Dosen
Pengampu : Hasnawati, S.Pd.I., M.M. PGMI/A/VII
ASPEK
PERKEMBANGAN ANAK
(PERKEMBANGAN
BAHASA)
Disampaikan
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
Disusun
Oleh:
Kelompok
7
Aulia 1209.15.07664
Nuraini 1209.15.07683
JURUSAN
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM AULIAURRASYIDIN
T.A.
2018/2019
1.
Aspek
Perkembangan Anak (Pekembangan Bahasa)
a.
Menyebutkan
periode perkembangan Bahasa
1)
Permulaan
Bicara
Tangisan
bayi pada saat dilahikan merupakan suara pertama yang dilakukan anak yang
berfungsi untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena sesudah dilahirkan
anak harus bernapas sendiri. Kira-kira
pada usia 1-2 bulan bayi mendekut (cooing) dalam bentuk suara”oo...”,”coo…”
atau “goo…”, yang dilakukannya selama berinteraksi dengan yang mengasuhnya.
Pada usia sekitar tiga bulan, anak mulai meraban (mengoceh) sampai kira-kira
umur sembilan bulan, termasuk menggabungkan kombinasi konsonan vocal seperti
“ba..ba…ba..ba”, “da…da…da…da”. Mulai sekitar bulan keempat sampai keenam maka
ocehan bayi mempunyai fungsi komunikatif, yaitu anak tidak mengoceh bergitu
saja tetapi mengoceh sebagai reaksi terhadap orang lain yang mengadakan kontak
verbal dengannya. Pada usia sekitar 10 bulan sudah dapat menirukan kata-kata,
Van Ginneken mengemukakan bahwa anak mulai menirukan kata-kata sekitar akhir
tahun pertama yang disebut echo-lalie. Meskipun mungkin belum merupakan
peniruan yang betul, namun sudah mengandung unsur peniruan yang cukup banyak.
2)
Kalimat Satu
Kata (Palingual)
Sekitar
tahun pertama, yaitu antar 10-15 bulan (rata-rata 13 bulan), anak mengucapkan kata-kata
yang pertama, suatu peristiwa yang sangat dinantikan oleh setiap orangtua.
Tidak berarti sebelumnya tidak ada komunikasi antara bayi dan orangtuanya,
karena bentuk komunikasi sebelumnya umumnya dengan gerak tubuh dan dengan suaa
bayi sendiri yang khas. Satu kata yang diucapkan anak harus dianggap satu
kalimat penuh. Misalnya, anak mengatakan “kursi” maka hal itu apat berarti
“saya mau duduk di kursi”, atau “mama harus duduk di kursi”, atau “saya minta
kursi untuk naik”, atau mengatakan “kue” dapat berarti “saya mau kue itu” atau
“itu kue”. Kata yang diucapkan tidak bisa dipandang penyebutan objek yang
murni, tetapi mempunyai isi psikologis yang bersifat intelektual, emosional,
dan sekaligus volisional, yaitu anak menunjukkan mau atau tidak mau akan
sesuatu hal.
Kata-kata
pertama bayi meliputi nama oang yang penting baginya (papa atau mama), binatang
yang lazim (kucing, disebut denga istilah “pus”..), dan beberapa kata lain;
ternyata merupakan kata-kata pertama dari bayi-bayi yang lahir 50 tahun yang
lalu dan juga kata-kata pertama bayi-bayi masa kini.
3)
Kalimat Dua
Kata (Lingual Awal)
Sekitar
bulan ke-18 hingga ke-24, anak mulai mengeluarkan kalimat dua kata yang
pertama. Anak sudah mempunyai kemungkinan yang lebih banyak untuk menyatakan
maksudnya dan untuk berkomunikasi walaupun masih dengan kata-kata yang
terbatas. Ada dua kelompok kata yang spesifik, yaitu kata-kata pivot dan
kata-kata tebuka. Kata-kata pivot yang sama dapat berbeda-beda artinya dalam
kombinasi dengan kata terbuka yang berlainan. Hal ini berarti bahwa dalam
kalimat dua kata anak sudah mampu untuk menyatakan berbagai maksudnya. Anak
sudah dapat menyatakan bentuk hubungan yang bermacam-macam.
Contoh : pivotter
buka dapaat
berarti
gi susu tidak mau minum susu lagi
gi mama ingin
pegi dengan mama
gi mobil mobilnya
bau saja pergi
Kalimat
dua kata ini bersifat telegrafis karena menghilangkan banyak bagian gramatikal
dan sangat ringkas. Pembicaraan telegrafis adalah penggunaan kata-kata
pendek dan singkat tanpa tanda-tanda gramatikal seperti kata keterangan, kata
kerja bantu, dan kata penghubung lainnya.
4)
Kalimat tiga
kata(Periode Diffeensial)
Terjadi
pada usia antara bulan ke-24 dan bulan ke-30. Walaupun mula-mula masih mirip
dengan kalimat dua kata, namun segera terjadi suatu diferensiasi dalam kelompok
kata. Banyak kata dimasukkan dalam klasifikasi baru, anak mengatur kembali
kata-kata dalam bahasanya. Peralihan dari kalimat sederhana menjadi kalimat
kompleks diawali antara usia 2-3 tahu dan berlanjut hingga sekolah dasar.[1]
b.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh
faktor-faktor kesehaan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan
hubungan keluarga.
1)
Umur Anak
Manusia
bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman,
dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan
dengan pertambahan pengalaman dan
kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut mempengaruhi sehubungan semakin
sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan
gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang
menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan
dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual anak akan mampu menunjukkan
cara berkomunikasi dengan baik.
2)
Kondisi
Lingkungan
Lingkungan
tempat anak tumbuh dan berkembang memberi adil yang cukup besar dalam
berbahasa. Pekembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di
lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai,
pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain.[2]
3)
Faktor
Kesehatan. Kesehatan merupakan faktor yang
sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal
kehidupannya. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit
terus-menerus, maka akan tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan
dalam perkembangan bahasanya. Oleh karena itu, untuk memelihara perkembangan
bahasa anak secara normal, orang tua perlu memperhatikan kondisi kesehatan
anak. Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan cara memberikan ASI, makanan yang
bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak atau secara regular memeriksakan anak
ke dokter atau ke puskesmas.
4)
Intelegensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat
intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai
intelegensi normal atau di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang
mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan
sebagai anak yang bodoh (Lidgren, dalam E. Hurlock, 1956). Selanjutnya, Hurlock
mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental, yaitu
bahwa sepertiga di antara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak
yang berda pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin
dalam berbahasanya.
5)
Status Sosial
Ekonomi Keluarga. Beberapa studi
tentang hubungan antara perkembangn bahasa dengan status sosial ekonomi
keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami
kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal
dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh
perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang
memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya (Hetzer &
Reindorf dalam E. Hurlock, 1956).
6)
Jenis Kelamin
(Sex). Pada tahun pertama usia anak, tidak
ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan wanita. Namun mulai usia dua
tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
7)
Hubungan
Keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai
proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga,
terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh
berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak (penuh
perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa
anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami
kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak
sehat itu bisa berupa sikap orangtua yang keras/kasar, kurang kasih sayang,
atau kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang
baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami
stagnasi atau kelainan, seperti: gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam
mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata
yang kasar atau tidak sopan.[3]
c.
Langkah-langkah
untuk membantu perkembangan bahasa anak
1)
Membaca.
Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama
anak setiap hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku
dan sebutkan nama dari gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk
menunjuk gambar yang sama dengan yang ada sebutkan tadi. Buatlah kegiatan
membaca menjadi menyenangkan dan menarik bagi anak dan lakukanlah setiap hari.
2)
Berbicaralah
mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan
bahasa yang sederhana.
3)
Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap
hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang
disiapkan baginya.
4)
Cobalah untuk
tidak menyelesaikan kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk menemukan
sendiri kata yang tepat yang ingin dia sampaikan.
5)
Berbicaralah
pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan
mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.[4]
d.
Cara
menstimulasi perkembangan bahasa anak
Berikut
ini adalah tips dan cara yang bisa digunakan dalam menstimulasi perkembangan
bahasa anak :
1)
Bicara pada
bayi anda. Bayi yang tampak tak berdaya itu ternyata lebih
cerdas dari tampilannya. Gunakan kalimat lengkap kepada bayi seakan ia sudah
besar. Hal ini akan memberikan penguasan bahasa yang lebih awal dan mempermudah
anak memahami aturan bahasa.
2)
Berikan contoh
untuk kata-kata baru yang ingin diajarkan. Bayi
bagaikan manusia gua yang baru datang ke peradaban. Ia belum pernah melihat,
merasa atau berinteraksi dengan semua simbol baru bernama bahas, sehingga wajar
bagi mereka untuk mendapkatan sebanyak mungkin contoh bagi simbol-simbol baru
tersebut. Cara sederhannya adalah dengan menyebutkan nama dari tindakan orang
tua pada bayi, misalnya “Kakak sekarang digendong sama Nenek!” atau “Sayang
ibu,,,” sambil membelaikan tangan anak ke pipi atau kepala ibu.
3)
Berikan detail
untuk kata yang dikenalkan. Anak belajar
nama-nama benda dari hal-hal yang umum dan semakin hari semakin detail. Orang
tua dapat membantu anak dengan memberikan nama spesifik dan sifat spesifik kata
yang sedang dipelajari. Misalnya saat melihat ambulan, anak dikenalkan namanya,
suaranya, dan fungsinya. Hal ini dapat dilakukan saat membaca buku atau saat
melihat bendanya secara langsung.
4)
Turunkan tubuh
anda setinggi anak. Duduk atau
berlutut sehingga anak dapat menatap mata orang tua. Hal ini akan memastikan anak
sudah fokus dan siap menerima informasi baru.
5)
Berikan bantuan
kata-kata ketika anak sulit mengungkapkan idea tau perasaannya. “Ade lagi memperbaiki truk sampahnya ya?”, “Kakak kesal tutupnya
susah dibuka? Ayo, Ayah bantu.” Hal ini akan memberikan contoh untuk berpikir
dan mengungkapkan bagi anak.
6)
Ulangi apa yang
dikatakan oleh anak. Hal ini akan
menunjukkan pada anak bahwa orang tua mendengar sekaligus mengajarkan sikap
yang baik untuk berusaha saling mengerti.
Selain memastikan anak-anak mendapat gizi yang lengkap, orang tua
dapat memastikan anak mendapatkan stimulasi yang optimal lewat interaksi dan
responsivitas sesuai situasi dan perkembangan anak.[5]
.
e.
Gangguan
keterlambatan perkembangan bahasa anak
Sebenarnya ada banyak hal yang dapat
menyebabkan keterlambatan bahasa anak yang dibedakan menjadi dua yaitu faktor
internal dan eksternal.
1)
Faktor Internal
Berbgai faktor internal atau faktor biologis tubuh seperti faktor
persepsi, kognisi, dan prematuritas dianggap sebagai faktor penyebab
keterlambatan bicara pada anak.
a)
Persepsi
Persepsi
merupakan kemampuan untuk mengolah infomasi yang masuk atau yang diterima oleh
panca indera diantaranya telinga. Telinga sebagai organ sensori auditori
berperan penting dalam pekembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan
pendengaran karena otitis media pada anak akan mengganggu perkembangan bahasa.
b)
Kognisi
Beberapa teori
yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa :
· Pertama, bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive
determinism)
· Kedua, kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic
determinism)
· Ketiga, pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya
pikiran dipengaruhi oleh bahasa
· Keempat, bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang
berkaitan.
Sesuai dengan
teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan bahasa dan
pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.
c)
Prematuritas
Weindrich
menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang
mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score,
lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar
rumah sakit.
Beitchman, Hood
& Inglis, 1990, Spitz et al., 1997, Tallal, Ross & Curtiss, 1989;
Tomblin, Smith, & Zhang, 1997, melaporkan bahwa gangguan bahasa sekitar 40
% dan 70 % merupakan kecenderungan dalam satu keluarga. Separuh keluarga yang
memiliki anak dengan gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya
memiliki problem bahasa. Orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin
bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui
berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut,
disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.
2)
Faktor
Eksternal
a)
Riwayat
Keluarga
Demikian pula
dengan anak dalam keluarga yang mempuyai riwayat keterlambatan atau gangguan
bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula. Riwayat keluarga yang
dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara,
memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar.
b)
Pola Asuh
Law dkk juga
mengemukakan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak dekat dari
keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang
kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan baahasa
yang rendah.
c)
Lingkungan
Verbal
Lingkungan
verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak dilingkungan keluarga
professional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu
dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih
rendah.
d)
Pendidikan
Studi lain
melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor resiko
keterlambatan bahasa pada anaknya.
e)
Jumlah Anak
Chouhury dan
beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga
mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubungan dengan intensitas
komunikasi antara orang tua dan anak.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Agung dan Sunarto. 2006. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Asdi Mahasatya.
Soetjiningsih, Christiana Hari. 2014. Perkembangan Anak Sejak
Pembuahan Sampai Dengan Kanak-kanak Akhir. Jakarta: Prenada.
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jannah, Raudhatul. “Memahami Keterlambatan Perkembangan Bahasa
Anak”. 12 Oktober 2018. https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak
Noory, Khamsha. “Langkah Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak”.
15 Oktober 2018.
.
[1] Christiana
Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan
Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2014), hlm. 170-172.
[2]
Sunarto dan
Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Asdi MahasatyaAsdi,
2006), hlm. 139.
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.
121-122.
[4] Raudhatul
Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak, pada tangggal
12 Oktober 2018 pukul 08.30.
[5]
Khamsha Noory, diakses dari https://www.childrencafe.com/6-langkah-stimulasi-kemampuan-bahasa-anak/,
pada tanggal 15 Oktober 2018 pukul 09.30.
[6] Raudhatul
Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak, pada tangggal
12 Oktober 2018 pukul 08.30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar