Dosen Pengampu: Hasnawati, S.pd.I., M.M Tugas Kelompok V
ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN KOGNITIF)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK
Di Susun Oleh :
Nama :-Hernawati (1209.15.07671)
-Sri Lestari (1209.15.07693)
Prodi : PGMI (A)
S1
Semester : VII(Tujuh)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2018/2019
A.
Aspek
Perkembangan Anak ( Perkembangan kognitif)
1.
Pengertian
Perkembangan Kognitif
Kognitif
adalah proses berfikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai,
dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan
dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai
minat terutama sekali ditujukan kepadda ide-ide belajar.[1]
Perkembangan
kognitif adalah salah satu aspek pertumbuhan manusia yang berkaitan dengan
pengertian (pengetahuan). Semua proses psikologis yang berkaitan dengan indra
mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Menurut Myers (1996), “cognition refers to all the mental
aktivities associated with thinking, knowing and remembering.” Pengertian
yang hamper senada juga diberikan oleh Margaret W. Matlin (1994), yaitu: “cognition, or mental activity, involves the
acquisition, storage, retrieval, and use of
knowledge.” Dalam Dictionary of Psychology karya Drever, dijelaskan bahwa “kognisi adalah
istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepi, imajinasi,
penangkapan makna, penilaian dan penalaran” (Kuper & Kuper, 2000), kemudian
dalam Dictionary of Psychologykarya Chaplin
(2002), dijelaskan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk
pengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat, mempperhatikan, memberikan,
menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai. Secara
tradisional, kognisi ini dipertentangkan dengan konasi (kemauan) dan dengan afeksi
(perasaan).
Dari
beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa kognitif adalah sebuah
istialah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental
yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang
memungkan sesorang memperoleh pengetahuaa, memecahkan masalah, dan merencanakan
masa depan, atau semua proses psokologis yang berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan,
menilai, dan memikirkan lingkungannya. [2]
Pada
usia ini, cara berfikir anak ditandai dengan kreativitas, bebas, dan penuh
imaginasi/daya khayal. Hal ini tampak
pada gambar-gambar yang dibuat, missal: menggambar langit dengan warna hijau,
pohon warna ungu, dan mobil berjlan di atas awan.
Perkembangan
kognitif merupakan perubahan kemampuan berfikir atau intelektual. Seperti juga
kemapuan fisik, banyak ulama Islam membagi perkembangan kognitif berdasarkan
empat periode, yang diturunkan dari ayat berikut ini:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah,
kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian
Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat
itu lemah (kembli) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan
Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Al-Ruum [30]:54)
a. Periode
Perkembangan
Periode ini adalah tahap dimana
kemampuan berfikir manusia mengalami peningkatan yang cukup signifikan,
terutama pada masa awal kelahirannya.Pada tahap ini kemampuan berfikir manusia
berkembang sampai mencapai kemaatangan yang sejalan dengan pertumuhan otak
manusia secara fisiologis.
b. Periode
Pencapaian Kematangan
Penalaran orang dewasa semakin
berkembang, karena mereka lebih berpengalaman dan banyak belejar. Mereka dapat
berfikir tentang sesuatu melaui proses berfikir logis dan abtraksi yang lebih
kaya. Dengan meningkatnya usia seseorang menjadi lebih memahami beberapa konsep
abstrak, seperti keadilan, kebenaran,
dan hak asasi.
c. Periode
Tengah Baya
Pada usia 40 tahun, manusia memasuki
usia dengan kematangan pemikiran yang lebuh baik. Pengalaman yang mereka lalui
semakin banyak, sehingga dengan banyaknya belajar mereka lebih memiliki
kebijaksanaan.
d. Periode
Lanjut Usia
Pada periode lanjut usia, terjadi
berbagai penurunan kemampuan berfikir. Mereka juga lebih banyak mengingatmasa
lalu dan sering kali melupakan apa yang baru diperbuatnya.[3]
2.
Fase-fase
Perkembangan Kognitif
a.
Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Salah
satu teori perkembangan kognitif yang terkenal yaitu dari Jean Peaget
(1896-1980). Piaget membagi menjadi empat tahap yang masing-masing memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1)
Tahap Sensori-Motorik (0-2 tahun),
karakteristiknya:
a) Intelegensi
tampak dalam bentuk aktivitas motoric sebagai respons stimulasi sensorik.
b) Awalnya
refles, kemudian ada diferensiasi yang jelas antara subjek dan objek.
c) Terjadinya
permanensi objek.
d) Ada
proded desentrasi.
2)
Tahap Pra Operasional (2-7 tahun), karaskteritiknya:
a) Penguasaan
bahasa yang sisrematis.
b) Permainan
simbolis.
c) Imitasi
(tidak langsung).
d) Bayangan
dalalm mental.
e) Berfikir
egosentris.
f) Centralized (memusat).
g) Irreversible(tidak
dapat dibalik).
h) Terarah
statis.
3)
Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
a) Egosentris
berkurang.
b) Desentrasi
bertambah.
c) Reversibilitas.
d) Aktivitas
logis (tetapi konkrit).
e) Seriasi
(mengatur secara serial).
f) Klasifikasi.
g) Konservasi.
4)
Tahap Operasional Formal (11 tahun ke
atas)
a) Hipotesis
dedukatif.
b) Akomodatif
dan fleksibel.
c) Berfikir
proposisioanal.
d) Berfikir
kombinatoris.[4]
b. Perkembangan
Kognitif Masa Kanak-kanak Awal (2-7 tahun)
1) Teori Piaget
Berdasarkan
tahap perkembangan kognitif Piaget, maka pada masa kanak-kanak awal ini ada
pada tahap pra-operasional.Disebut pra-operasional karena pada masa ini anak
bekum siap untuk terlibat dalam operation
atau manipulasi mental yang mensyaratkan pemikiran logis.
Menurut
Piaget, pada tahap ini pemikiran anak makin kompleks dan mampu menggunakan
pemikiran simbolis. Pada berfikir simbolis, anak mengembangkan kemampuan unntuk
membayangkan secara mentalsuatu objek yang tidak ada.Kemampuan untuk berfikir
simbolis semacam itu disebut fungsi simbolis. Anak-anak prasekolah menunjukkan
fungsi simbolis melalui imitasi tertunda (deffered
imitation), bermain sandiwara (pretend
play), dan kemampuan menggunkan system simbol (kata) untuk komunikasi
(Papalian, dkk., 2008).
Piaget
membagi perkembangan kognitif terhadap praoresional ini menjadi dua bagian,
yaitu:
a) Umur
2-4 tahun, dicirikan oleh perkembanganpemikiran simbolis, yaitu berupa gambaran
dan bahasa ucapan.
b) Umur
4-7 tahun, dicirikan oleh pemikiran intuitif.
2) Teori Pemrosesan Informasi
a) Perhatian
Kemampuan
anak untuk memusatkan perhatian berubah secara signifikan selama tahun-tahun
prasekolah. Bila sebelum usia dua tahun anak sangat mudah beralih satu kegiatan
ke kgiatan lain, maka anak prasekolah sudah mampu memusatkan perhatian dan
pikirannya dalam rentang waktu yang agak panjang pada suatu kegiatan, misalnya
saat bermain balok-balok kecil (permainan lego), bermain boneka, dan menonton
televise. Namun perhatian mereka masih terpusat pada hal-halyang menarik
perhatian dan bukan pada dimmensiyang relevan untuk memecahkan masalah atau
mengerjakan tuggas dengan baik.[5]
b) Memori
Ingatan
Penelitian
Nancy Myers dkk.Pada 1987 (Santrock, 1995) menemukan bahwa pengalaman seorang
bayi berusia enem bulan ternyata masih diingat oleh bayi hingga dua tahun
kemuudian apabila peristiwanya diulang kembali.
c) Analisis
Tugas
Menurut
para pakat piskologi pemrosesan informasi, apabila tugas-tugas dibuat menarik
dan sederhana, maka ada kemungkinan anak-anak menunjukkan kematangan kognitif
yang lebih besar dari pada yang dikemukakan oleh Piaget.
d) Pikiran
Anak
Kesadaran
bahwa pikiran itu ada, ternyata suudah dimiliki oleh anak walaupun masih
terbatas.Perkembangan pengetahuan pertama adalah mengetahui bahwa pikiran itu
ada. Pada usia 2-3 tahun, pikiran anak-anak mengacu pada kebutuhan, emosi, dan
keadaan mentalnya.
3) Teori Lev Vygotsky
Sama
halya dengan Pieget, Vygotsky juga menekankan bahwa anak-anak secara aktif
menyusun pengetahuan mereka sendiri.Tetapi menuurut Vygotsky, fungsi mental
memiliki koneksi sosial. Anak-anak mengembangkan konsp-konsep lebih sistematis,
logis dan rasional sebagai akibat bercakap-cakap dengan orang lain yang ahli. [6]
3.
Aspek-aspek
Perkembangan Kognitif
Piaget
dalam Dahar(1989-156) mengemukakan ada
empat aspek yang besar yang ada hubungannya dengan perkembangan kognitif.
Keempat aspek tersebur, yaitu: (1)
Pendewasaan; (2) Pengalaman fisik; (3) Interaksi Sosial; (4) Ekuilibrasi.
Pendewasaan
merupakan pengembangan dari susunan syaraf, misalnya kemampuan mengepal dan
menendang disebabkan oleh kematangan yang sudah dicapai oleh sususan syaraf
dari individu.Anak hrus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan
stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia breaksi terhadap benda-benda itu.
Akomodasi dan asimilasi tidak dapat berlangsung kalau tidak ada interaksi
antara individu dengan lingkungannnya. Anak tidak hanya harus mempunyai
pengalaman berinteraksi, tetapi ia juga harus mengadakan aksi terhadap
lingkungannya.
Interaksi sosial
adalah pertukaran ide (gagasan) antara individu dengan individu (teman sebaya,
orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya).Keseimbangan atau penyeimbangan
dipandang sebagai suatu system pengaturan diri (internal) yang bekerja untuk
menyelaraskan peranan pendewasaan/kematangan, pengalaman fisik, dan interaksi
sosial.[7]
4.
Prinsip-prinsip
Perkembangan Kognitif
Dalam
membantu perkembangan kpgnitif anak seharusnya dilakukan dengan memegang
beberapa prinsip agar dalam pellaksanaannya tidak justru menghambat
perkembangannya. Berikut ini beberapa prinsip yang dapat digunakan mendukung
perkembangan kognitif anak:
a. Memberikan
banyak kesempatan.
b. Membantu
anak memahami informasi yang diterima.
c. Katakan
pada anak apa yang terjadi.
d. Berikan
contoh yan baik.
e. Bantulah
anak untuk mengingat sesuatu.
f. Memberikn
motivasi.
g. Memberikan
permainan.
h. Biarkan
anak bereksplorasi.[8]
5.
Karakteristik
Kognitif Anak Usia sekolah Dasar
Mengacu
pada teori kognitif piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam
tahap pemikiran konkret-operasional (concrete
operasional thought). Yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada
objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Menurut Piaget, operasi adalah
hubungan-hubungan logis diantara konsep-konsep atau sekma-skema. Sedangkan
operasi konkret adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan
peristiwa-peristiwa nyata atau konkret dapat di ukur.[9]
Tahap
operasional konkret merupakan tahap ke tiga dari tahap-tahap perkembangan
kognitif menurut piaget.Pada tahap ini anak sudah melakukan penalaran secara
logis untuk hal-hal yang bersifat konkret.Sedangkan hal-hal yang bersifat
abstrak masih belum mampu.Selama masa SD terjadi perkembangan kognitif yang
pesat pada anak.Anak mulai belajar membentuk sebuah konsep melihat hubungan dan
memecahkan masalah pada situasi yang tidak asing lagi bagig dirinya.Anak juga
sudah mulai bergeser dari pemikiran egosentris ke pemukiran yang objektif
(Slavin, 2011:5051).Anak mampu mengerti adanya perpindahan pada hal yang
konkret serta sudsh memahami persoalan akibat-akibat. Anak mampu memaknai suatu
tindakan dianggap baik atau buruk dari akibat yang ditimbulkan (Suparni,
et.al., 2002:56).
beberapa
penjelasan tersebut dapat menggambarkan bahwa anak usia sekolah dasar
membutuhkan objek konkret dan situasi yang nyata bagi anak sebagi metode atau
media untuk memudahkan anak dalam berfikir logis, membuat klasifikasi objek,
membentuk kkonsep, melihat hubungan dan memecahkan masalah.[10]
6.
Implikasi
Perkembangan Kognitif dalam Proses Pembelajaran
Teresa
M. MeDevitt dan Jeanne Ellis Ormrod (2002) menyebutkan beberapa implikasi teori
Piaget bagi guru-guru di sekolah , yaitu:
a. Memberikan
kesempatan kepada peserta didik melakukan eksperimen terhadap objek-objek fisik
dan fenomena-fenomena alam.
b. Megeksplorasi
kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau
pemberian tugas-tugas pemecahan masalah.
c. Tahap-tahap
perkembangan kognitif Piaget menjadi acuan dalam menginterprestasikan tingkah
laku siswa dan mengembangkan rencana pembelajaran.
d. Tahap-tahap
perkembangan kognitif Piaget juga memberikan petunjuk bagi para guru dalam
memilih stategi pembelajaran yang lebih efektif pada tingkat kelas yang
berbeda.
e. Merancang
aktivitas kelompok di mana siswa berbagi pandangan dan kepercayaan dengan siswa
lain.[11]
DAFTAR
PUSTAKA
Susanto,Ahmad.
2011. Perkembangan Anak Usia Dini
(Pengajar dalam Berbagai Aspek).Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Desmita.
2015. Psikologi Perkembangan,.Bandung
: Remaja Rosdakarya.
Purwakania
Hasan,Aliah B. 2006. Psikologi
Perkembangan Islami. Jakarta: RajaGrafindo.
Soetjinigsih,
Cristiana Hari. 2012. Perkembangan Anak. Jakarta:
Prenada.
http://googleweblight/I?u http://arifin-meaningoflife.blogspot.com/2012/11/prinaip-perkembangan-kognitif-anak-usia.html?m%DI&hl ID
Desmita. 2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Trianingsih, Rima.2016. Pengantar Praktik Mendidik Anak Usia Sekolah Dasar. Vol.3 Nno.2
[1] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini (Pengajar dalam
Berbagai Aspek), (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2011). hlm. 47
[2] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2015), hlm.
103
[3] Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, (Jakarta:
RajaGrafindo, 2006), hlm. 125-141
[4] Cristiana Hari Soetjinigsih, Perkembangan Anak, (Jakarta: Prenada,
2012), hlm. 193-194
[7]https://kangtofa.wordpress.com
[8]http://googleweblight/I?u http://arifin-meaningoflife.blogspot.com/2012/11/prinaip-perkembangan-kognitif-anak-usia.html?m%DI&hl ID
[9] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2009), hlm. 104.
[10] Rima Trianingsih, Pengantar Praktik Mendidik Anak Usia Sekolah
Dasar, 2016, 199-200, Vol.3 Nno.2
[11] Desmita, Op.Cit., hlm. 112-113
Tidak ada komentar:
Posting Komentar