Selasa, 25 Desember 2018

ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN BAHASA)


Dosen Pengampu : Hasnawati, S.Pd.I., M.M.                                     PGMI/A/VII
                                             



ASPEK PERKEMBANGAN ANAK
(PERKEMBANGAN BAHASA)


Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Anak






Disusun Oleh:
Kelompok 7


                                    Aulia                                       1209.15.07664
                                    Nuraini                                   1209.15.07683
                                   







JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AULIAURRASYIDIN
T.A. 2018/2019
1.   Aspek Perkembangan Anak (Pekembangan Bahasa)
a.      Menyebutkan periode perkembangan Bahasa
1)      Permulaan Bicara
Tangisan bayi pada saat dilahikan merupakan suara pertama yang dilakukan anak yang berfungsi untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena sesudah dilahirkan anak harus  bernapas sendiri. Kira-kira pada usia 1-2 bulan bayi mendekut (cooing) dalam bentuk suara”oo...”,”coo…” atau “goo…”, yang dilakukannya selama berinteraksi dengan yang mengasuhnya. Pada usia sekitar tiga bulan, anak mulai meraban (mengoceh) sampai kira-kira umur sembilan bulan, termasuk menggabungkan kombinasi konsonan vocal seperti “ba..ba…ba..ba”, “da…da…da…da”. Mulai sekitar bulan keempat sampai keenam maka ocehan bayi mempunyai fungsi komunikatif, yaitu anak tidak mengoceh bergitu saja tetapi mengoceh sebagai reaksi terhadap orang lain yang mengadakan kontak verbal dengannya. Pada usia sekitar 10 bulan sudah dapat menirukan kata-kata, Van Ginneken mengemukakan bahwa anak mulai menirukan kata-kata sekitar akhir tahun pertama yang disebut echo-lalie. Meskipun mungkin belum merupakan peniruan yang betul, namun sudah mengandung unsur peniruan yang cukup banyak.
2)      Kalimat Satu Kata (Palingual)
Sekitar tahun pertama, yaitu antar 10-15 bulan (rata-rata 13 bulan), anak mengucapkan kata-kata yang pertama, suatu peristiwa yang sangat dinantikan oleh setiap orangtua. Tidak berarti sebelumnya tidak ada komunikasi antara bayi dan orangtuanya, karena bentuk komunikasi sebelumnya umumnya dengan gerak tubuh dan dengan suaa bayi sendiri yang khas. Satu kata yang diucapkan anak harus dianggap satu kalimat penuh. Misalnya, anak mengatakan “kursi” maka hal itu apat berarti “saya mau duduk di kursi”, atau “mama harus duduk di kursi”, atau “saya minta kursi untuk naik”, atau mengatakan “kue” dapat berarti “saya mau kue itu” atau “itu kue”. Kata yang diucapkan tidak bisa dipandang penyebutan objek yang murni, tetapi mempunyai isi psikologis yang bersifat intelektual, emosional, dan sekaligus volisional, yaitu anak menunjukkan mau atau tidak mau akan sesuatu hal.
Kata-kata pertama bayi meliputi nama oang yang penting baginya (papa atau mama), binatang yang lazim (kucing, disebut denga istilah “pus”..), dan beberapa kata lain; ternyata merupakan kata-kata pertama dari bayi-bayi yang lahir 50 tahun yang lalu dan juga kata-kata pertama bayi-bayi masa kini.
3)      Kalimat Dua Kata (Lingual Awal)
Sekitar bulan ke-18 hingga ke-24, anak mulai mengeluarkan kalimat dua kata yang pertama. Anak sudah mempunyai kemungkinan yang lebih banyak untuk menyatakan maksudnya dan untuk berkomunikasi walaupun masih dengan kata-kata yang terbatas. Ada dua kelompok kata yang spesifik, yaitu kata-kata pivot dan kata-kata tebuka. Kata-kata pivot yang sama dapat berbeda-beda artinya dalam kombinasi dengan kata terbuka yang berlainan. Hal ini berarti bahwa dalam kalimat dua kata anak sudah mampu untuk menyatakan berbagai maksudnya. Anak sudah dapat menyatakan bentuk hubungan yang bermacam-macam.
Contoh : pivotter   buka               dapaat berarti
                    gi         susu                 tidak mau minum susu lagi
                    gi         mama               ingin pegi dengan mama
                    gi         mobil               mobilnya bau saja pergi
Kalimat dua kata ini bersifat telegrafis karena menghilangkan banyak bagian gramatikal dan sangat ringkas. Pembicaraan telegrafis adalah penggunaan kata-kata pendek dan singkat tanpa tanda-tanda gramatikal seperti kata keterangan, kata kerja bantu, dan kata penghubung lainnya.


4)      Kalimat tiga kata(Periode Diffeensial)
Terjadi pada usia antara bulan ke-24 dan bulan ke-30. Walaupun mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata, namun segera terjadi suatu diferensiasi dalam kelompok kata. Banyak kata dimasukkan dalam klasifikasi baru, anak mengatur kembali kata-kata dalam bahasanya. Peralihan dari kalimat sederhana menjadi kalimat kompleks diawali antara usia 2-3 tahu dan berlanjut hingga sekolah dasar.[1]

b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehaan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
1)      Umur Anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan  pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.
2)      Kondisi Lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi adil yang cukup besar dalam berbahasa. Pekembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain.[2]
3)      Faktor Kesehatan. Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak mengalami sakit terus-menerus, maka akan tersebut cenderung akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya. Oleh karena itu, untuk memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, orang tua perlu memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan cara memberikan ASI, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak atau secara regular memeriksakan anak ke dokter atau ke puskesmas.
4)      Intelegensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan sebagai anak yang bodoh (Lidgren, dalam E. Hurlock, 1956). Selanjutnya, Hurlock mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental, yaitu bahwa sepertiga di antara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak yang berda pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin dalam berbahasanya.
5)      Status Sosial Ekonomi Keluarga. Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangn bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya (Hetzer & Reindorf dalam E. Hurlock, 1956).
6)      Jenis Kelamin (Sex). Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak pria.
7)      Hubungan Keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap orangtua yang keras/kasar, kurang kasih sayang, atau kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti: gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan.[3]

c.       Langkah-langkah untuk membantu perkembangan bahasa anak
1)   Membaca. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang ada sebutkan tadi. Buatlah kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan menarik bagi anak dan lakukanlah setiap hari.
2)   Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
3)    Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang disiapkan baginya.
4)   Cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin dia sampaikan.
5)   Berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.[4]

d.      Cara menstimulasi perkembangan bahasa anak
Berikut ini adalah tips dan cara yang bisa digunakan dalam menstimulasi perkembangan bahasa anak :
1)   Bicara pada bayi anda. Bayi yang tampak tak berdaya itu ternyata lebih cerdas dari tampilannya. Gunakan kalimat lengkap kepada bayi seakan ia sudah besar. Hal ini akan memberikan penguasan bahasa yang lebih awal dan mempermudah anak memahami aturan bahasa.
2)   Berikan contoh untuk kata-kata baru yang ingin diajarkan. Bayi bagaikan manusia gua yang baru datang ke peradaban. Ia belum pernah melihat, merasa atau berinteraksi dengan semua simbol baru bernama bahas, sehingga wajar bagi mereka untuk mendapkatan sebanyak mungkin contoh bagi simbol-simbol baru tersebut. Cara sederhannya adalah dengan menyebutkan nama dari tindakan orang tua pada bayi, misalnya “Kakak sekarang digendong sama Nenek!” atau “Sayang ibu,,,” sambil membelaikan tangan anak ke pipi atau kepala ibu.
3)   Berikan detail untuk kata yang dikenalkan. Anak belajar nama-nama benda dari hal-hal yang umum dan semakin hari semakin detail. Orang tua dapat membantu anak dengan memberikan nama spesifik dan sifat spesifik kata yang sedang dipelajari. Misalnya saat melihat ambulan, anak dikenalkan namanya, suaranya, dan fungsinya. Hal ini dapat dilakukan saat membaca buku atau saat melihat bendanya secara langsung.
4)   Turunkan tubuh anda setinggi anak. Duduk atau berlutut sehingga anak dapat menatap mata orang tua. Hal ini akan memastikan anak sudah fokus dan siap menerima informasi baru.
5)   Berikan bantuan kata-kata ketika anak sulit mengungkapkan idea tau perasaannya. “Ade lagi memperbaiki truk sampahnya ya?”, “Kakak kesal tutupnya susah dibuka? Ayo, Ayah bantu.” Hal ini akan memberikan contoh untuk berpikir dan mengungkapkan bagi anak.
6)   Ulangi apa yang dikatakan oleh anak. Hal ini akan menunjukkan pada anak bahwa orang tua mendengar sekaligus mengajarkan sikap yang baik untuk berusaha saling mengerti.
Selain memastikan anak-anak mendapat gizi yang lengkap, orang tua dapat memastikan anak mendapatkan stimulasi yang optimal lewat interaksi dan responsivitas sesuai situasi dan perkembangan anak.[5]
.
e.       Gangguan keterlambatan perkembangan bahasa anak
Sebenarnya ada banyak hal yang dapat menyebabkan keterlambatan bahasa anak yang dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal.
1)      Faktor Internal
Berbgai faktor internal atau faktor biologis tubuh seperti faktor persepsi, kognisi, dan prematuritas dianggap sebagai faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak.
a)      Persepsi
Persepsi merupakan kemampuan untuk mengolah infomasi yang masuk atau yang diterima oleh panca indera diantaranya telinga. Telinga sebagai organ sensori auditori berperan penting dalam pekembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan pendengaran karena otitis media pada anak akan mengganggu perkembangan bahasa.
b)      Kognisi
Beberapa teori yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa :
·   Pertama, bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive determinism)
·   Kedua, kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic determinism)
·   Ketiga, pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi oleh bahasa
·   Keempat, bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.
Sesuai dengan teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan bahasa dan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.
c)      Prematuritas
Weindrich menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score, lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar rumah sakit.
Beitchman, Hood & Inglis, 1990, Spitz et al., 1997, Tallal, Ross & Curtiss, 1989; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997, melaporkan bahwa gangguan bahasa sekitar 40 % dan 70 % merupakan kecenderungan dalam satu keluarga. Separuh keluarga yang memiliki anak dengan gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki problem bahasa. Orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut, disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.
2)      Faktor Eksternal
a)      Riwayat Keluarga
Demikian pula dengan anak dalam keluarga yang mempuyai riwayat keterlambatan atau gangguan bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula. Riwayat keluarga yang dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara, memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar.
b)      Pola Asuh
Law dkk juga mengemukakan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak dekat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan baahasa yang rendah.
c)      Lingkungan Verbal
Lingkungan verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak dilingkungan keluarga professional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih rendah.
d)     Pendidikan
Studi lain melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor resiko keterlambatan bahasa pada anaknya.
e)      Jumlah Anak
Chouhury dan beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubungan dengan intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.[6]
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Agung dan Sunarto. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Asdi Mahasatya.

Soetjiningsih, Christiana Hari. 2014. Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-kanak Akhir. Jakarta: Prenada.

Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jannah, Raudhatul. “Memahami Keterlambatan Perkembangan Bahasa Anak”. 12 Oktober 2018. https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak

Noory, Khamsha. “Langkah Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak”. 15 Oktober 2018.
.



[1] Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2014), hlm. 170-172.
[2] Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Asdi MahasatyaAsdi, 2006), hlm. 139.
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 121-122.
[4] Raudhatul Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak, pada tangggal 12 Oktober 2018 pukul 08.30.
[5] Khamsha Noory, diakses dari https://www.childrencafe.com/6-langkah-stimulasi-kemampuan-bahasa-anak/, pada tanggal 15 Oktober 2018 pukul 09.30.
[6] Raudhatul Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak, pada tangggal 12 Oktober 2018 pukul 08.30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...