PERANAN PEREMPUAN-PEREMPUAN MELAYU DULU DAN SEKARANG
Di susun oleh:
Muhammad Yusra
PEMBAHASAN
Latar Belakang
Budaya Melayu telah ada dan berkembang sejak lama hingga kini. Masyrakat melayu sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang bersumber dari ajaran agama islam. Tradisi islam sangat kental dengan tradisi melayu.
Perempuan melayu riau telah memajukan kebudayaan daerahnya bersama kaum laki-laki, namun perannya belum banyak kita ketahui dalam keluarga maupun masyarakat. Berbagai tulisan tentang tokoh
laki-laki melayu riau relatif lebih banyak dibandingkan
dengan tokoh perempempuan. Keadaan ini mendorong penulis untuk mempelajari peran perempuan melayu riau dan tokohnya yang telah berperan
dalam kebudayaan Melayu Riau.
Dalam hal ini penulis menjelaskan tentang penan perempuan-perempuan, dulu dan sekarang. Agar orang bisa
lebih megetahui peranan perempuan melayu khususnya Riau, karena penting
sebagai generasi muda untuk mengetahui bagaimana seorang perempuan sangat berperan penting dalam memajukan kebudayaan melayu.
Dalam makalah akan dibahas mengenai peranan perempuan-perempuan dulu dan sekarang, makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah islam dan tamadun melayu.
PERANAN PEREMPUAN-PEREMPUAN MELAYU DULU
DAN SEKARANG
Dalam kamus bahasa indonesia kata “peranan” mempunyai arti
“ bagian yang dimainkan seorang pemain: tindakan yang dilakukan oleh seseorang
dalam suatu pristiwa”. Sedangkan menurut Soerjo soekanto (2005) mengemukakan
bahwa :
“apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu
peranan.
Jadi, yang dimaksud peranan perempuan Melayu, dulu dan sekarang
adalah “tindakan atau pelaksanaan hak dan kewajiban perempuan-perempuan melayu
sesuai dengan kedudukan dulu dan sekarang. Kata” dulu yang dimakasud adalah” perempuan
Melayu sebelum tahun 1950. Sedangkan “sekarang” yang dimaksud adalah perempuan Melayu
saat ini”.
Sementara itu, wilayah melayu adalah daerah yang cukup luas di
Indonesia dari daerah Nanggroe Aceh Darussallam hingga Jakarta. Kali ini, dibahas
lebih banyak mengenai perempuan Melayu Riau.
A.
Peranan Perempuan
melayu Riau sebelum 1950
Kebudayaan melayu riau diwarnai oleh unsur-unsur islam. Oleh karena itu tingkah laku masyarakat melayu selalu berpedoman pada norma-norma islam, terutama kaum perempuan. Dalam hadist disebutkan bahwa “wanita adalah
tiang agama. Apabila ia baik, maka Negara akan baik. Dan apabila ia rusak, maka Negara akan rusak”. Hadist tersebut hendaknya selalu dijadikan pedoman setiap insan agar setiap perempuan menjadi pedoman dalam segala tindak-tanduk untuk mencapai suatu Negara yang baik.
Pada tahun 1950-an peranan perempuan pada umum nya masih banyak berkisar dalam urusan keluarga atau
rumah tangga, karenaadat masih mengikat perempuan, sehingga dapat dikatakan
perempuan Melayu Riau pada priode sebelum 1950 lebih berperan dalam keluarga. Namun perannya dalam masyarakat sudah ada, walaupun belum menonjol.[1]
1.
Peranan
Perempuan Melayu dalam Keluarga
Peran perempuan Melayu Riau dalam
keluarga selanjutnya diuraikan sebagai berikut.
a.
Sebagai istri
Perempuan sebagai istri berfungsi sebagai pendamping suami yang menjadi
kawan hidup teman berjuang, dalam hal ini
istri harus dianggap menjadi :
1)
Kekasih;
2)
Sahabat; dan
3)
Ibu.
Pada umumnya “Perempuan Melayu Riau” masih dapat melaksanakan
fungsinya sebagai seorang istri, sepeti ditentukan oleh ajaran Islam, sehingga
jarang Perempuan Melayu Riau berbuat curang kepada suaminya. Hal itu membuat
sebagian besar laki-laki melayu Riau mempunyai istri lebih dari satu.
b.
Sebagi ibu
Ibu adalah tumpukan dalam rumah tangga. Begitu besar dan pentingnya
peran ibu. Nabi Muhammad saw. Bersabda “Surga terletak ditelapak kaki ibu”.
Hadist ini mengingatkan agar setiap orang menghormati kedua orang tuanya.
Disamping itu, kaum laki-laki harus pandai menjaga “Surga” tersebut. Apabila
kaum laki-laki dan kaum perempuan sama-sama menjaganya, maka keselamatan hidup
didunia dan diakhirat akan terjamin.
Selanjutnya timbul pertanyaan, “ Siapakah yang diutamakan dalam
berbakti terhadap kedua orang tua kita?” Rasulullah Muhammad saw. Menjawab,
“ibumu, sesudah itu ayah”(Hamka, 1973: 41) . hadist itu menekankan besarnya
peran perempuan sebagai seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan pembinaan
dalam kasih sayang. Suasana rumah tangga yang tenang dan bahagia merupakan
modal yang baik dalam pembentikan pribadi anak. Hal yang dapat dilakukan
perempuan dalam pembentukan pribadi anak antara lain:
1)
pertama, dengan
menyanyikan lagu yang dipilih adalah yang mengandung makna pendidikan, seperti
lagu salawat nabi dan mengagungkan nama Allah. Dengan begitu, perempuan telah
mengajarkan agama, sehingga anak dapat mengenal kata Laa Ilaahaillallah
Muhammadurrasulullah, dan kata lain yang bernafaskan agama.
2)
Kedua, dengan
bercerita, ketika anak berumur 3-10 tahun. Dalam hal ini (nenek, makcik, dan
sebagainya) harus sering bercerita saat anak atau cucunya hendak tidur. Cerita
yang disajikan misalnya cerita Anak Durhaka, si miskin, anak yang
sombong, kancil yang cerdik, dan sebagainya yang berhubungan dengan pendidikan.
Secara tidakn langsung cerita ini dapat membentuk sikap dan watak anak,
sehingga anak dapat membedakan hal baik dan buruk, hal yang berdosa dan hal
yang berpahala.
3)
Ketiga, dengan
membawa anak-anak solat berjamaah, setidak-tidaknya waktu maghib, karena hal
ini akan membiasakan anak melakuakan ibadah.
4)
Keempat,
menyekolahkan anak minimal sekolah daerahnya (sekolah agama dan sekolah umum),
dan jika mampu disekolahkan kejenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian ibu
telah membentuk moral, sikap, dan memberi “ajar” untuk memelihara nilai-nilai
sejak dini, serta telah mengawali peroses sosialisasi dalam mengenal dan
memelihara kebudayaan. Peran ibu dalam keluarga sangat besar dalam membina masa
depan anak.
2. Peran perempuan melayu dalam masyarakat
Pada umumnya, perempuan melayu riau baru berkecimpung dalam
masyarakat setelah berkembang pendidikan, baik yang bersifat formal maupun
non-formal. Dalam hal ini penulis akan menguraikan beberapa tokoh perempuan
melayu riau yang diketahui, terutama yang pernah menyumbang tenaga maupun
pemikirannya dalam meningkatkan peran perempuan melayu, baik dalam organisasi
masyarakat maupun dalam pendidikan. Uraian peran perempuan dalam masyarakat
melayu akan dibagi atas dua periode, yaitu sebelum tahun 1945 dan periode
setelah tahun 1945.
a.
Periode sebelum
tahun 1945
1)
Dang mardu.
Ia adalah tokoh perempuan melayu riau yang telah berhasil mendidik
anaknya menjadi seorang laksamana, yaitu laksamana hang tuah. Hang tuah
terkenal dengan perjuanngannya disekitar selat malaka, walaupun dia berasal
dari rakyat biasa.
2)
Cik puan.
Pada masa perempuan sultan siak v, yaitu sultan assyaidis syarif
ali abdul jalil syarifuddin (1784-1810), kerajaan siak terkenal mempunyai dua
belas daerah jajahan, bahkan masih mengadakan penyerangan kekerajaan sambas di
Kalimantan barat. Dalam penyerangan ini, peran srikandi siak yang bernama cik
puan juga besar. (Lutfi, 1977: 235)
3) Tengku agung.
Tengku agung adalah permaisuri sultan siak, sultan syarif kasim II.
Perannya dalam memajumkan kaumnya ialah mendirikan sekolah perempuan yang
bernama latifah school, pada tahun 1926. Masa pendidikan di sekolah itu di
tempuh selama 3 tahun, dengan beberapa guru, yaitu:
a)
Halimah Batang
Taris dari Pematang Siantar yang mengajar bahasa belanda;
b)
Encik Saejah,
istri Encik muhayan dari siak, mengajar jahit-menjahit; dan
c)
Zaidar dari
Payakumbuh, mengajar masak-masak.
Di samping sekolah umum, sekolah agama pun telah maju baik untuk
kaum perempuan maupun untuk laki-laki. Sekolah untuk kaum perempuan yang
bernama madrasatun nisak yang terdiri dari dua tingkat ibtidaiyah, Selama 5
tahun dan tingkat tsanawiyah, selama 2 tahun.[2]
b.
Priode setelah
tahun 1945
1)
Tengku maharatu
Tengku Maharatu adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang
kedua, setalah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggalkan dunia. Beliau
melanjutkan perjuangan kakaknya dalam meninggalkan kedudukan kaum perempun di
siak dan sekitarnya, yaitu mengajarkan cara bertenun yang kemudaian dikenal
dengan nama ‘’tenun siak” Tenun Siak yang merupakan hasil karya kaum perempuan
telah menjadi pakaian adat melayu riau yang dipergunakan dalam pakaian adat
perkawinan disamping upacara lainnya. Kembali pada masalah pendidikan berkat
perjuangan permaisuri pertama dan dilanjutkan oleh permaisuri kedua mereka yang
tamat sekolah Madrasatuk Nisak, dapat menjadi Mubalighat, dan memberi dakwah terutama
kepada kaum perempuan.
2)
Raja Khodijzh
binti h. Usman
Beliau lahir di daik lingga 21 februari 1919 dan
pendidikannya adalah inlandese school (5
tahun ) di daik, tamat tahun 1932. Pendidikan terakhir kweek school mienews
still (gaya baru) di tanjung pinang tahun 1937 sebagai pemimpin Aisiah
Muhammadiyah, kemudian pada zaman jepang ikut aktif dalam organisasi wanita
(fujinkai).
Pada masa agresi ke dua aktif dalam organisasi BKIR (Badan
Kebangsan Indonesia Riau ) dan KRIR (Kaimoyapan Rakyat Indonesia Riau). Tahun 1951 mulai ikut berpolitik dan memasuki partai islam. Sekarang
menjadi anggota DPRD Tk. ll kepulauan Riau mewakili Partai
Persatuan Pembangunan. Dari pendidikan dan kegiatan atau pengabdiannya sesuian
dengan priode angkatan 45 beliau telah mempunyai keinginan besar untuk
memajukan perempuan melayu riu seperti perempuan lainnya yang telah dapat
membuka matanya untuk melihat kemajuan yang ada dilingkungannya atau pada
zamannya.[3]
3)
Syahawa H.B.
Adalah seorang perepuan melayu riau yang telah ikut berjuang untuk memajukan kaumnya di riau. Pendidikannya adalah HIS di
siak sri indrapura dank week school di bukit tinggi (sekolah pendidikan
guru). pada zaman jepag dia dikrimkan ke padang untuk mengikuti kursus
pertenunan.
Sapai tahun 1940 dapat dikatakan bahwa dia
adalah sedikit contoh di antara wanita terpelajar di melayu terutama jahit enjahit dan tenunan siak. Pada
tanggal 16 juli 1945 dia menikah dengan hasan basri. Pada tanggal 22 oktober 1945
hasan basri diangkat sebagai pemimpin TNI di riau dala aa perjuangan
pertahanan kemerdekaan RI, Syahwa menjabat sebagai ketuan organisasi ibu-ibu TNI yang bertugas memberikan informasi pada masyarakat umum dan kaum ibu tentang makna dan tujuan perjuangan, agar mendapat dukungan dari masyarakat dan sekaligus mengumpulkan bahan makanan dan sumbangan untuk dikirim kegaris depan.\
Pada tanggal 16 september 1949 Syahwa di sergap oleh belanda. Saat dia bersembunyi di sekitar siak sri indrapura untuk menunggu kelahiran bayinya yang ketiga. Oleh
karena pandai berbahasa belanda, maka dia dapat menghadap perwira distrik KNIL.
Selama di siak selalu mengadakan kegiatab bagi kaum perempuan,
terutama jahit-menjahit dan tenunan siak. Syahawa perna menjabat sebagai ketua
organisasi ibu-ibu TNI yang bertugas memberikan informasi pada masyarakat umum
dan kaum ibu tentang makna dan tujuan perjungan.
Setelah Indonesia merdeka, Pada awal tahun
1950 syahawa H.B. pindah ke jakarta bersama suami beliau, yaitu Letkol Hasan
Basri . di jakartaja beliau aktif di organisasi seperti kerukunan wanita riau,
koperasi wanita dan lain-lain.
4)
Khadijah Ali
Beliau adalah seorang tokoh pemuka masyarakat yang berasal dari
pekanbaru. Dia lahir di pekanbaru, pada tanggal 25 oktober 1925. Pendidika
terakhir adalah Diniyah Putri tahun 1938 di padang panjang. Tahun 1944 (zaman
jepang) beliau ekerja di bidang
organisasi wanita (fujinkai) bagian Hahanokai (penerangan). Kegiatan pada zaman
jepang adalah jahit-menjahit dan masak-memasak. Tahun 1946-1947, dia menjabat
sebagi ketua panitia pemberantas Buta Huruf (membaca menulis) atas nama
organisasi Aisyah. Beliau pernah menjadi
ketua kursus pendidikan umum bagian atas (KPUA) selam 3 bulan dengan mata
pelajaran jahit-menjahit, masak-memasak, dan pengetahuan umum. Beliau juga
pernah menjabat sebagi penasihat ahli di kantor BP4 sejak tahun 1963.
5)
Fatimah binti
suhil
Beliau adalah seorang perempuan melayu riau yang telah mendapat
pendiidkan kuliatul maulimat islamiah di padang panjang. Dia lahir di bagan
siapi-api pada tanggal 11 november 1925. Di siak ia aktif di redaksi riau koho
(surat kabar jepang) yang beranggotakan fatimah, misbah thaib, dan lain-lain.
Tahun 1944-1946 menjadi anggota palang merah dengan tugas memberi makan pasukan
gerilya, menjahit pakain dan lat perlengkapan tentara lainnya yang di datangkan
dari singapura. Kegiatan lain yang berhubungan dengan agama ialah memberi wirid
pengajian kepadakaum ibu dan berzanzi marhaban yang merupakan kegiatan kaum
perempuan yang dilaksanakan pada waktu upaara peserta pernikahan, khitan, dan
waktu mencukur rambut bayi berumur 40 hari.[4]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan perempuan melayu sebelum
1950 dalam masyarakat berperan dalam memajukan kaum perempuan dan kebudayang
melalui bidang pendidikan informal, formal, nonformal dan aktif dalam bidang
organisasi serta partai politik.
3.
Peranan
Perempuan Melayu dalam adat Pernikahan
Dalam adat pernikahan, perempuan melayu riau berperan anatara lain sebagai:
perhias, mak adam, penenun kain.
a. Penghias
Perempuan Melayu Riau berperan sebagai penghias tepak, yaitu
mengukir membentuk daun sirih. Tepak (tempat sirih,
pinang, kapur, gambir, dan tembakau) merupakan inti dari segala kegiatan Tanpa Tepak,
upacara pernikahan dianggap tidak beradat. Sebelum dipersembahkan, Tepak harus dihias dengan membentuk daun sirih dan pinang dengan ukuran
tertentu. Bagian luar/tutup tepak dengan kain tenun siak berbentuk bunga
sesuai dengan bunga terdapat dalam seni hias tenun Siak. Fungsi tepak
adalah sebagian pembuka kata dalam pertemuan adat. Selanjutnya beberapa tangkai
sirih yang telah diukir dibawa oleh pengantin laki-laki kerumah pengantin perempuan. Beberapa tangkai sirih yang yang
telah diukir disebut “bunga genggam” atau “bunga lelat”.
Selain menghiat tepak, perempuan melayu juga berperan mengukir kertas bunga atur ulur-ulur atau bendera hias pada tabak atau
kepuk. Menurut upacara adat daerah Bengkalis. Tabak
atau kepuk merupakan tempat nasi kunyit dan telur yang diletakkan
dihadapan pelaminan. Tabak berwarna merah dan berdiri dari beberapa tingkat, sesuai stratifikasi sosial masyarakat riau. Khusus nya yang berada dibawah naungan kerajaan siak.
Jika keturunan raja, tabak terdiri dari tujuh tingkat; keturunan tengkub
atau bangsawan, terdiri dari lima tingkat; dan orang kebanyakan terdiri
dari tiga tingkat. Nasi kunyit dan telur juga berfungsi dalam upacara khatam al qur’an yang dilengkapi dengan berzanzi
dan marhaban.
Mak Andam
Peran Mak Andam selain mengandam dan merias pengantin juga sebagi penjaga pintu masuk perempuan.
Setelah bersanding, sebelum pemimpin rombongan laki-laki membayar pajak untuk melawati pintu rumah pengantin perempuan, pintunya akan ditutup oleh mak andam dan kawan-kawannya dengan kain panjang.
Apabila pajak telah dibayar dan lolos dalam membalas pantun, pintu akan terbuka dan
pengantin laki-laki masuk, kemudian duduk disanggasana. Setelah
bersanding, tugas mak andam ialah memutar-mutar “bunga genggam” atau “bunga lelat” yang dibawa oleh pengantin laki-laki diatas kepala
kedua pengantin sebanyak tujuh kali, lalu “bunga/sirih lelat” tersebut
diletakkan ditengah tangga pelaminan sebagai lambang pernyataan cinta kasih antara pengantin laki-laki dan perempuan. Tanpa mak andam, adat istiadat pernikahan tidak dapat
dilaksanakan, walaupun pernikahan itu sah. Pernikahan baru resmi disebut beradat apabila tata-cara adat diikuti seperti yang telah diatur
oleh mak andam.
b.
Penemuan Kain
Tenun Siak
Kain tenun siak adalah hasil teknologi tradisional yang diusahakan
oleh perempuan melayu riau, khususnya di daerah Siak Indraapura . kain
tenun siak yang diperuntunkan bagi
perempuan baerupa kain dan baju kurung, sedangkan bagi laki-laki berupa teluk
belangga dan kain sarung.
B.
Peran Perempuan
Melayu Riau 1950-sekarang
Secara umum, peran perempuan masa
sekarang meliputi berbagai bidang, antara lain bidang; (1) pendidikan. (2)
masyarakat,
1. Bidang pendidikan
a. Pendidikan formal
Pendidikan formal menunjukkan pada pendidikan sistem persekolahan.
Pendidikan formal terstandardisir didalam hal jenjang jenjangnya, lama
belajarnya, perasyaratan usia, prosedur evaluasi hasil belajrnya, penyajian
materi dan latihan-latihannya, dan bahkan pada persyaratan resensi, waktu
liburan, serta dan sumbangan pendidikannya. Peranan perempuan mealayu riau
meningkatkan sejalan dengan lajunya pendidikan baik sebagai guru, pemimpin
organisasi maupun sebagi pengusaha.
b. Pendidkan nonformal
Pendidikan nonformal relatif lentur dan berjangka pedek
penyelenggaraannya dibandingkan dengan pendidikan formal. Dalam pendidikan
nonformal kegiatan kaum perempuan adalah dalam bentuk kursus-kursus.
2. Bidang masyarakat (organisasi)
Beberapa perempuan melayu riau berperan aktif dalam organisasi
kemasyarakatan seperti organisasi sosial aisyah di pekanbaru yang dipimpin oleh
Khadijah Ali dan organisasi aljamiatul Washiliyah yang dipimpin oleh
Hj.faridah.
Selanjutnya peran perempuan melayu riau telah meningkatkan dengan
yaitu sebagi anggota DPRD seperti : R. Hatijah dari Tanjung pinang. Maimanah
Umar dan lain-lain dari pekanbaru, sedangkan fatimah binti suhil duduk di
organisasi wanita Alhidayah di bawah maungan
Golkar.
KESIMPULAN
Peran perempuan melayu riau sebelum tahun 1950 lebih banyak dalam
keluarga, baik sebagi istri, ibu, maupun berwiraswasta (bo me industry)
walaupun demikian, perempuan melayu riau tetap ikut berjuang seperti, Cik Puan
yang telah ikut berjuang pada masa pemerintahan Sultan Siak V, Sultan Assyaidis
Syarif Ali Abdul Jalil Syarifudin (1784-1810) dalam usaha pengembangan wilayah
ke kuasaan kerajaan siak.
Beberapa
perempuan melayu riau telah memajukan pendidikan di awal abad ke-20 dengan
berjuang melalui peningkatan pendiidkan formal dan non formal kaum perempuan .
kaum perempuan melayu riau juga telah memajukan bidang kesenian, meliputu seni
suara, seperti barzanzi dan marbaban . seni menghias dan mengukir
alat-alat perlengkaapn pernikahan yang bernafaskan kemelayuan riau, seperti
membuat kain tenun siak, juga dilakukan perempuan.
Peran perempuan melayu riau meningkat sesuai dengan perkembangan
zaman, terutama sesudah tahun 1950. Sebagian besar perempuan melayu riau
bekerja di jawatan pemerintah, bahkan telah duduk menjadi anggota DPRD. Dengan
demikian pemrintahan, bahkan telah menunjukkan kemampuan kaum perempuan melayu
riau dalam berjuang mencapai masyarrakat adil dan mamur berdasarkan pancasila
dan undang- undang 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar