang memiliki kecerdasan interpersonal
adalah anak ahli dalam berunding, pintar bergaul dan mampu membaca niat orang
lain serta menikmati saat-saat bersama orang lain. Memiliki banyak teman,
pintar berkomunikasi, suka dengan kegiatan kelompok, gemar bekerja sama dan
menjadi mediator serta pandai membaca situasi.
f.
Kecerdasan Intrapersonal
Sifat-sifat
yang dimiliki oleh anak yang memunyai kecerdasan intrapersonal adalah anak peka
terhadap nilai-nilai yang dimiliki, sangat memahami diri, sadar betul emosi
dirinya, peka terhadap tujuan hidupnya, mampu mengembangkan kepribadiannya,
bisa memotivasi diri sendiri, sangat sadar akan kekuatan dan kelemahanannya.
g.
Kecerdasan Kinestetik
Ciri-ciri
kepribadian anak dengan kecerdasan kinestetik adalah anak dapat bersikap rileks, suka olah raga fisik dan
suka menyentuh. Anak ahli bermain peran, belajar dengan bergerak-gerak dan
berperan serta dalam proses belajar.
Selain itu anak juga sangat peka dengan kondisi lingkungan fisik,
gerak-gerik tubuh terlatih dan terkendali dan suka bermain dengan sesuatu benda
sambil mendengarkan orang lain berbicara dan sangat berminat dengan bidang
mekanik.
h.
Kecerdasan Naturalis
Sifat-sifat
yang dimiliki anak dengan kecerdasan naturalis adalah anak suka dengan alam
sekitar, lebih senang berada di alam terbuka daripada di ruangan dan suka
berpetualang menjelajah hutan. Anak bisa marah besar jika ada orang membantai
binatang langka, merusak dan membakar hutan, mencemari laut dan sungai sehingga
menimbulkan kematian flora dan fauna serta lebih suka mengkonsumsi obat dan
jamu trasional daripada pabrik. Anak juga lebih senang menggunakan bahan yang
alami dan tidak menimbulkan polusi lingkungan.
i.
Kecerdasan
Eksistensial
Sifat-sifat
yang dimiliki seorang anak dengan kecerdasan Eksistensial adalah anak suka bertanya soal kebenaran dan
inti persoalan, kritis, suka merenung dan melakukan refleksi diri serta senang
berdiskusi mengenai hakekat hidup.[3]
C. STRATEGI PENGAJARAN KECERDASAN MAJEMUK
Untuk memaksimalkan proses pembelajaran saat di kelas diperlukan
strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kecerdasan majemuk yang
dimiliki oleh masing-masing anak. Strategi pembelajaran yang tepat akan sangat
menolong anak menangkap pelajaran dengan baik.
Saat mengajar anak dengan kecerdasan linguistik, metode yang
digunakan adalah dengan bercerita, curah gagasan (brainstorming) dan dengan
tape recorder atau menulis jurnal. Sedangkan anak yang memiliki kecerdasan
logis- matematis yang digunakan adalah dengan kalkulasi dan kuantifikasi,
klasifikasi dan kategori atau penalaran ilmiah.
Sedangkan anak dengan kecerdasan visual dan spasial strategi
pembelajaran dengan visualisasi,
penggunaan warna, gambar dan sketsa gagasan serta simbol grafis. Anak yang memiliki kecerdasan
musik mengajarnya dengan irama, lagu, rap, senandung dan konsep musikal serta
dengan musik suasana. Anak dengan kecerdasan interpersonal dapat belajar dengan
barbagi rasa dengan teman sekelas, kerja kelompok, permainan dan simulasi.
Apabila mengajar anak dengan kecerdasan intrapersonal dapat
menggunakan refleksi, hubungan materi dengan pengalaman pribadi, waktu memilih
dan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan serta perumusan tujuan. Jika anak memiliki
kecerdasan kinestetik dapat belajar dari
teater kelas, konsep kinestetis dan peta tubuh. Anak yang memiliki kecerdasan
naturalis dapat belajar dengan jalan-jalan di alam terbuka dan melihat ke luar
jendela serta tanaman sebagai dekorasi atau membawa hewan piaraan di kelas.
Sedangkan anak dengan kecerdasan eksistensial untuk
mengembangkannya yaitu dengan mendengarkan kotbah, membaca buku-buku rohani ,
filsafat, buku theologia, mengadakan refleksi diri, menghadiri upacara
kematian, diskusi dengan ahli filsafat dan theolog, mengikuti reatreat dan
dinamika kelompok.[4]
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Bandung:
Alfabeta
Desmita. 2015. Psikologi
Perkembangan Bandung: Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar