ADAT ISTIADAT, KEPRIBADIAN, SERTA
PERGAULAN ORANG MELAYU
A.
Latar
Belakang
Orang melayu menetapkan
identitasnya sebagai orang melayu dengan tiga ciri pokok berbahasa melayu, adat
istiadat melayu, dan agama islam. Dalam membahhas mengenai hal tersebut sering
terjadi kekeliaruan terhadap beberapa ciri-ciri yang berkaitan dengan ciri identitas orang melayu yang
poko tetrsebut yaitu, adat istiadat, kpribadian, serta pergaulan orang melayu.
Nah kurang nya pegertian mengenai
beberapa hal tersebut akan mempersulit
untuk bisa memahami lebih dalam mengenai identitas orang melayu tersebut.
Terlebih lagi di era modern ini banyak sekali orang yang ber pemikiran sempit mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan bangsa melayu tersebut, banyak sekali generasi muda
yang keliru terhadap pengertian-pengertian adat, kpribadian serta pergaulan
orang melayu.
Bahkan dalam dunnia perkuliahan
saja pengetahuan mahasiswa kurang pemahaman terhadap hla-hal yang berkaitan dengan identitas
bangsa melayu tersebut, hal serti ini bisa saja menjadi penyebab hilangnya
tradisi. Tentu saja hal tersebut tidak di harapkan terjadi
Oleh karena itu agar tidak
terjadi kekliruan yang lebihh jauh mengenai identitas orang melayu ini kami seebagai
penulis dalam makalah ini menjelaskan
bagaimana sebenarnya adat istiadat, kpribadian, serta pergaulan orang
melayu sehingga pemikiran-pemikiran yang keliaru dan pemahaman yang kurang
mengenai identitas bangsa melayu tersebut dapat berkurang dan tidak terjadi lagi. Karna jika membahas
megenai bangsa melayu tentunnya tidak luput dari bagaimana untuk mengetahhui
identitas bangsa melayu tersebut.
Banyak sekali hal-hal yang harus
di ketahuai mengenai adat, kpribadian serta pergaulan orang melayu di mana
dengan mengetahui hal-hal tersebut kita bisa memahami dengan benar ciri
identitas orang melayu , hal ini perlu khusunya bagi generasi muda penerus
bangsa agar apat melestarikan budaya- budaya bangsa ini.
B. Pembahasan
1. Pengertian
Adat Secara Umum
Banyak orang yang keliru terhadap
pengertian adat, terutama generasi muda. Adat di artikan sama dengan kebiaaan
lama atau kuno. Jika mendengar perkataan “adat” maka yang tebayang dalam Khayalannya adalah : arang berpakaian daerah atau acara
perkawinan dan upacara lainnya. Oleh karena itu jangan heran jika media masapun selalu keliru, sehingga
pakaian adat atau rumah yang berbentuk khas daerah di sebut rumah adat. Egasnya
apa yang berbentuk tradisional di anggap
adat.
Menurut ensiklopedia umum perkataan adat di artikan sebagai
berikut: aturan-aturan tentang berbagai
segi kehidupan manusia yang tumbuh dari usaha orang dalam suatu daerah yang
terbentuk di Indonesia sebagai kelompok
sosial untuk mengetur tata tertib tingkah laku anggota masyarakat . di
Indonesia aturan – aturan tentang segi kehidupan mausia itu menjadi aturan hukum
yang mengikat dan di sebut hukum
adat. (Ensiklopedia Umum : 19=13).[1]
Ensiklopedia Indonesia memberikan
uraian yang lebih panjang mengenai Adat,
tetapi sulit untuk di ambil kesimpulan. Kkata adat berasal dari bahasa arab urf
dan Islam telah memberikan corak khusus dalam ketentun-ketenntuan adat
dalalm lingkungan pemeluk agama Islam.[2]
Pengertian adat di riau sendiri adalah ketentuan –ketentuan yang
mengatur tingkah laku dan hubungan antaraa anggota masyarakat dalam segala segi
kehidupan. Oleh karena itu, adat merupakan hukum tidak tertulis sekaligus sebagai sumber hukum. Pengertian yang
terdapat di daerah riau ini mukin sama dengan pengertian yang terdapat di daerah lain. Sebelum hukum
barat msuk ke Indonesia ini adat adalah satu-satunya hukum rakyat yang di
sempurnakan dengan hukum islalm, sehingga di sebut “ Adat Bersendikan Syarak”.
2. Adat
Dalam Masyarakat Melayu Riau
Adat yang berlaku dalam
masyarakat melayu di riau bersumber dari malaka dan johor, karena dulunya malaka,
johor dan riau merupakan merupakan suatu kerajaan merupakan suatu kerajaan
melayu dan adatnya erpuncak dari istana
raja. [3]
“ maka adalah adat melayu itu
pada mulanya berpangkal pada adat istiadat
melayu yang di pergunakan pada negri tumasuk, bintan, dan malaka. Maka
di zaman malaka itu adat menjadi Islam karena rajanya pun telah islam pula
adanya. Maka segala adat istiada melayu itupun sah lah menurut syarak islam
dan Syyariat islam. Maka adat istiada
melayu itulah yang turun temurun
berkembang sampai ke nnegri johor,
negri riau, negri indragiri, negri siak, negri peleleuan dan sekalian ngri orang melayu adanya. Segala
adat yang tidak berdendikan syariat islam salah san tidak boleh di pakai lagi.
Sejak itu adat istiada melayu di sebut adt bersendi syarak yang berpegang kepada kitab Allah dan sunna Nabi.[4]
Pengaruh islam terhadap aat
melayu bermula sejak masuk dan
berkembangnya islam di daerah ini. Adat melayu itu bermula bertumpu pada
adat yang di pergunakan di negri
tumasik, binntan, dan malaka. Adapun adat yang beralaku di daerah riau lingga termsuk kedalam pengaruh aat
tumenggung yang didasarkan oelh kebisaan dan kelaziman namun berifat Otokratis,
karena prinsip pada umumnya di susun
oleh seseoang di bawah pengaruh keraaj melayu Palembang yang kemudian di adopsi
oelh putri-putri raja melayu.dengan demikian
adat tumenggung ini di jumpai di tanah
semenanjung melayu di daerah pesisir pulau sumatra ann daerah riau kepulauan. Adapun di daerah riau daratan di
pengaruhi oleh adat perpatih yang brasal
dari minang kabau. Di dalam terambo melayu di sebut bahwa pengaruhadat
rumenggung di bawah pentai Badai lokan. Adapun di daerah pedalaman di atas
bandar lokan, merupakan daerh pengaruh
adat perpatih.[5]
a.
Adat sbenar Adat
Yang di mksud dengan “adat
sebenar adat” addalah prinsip adat melayu yang tidak dapt di unbah-ubah.
Prinsip tersebut tersimpul dalam “adat bersendikan Syarak”. Ketentuan-ketentuan
adat yang bertentangan dengan hukum syarak tidak boleh di pakai lagi dan hukum syaraklah yang dominan. Di dalam berbagai
ungkapan di nyatakan sebagai berikut:
Adat berwaris kepada Nabi
Adat berkhalifah kepada Adam
Adat berinduk ke Ulama
Adat bersurat dalam Kertas
Adat tersirat dalam Sunnah
Adat dikungkung Kitabullah
Itulah Adat yang tahan Banding
Itulah adat yang tahan Asak
Adat terconteng di lawang
Adat tak lekang oleh panas
Adat tak lapuk oleh hujan
Adat di anjak layu diumbut mati
Adat di tanam tumbuh di kubur
hidup
Kalau tinggi di panjatnya
Bila rendah di jalarnya
Riaknya sampai ke tebing
Umbutnya sampai ke pangkal
Rasanya sampai ke laut luas
Sampai ke pulau karaam-karaman
Sampai ke tebing lembak-lembakan
Sampai ke arus yang berdengung
Kalau tali boleh di seret
Kalau rupa boleh dilihat
Kalau rasa boleh dimakan
Itulah adat sebenar adat
Adat turun dari syarak
Dilihat dengan hukum syariat
Itulah pusaka turun-temurun
Warisan yang tek putus oleh cencang
Yang menjadi galang
lembaga
Yang menjadi ico dengan pakaian
Yang digenggam di peselimut
Adat yang keras tidak tertarik
Adat lunak tidak tersudu
Dibunttal singkat, direntang panjang
Kalau kendur berdenting-denting
Kalau tengang berjela-jela
Itulah adat sebenar adat
Dari ungkapan di atas jelas terlihat betapa bersebatinya adat melayu
dengan ajaran islam. Dasar adat melayu menghendaki sunnah Nabi dan Al-Qur’an
sebagai sandarannya. Prinsip itu yidak dapat di ubah, tidak dapat di buang,
apalagi di hilangkan, itulah yang di sebut “Adat sebenar Adat”.[6]
b.
Adat yang Diadatkan
“Adat yang diadatkan” adalah
adat yang dibuat oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan adat itu terus
berlaku selama tidak di ubah oleh penguasa berikutnya. Adat ini dapat
berubah-ubah sesuai sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman, sehingga
dapat disamakan denagn peraturan palaksanaan
dari suatu ketentuan adat. Perubahann
terjadi karena menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dann
perkembangan pandangan pihak penguasa, seperti kata pepatah “Sekali air bah,
sekali tepian beralih”. Dalam ungkapan di sebutkan :
Adat yang di adatkan
Adat yang turun dari raja
Adat yang datang dari datuk
Adat yang cucur ari penghulu
Adat yang di buat kemudian
Putus mufakat adat berubah
Bulat kata adat berganti
Sepanjang hari ia lekang
Beralih musim ia layu
Bertuhan angin ia melayang
Bersaling baju ia tercampak
Adat yang dapat dibuat-buat
(Nyanyian
panjang dan Bilang Undang)
Uangkapan yang di kemukakan di
atas adalah adat yang diadatkan. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa adat
itu mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam proses perjalanan sejarah adat istiadat melayu maka adat yang diadatkan
mengalami berbagai prubahan dan variasi.
Hampir di pastikan bahwa adat ni
merupakan adat yang paling banyak ragamnya. Sesuai dengan wilayah dimana ia
tumbuh dan berkembang. Adat yangv diadatkan terdapat di daerah riau ini
beragam-ragam karena di daerah riau ini pernah terapat kerajaan-kerajaan yang
tersebar sejak dari keppulauan sampai kehulu-hulu sungainya. Yiap-tiap kerjaan
tentulah mempunyai corak dan variasinya sendiri-sendiri, yang sesuai dengan kondisi dan latar belakang
sejarahnya serta pengaruh-pengaruh yang masuk kesana.[7]
c.
Adat yang teradat
Adat
ini merupakan consensus bersama yang
dirasakan cukup baik sebagai pedoman dalam menentukan sikap dan tindakan dalam
menghadapi setiap peristiwa dan msalah-masalah yang di hadapi oleh masyarakat.
Consensus ini ddi jasikan pegengan bersama, sehingga merupakan kebiasaan tuurun
temurun. Oleh sebab itu, “adat yang teradat” ini pun dapat berubah-ubah sesuai
dengan nilai-nilai baru yang berkembang
kemudian. Tingkat adat nilai-nilai yang
berkembang kemudian, tingkat adat inilah yang di sebut “tradisi”. Dalm
ungkapan adat disebutkan:
Adat yang teradat
Datang tidak bercerita
Pergi tidak berkabar
Adat disarang tidak berjahit
Adat berselindang tidak
berkumpull
Adat berjarum tidak berbenang
Yang terbawa burung lalu
yang tumbuh ditanam
yang kembang tidak dikuntum
yang bertunas tidak berpucuk
adat yang datang kemudian
yang diseret jalan panjang
yang bertenggek disampan lalu
yang berlabuh tidak bersauh
yang berakar berurat tunggang
itulah adat sementara
adat yang dapat dialih-alih
adat yang dapat dirukar salin.[8]
3. Kpribadian
orang Melayu
Kpribadian atau personality berasal dari bahasan latin persona yang berarti topeng atau pemain sandiwara. Dalam ilmu jiwa
kajian pribadai lebih banyak menyangkut wajah sebenarya, yang berada dibalik
topeng. Adapula yang mengangkat kpribadian berasal dari bahasa latin pesum yang brarti wajah sesungguhnya.
Hingga saat ini pengertian persona (topeng) dan persum (wajah sesungguhnya) memang tidak dapat dilihat dalam
pergaulan sehari-hari. Penampilan yang munafik dengan wajah sesungguhnya memang
susah diketahuai dalam masyarakat.
Secara psikologis yang dimaksud dengan kpribadian adalah intidari
kejiwaan seseorang, atau dengan kata lain, sebagai suatu interaksi biologis
dengan budayanya, sehingga memberi corak pada tingkah laku seseorang,
sikap-sikap, cara, dan pikiran, sebagai
fenomena yang tempak dari aktivitas kejiwaan dan penyesuaian dengan kemampuan.[9]
Kemantapan pembinaan nilai-nilailuhur menyababkan
dapat tercapainya keberhasilan dan keberdayaguaan dalam oenanaman dasar
kpribadian yangbaik dan sempurna.
Menurut adat dan tradisi masyaakat melayu terdapat sperangkat nilai-nilai luhur yangperlu sselalu
ditanamkan dalam diri dan kpribadian seorang anak, yaitu:
a.
“Berpijak pada yang Esa”, yaitu nilai-nilai keagamaan dan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa , seperti tercermin dalam ungkapan “ bargantung pada yang satu, berpegang pada
yang Esa”.
b.
“Hidup berkaum sepakaian”, yang bermakna nilai-nilai
persatuan dan kesatuan dalam kehidupan, dengan mencakup pula nilai-nilai
kegotongroyongan dann rasa senasib sepenanggungan. Nilai-nilai ini tercermin
dalam ungkapan seperti, “Kehulu sama bergalah, kehilir sama
berkayuh, terendam sama basah, terapung sama
timbul, yang kesat sama diamplas, yang brebengkol sama ditarah”.
c.
“Hidup sifat Bersifat”, yang bermakna nilai-nilai budi
pekerti mulia dan terpuji, beradat budaya, serta pandai bermasyarakat dan
membawa diri. Nilai-nilai ini tercermin dalam berbagai ungkapan antara lain
seperti “bila duduk bersifat, bila
tegak-tegak beradat”, atau “bila becakap-cakap berkhasiat bila diam-diam
makrifat”, dan lain-lain sebagainya.
d.
“Hidup mengulut air setimba” yang
mengandung makna nilai-nilai sadar diri, dan bertenggang rasa unntuk dapat diperolehnya sesuatu yang
berguna bagi hidup di dunia dan di akhitrat
kelak. Nila-nilai ini diungkapkan dalam berbagai untaian kata antara
lain seperti: “menuang ketika cair,
berbrban selama berdaya, atau bila lepas kijang ke rimba, diurutpun sia-sia”, dan sebagainya.
pembinaan niali-nilai hidup yang
telah mulai di tanamkan sedini mungkin
mengungkapkan sikap dan corak hidup yang
berguna dan terpuji. Ungkapan
yang dicontohkan diiatas jelas memperlihatkan pengaruh
ajaran agama islam yang memberikan pedoman
hidup bagi manusia, makhluk Tuhan, memiliki kpribadian baik, sempurna, jjujur,
dan berguna setelah dewasa kelak.
4.
Adat Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu
bertolak dari dasar pemikiran diadakannya
pertemuan ilmiah kebudayaan melayu ini, yang mencoba mengemukakan pemikiran
yang kiranya dapat disumbangkan untuk tujuan menyempurnakan tata pergaulan
nasional, selanjutnya akan kami kutipkan ungkapan sebagai berikut:
“interaksi sosial
antara sesama warga dalam msyarakat majemuk itu menuntut rangka {term of
refence} maupun mekanisme pengendali yang mampu memberikan arah dan makna
kehidupan bermasyarakat yaitu kebudayaan yang dpat menyembatani pergaulan
sesama warga secara efektif”.
Adat istiadat yang merupakan pola sopan santun dalam
pergaulan orang melayu riau ini sebenarnya menjadi pola pergaulan nasional atau
menjadi pola pergaulan sesame warga Negara.
Dalam masyarakat
melayu di riau sikap dan tingkah laku
yang baik telah diajarkan sejaka dari buayan hingga dewasa. Sikap dan tingkah
laku sebagaimana yang diajarkan dalam adat sama dengan ajaran yang diberikan
oleh orang tua kepada anaknya dalam masyarakat melayu di riau. Selain diajarkan
secara lisan, juga dikembangkan melalui tulisan-tulisan.
Sopan santun dalam
pergaulan diantara sesama masyarakat menyangkut beberapa masalah, yaitu tingkah
laku , tutur bahasa, kesopanan berpakaian, sikap menghadapi orang tua atau
orang sebaya, orang yang lebih muda, para pembesar dan sebagainya.
a.
Tutur kata
Dalam bertutur
dan berkata,kita banyak dijumpai nasihat-nasihat karena pengaruh kata-kata
sangat besar efeknya bagi keserasian pergaulan,”bahasa menunjukkan bangsa”
perkataan “bangsa” disini maksud adalah “baik-baik”. Orang baik-baik tentu
mengeluarkan kata-kata byang tekanan suaranya akan menimbulkan simpati orang.
Orang yang menggunakan kata kasar dan tidak senonoh, dipandangsangat rendah
derajatnya.
b.
Sopan santun berpakaian
Dalam masyarakat melayu,
kesempurnaan berpakaian menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya budaya seseorang.
Makin tinggi kebudayaannya, maka makin sempurna pakaiannya.Selain itu, sopan
santun berpakaian menurut islam telah
menyatu dengan adat. pakaian daerah ata pakaian tradisional ada bermacam-macam
dan cara memakaiya pun disesuaikan dengan keperluan. Cara berpakaian untuk kepasar, ke masjid, bertandang kerumah
orang atau kemajlis perjamuan dan upacara adat.
c.
Adat dalam pergaulan
Adab dan sopan
santun dalam pergaulan. Kerangka acuan adalah norma-norma alam yang sudah
melembaga menjadi adat. Terdapat banyak pantang larang dalam hal yang dianggap
“sumbang”. Pelanggaran dalam hal ini menimbulkan aib yang besar dan pelanggar
dianggap tidak beradab. Ada yang dumbing
di mata, sumbang disikap, sumbang kata yang pada umumnya disebut “tidak baik” .
Karakter anggota masyarakat dibentuk oleh norma-norma ini. Dengan demikian maka
terciptalah pola sikap dalam pergaulan, sebagaimana sikap terhadap orang
tua-tua terhadap ibu bapak, terhadap penguasa dan pejabat, terhadap sebaya,
terhadap orang yang lebih muda, dan lain sebagainya[10]
C. Kesimpulan
1.
Adat istiadat melayu riau
tidak statis dan tidak tertutup untuk mengikuti perkembangan zaman dengan
kerangka rujukan adat dan syarak.
2.
Etika pergaulan orang melayu riau telah memberikaan saham dalam
pergaulan antar warga negara indonesia.
3.
kemantapan pembinaan
nilai-nilai luhur menyebabkan dapat tercapainya keberhasilan dan
keberdayagunaan dalam penanaman dasar kepribadian yang dan sempurna. Menurut adat dan tradisi masyarakat
melayu terdapat seperangkat nilai-nilai luhur yang pelu selalu ditanamkan dalam
diri kepribadian seorang anak.
4.
Ajaran sopan santun yang dahulu diajarkan sejak dalam buayan, masa
akhir –akhir ini telah diabaikan. Oleh sebab itu perlulah kebiasaan ini
dipulihkan kembali dengan cara-cara yang lebih sesuai dengan keadaan sekarang,
diantaranya dengan cara:
a)
Ungkapan-ungkapan pepatah dan sebagainya yang mengandung adab sopan
santun perlu dihidupkan kembali dan disebar luaskan { melalui media percetakan dan
media masa}
b)
Menterjemahkan pepatah-pepatah ungkapan-ungkapan dan menuskripyang
mengandung ajaran-ajaran untuk serba luaskan.
c)
Menulis buku pelajaran mulai dari tingkat dasar yang mengajarkan
adab sopan santun dengan kerangka rujukan falsafah dan nilai-nilai yang
terkandung dalam pepatah-pepatah,ungkapan-ungkapan, pantun-pantun dan
sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Budisaantoso, dkk. Masyarakat Melayu Riau dan kebudayaannya.pekanbaru:pemerintah
provinsi Daerah Tingkat 1 Riau
Mahdini. 2003.Islam dan kebudayaan Melayu .pekanbaru: Daulat
Riau.
Soekarnoputri, Megawati. Waeisan Riau Tanah Melayu Indonesia
yang Lagendaris.jakarta:
2000
Koentjaraningrat,
dkk. Masyarakat melayu dan budaya melayu
alam perubhan. Balai Kasjian dan pengembangan budaya melayu.Yogyakarta: 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar