Senin, 19 Agustus 2019

PERANAN PEREMPUAN­­­­-PEREMPUAN MELAYU DULU DAN SEKARANG


PERANAN PEREMPUAN­­­­-PEREMPUAN MELAYU DULU DAN SEKARANG

 
















Di susun oleh:

Muhammad Yusra












PEMBAHASAN
Latar Belakang
Budaya Melayu telah ada dan berkembang sejak lama hingga kini. Masyrakat melayu sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang bersumber dari ajaran agama islam. Tradisi islam sangat kental dengan tradisi melayu.
Perempuan melayu riau telah memajukan kebudayaan daerahnya bersama kaum laki-laki, namun perannya belum banyak kita ketahui dalam keluarga maupun masyarakat. Berbagai tulisan tentang tokoh laki-laki melayu riau relatif lebih banyak dibandingkan dengan tokoh perempempuan. Keadaan ini mendorong penulis untuk mempelajari peran perempuan melayu riau dan tokohnya yang telah berperan dalam kebudayaan Melayu Riau.
Dalam hal ini penulis menjelaskan tentang penan perempuan-perempuan, dulu dan sekarang. Agar orang bisa lebih megetahui peranan perempuan melayu khususnya Riau, karena penting sebagai generasi muda untuk mengetahui bagaimana seorang perempuan sangat berperan penting dalam memajukan kebudayaan melayu.  
Dalam makalah akan dibahas mengenai peranan perempuan-perempuan dulu dan sekarang, makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah islam dan tamadun melayu.






PERANAN PEREMPUAN­­­­-PEREMPUAN MELAYU DULU DAN SEKARANG
            Dalam kamus bahasa indonesia kata “peranan” mempunyai arti “ bagian yang dimainkan seorang pemain: tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu pristiwa”. Sedangkan menurut Soerjo soekanto (2005) mengemukakan bahwa :
“apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai  dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan.
Jadi, yang dimaksud peranan perempuan Melayu, dulu dan sekarang adalah “tindakan atau pelaksanaan hak dan kewajiban perempuan-perempuan melayu sesuai dengan kedudukan dulu dan sekarang. Kata” dulu yang dimakasud adalah” perempuan Melayu sebelum tahun 1950. Sedangkan “sekarang” yang dimaksud adalah perempuan Melayu saat ini”.
Sementara itu, wilayah melayu adalah daerah yang cukup luas di Indonesia dari daerah Nanggroe Aceh Darussallam hingga Jakarta. Kali ini, dibahas lebih banyak mengenai perempuan Melayu Riau.
A.    Peranan Perempuan melayu Riau sebelum 1950
Kebudayaan melayu riau diwarnai oleh unsur-unsur islam. Oleh karena itu tingkah laku masyarakat melayu selalu berpedoman pada norma-norma islam, terutama kaum perempuan. Dalam hadist disebutkan bahwa “wanita adalah tiang agama. Apabila ia baik, maka Negara akan baik. Dan apabila ia rusak, maka Negara akan rusak”. Hadist tersebut hendaknya selalu dijadikan pedoman setiap insan agar setiap perempuan menjadi pedoman dalam segala tindak-tanduk untuk mencapai suatu Negara yang baik.
Pada tahun 1950-an peranan perempuan pada umum nya masih  banyak berkisar dalam urusan keluarga atau rumah tangga, karenaadat masih mengikat perempuan, sehingga dapat dikatakan perempuan Melayu Riau pada priode sebelum 1950 lebih berperan dalam keluarga. Namun perannya dalam masyarakat sudah ada, walaupun belum menonjol.[1]
1.      Peranan Perempuan Melayu dalam Keluarga
Peran perempuan Melayu Riau dalam keluarga selanjutnya diuraikan sebagai berikut.
a.       Sebagai istri
Perempuan sebagai istri berfungsi sebagai pendamping suami yang menjadi kawan hidup teman berjuang, dalam hal ini istri harus dianggap menjadi :
1)      Kekasih;
2)      Sahabat; dan
3)      Ibu.
Pada umumnya “Perempuan Melayu Riau” masih dapat melaksanakan fungsinya sebagai seorang istri, sepeti ditentukan oleh ajaran Islam, sehingga jarang Perempuan Melayu Riau berbuat curang kepada suaminya. Hal itu membuat sebagian besar laki-laki melayu Riau mempunyai istri lebih dari satu.
b.      Sebagi ibu
Ibu adalah tumpukan dalam rumah tangga. Begitu besar dan pentingnya peran ibu. Nabi Muhammad saw. Bersabda “Surga terletak ditelapak kaki ibu”. Hadist ini mengingatkan agar setiap orang menghormati kedua orang tuanya. Disamping itu, kaum laki-laki harus pandai menjaga “Surga” tersebut. Apabila kaum laki-laki dan kaum perempuan sama-sama menjaganya, maka keselamatan hidup didunia dan diakhirat akan terjamin.
Selanjutnya timbul pertanyaan, “ Siapakah yang diutamakan dalam berbakti terhadap kedua orang tua kita?” Rasulullah Muhammad saw. Menjawab, “ibumu, sesudah itu ayah”(Hamka, 1973: 41) . hadist itu menekankan besarnya peran perempuan sebagai seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan pembinaan dalam kasih sayang. Suasana rumah tangga yang tenang dan bahagia merupakan modal yang baik dalam pembentikan pribadi anak. Hal yang dapat dilakukan perempuan dalam pembentukan pribadi anak antara lain:
1)   pertama, dengan menyanyikan lagu yang dipilih adalah yang mengandung makna pendidikan, seperti lagu salawat nabi dan mengagungkan nama Allah. Dengan begitu, perempuan telah mengajarkan agama, sehingga anak dapat mengenal kata Laa Ilaahaillallah Muhammadurrasulullah, dan kata lain yang bernafaskan agama.
2)   Kedua, dengan bercerita, ketika anak berumur 3-10 tahun. Dalam hal ini (nenek, makcik, dan sebagainya) harus sering bercerita saat anak atau cucunya hendak tidur. Cerita yang disajikan misalnya cerita Anak Durhaka, si miskin, anak yang sombong, kancil yang cerdik, dan sebagainya yang berhubungan dengan pendidikan. Secara tidakn langsung cerita ini dapat membentuk sikap dan watak anak, sehingga anak dapat membedakan hal baik dan buruk, hal yang berdosa dan hal yang berpahala.
3)   Ketiga, dengan membawa anak-anak solat berjamaah, setidak-tidaknya waktu maghib, karena hal ini akan membiasakan anak melakuakan ibadah.
4)   Keempat, menyekolahkan anak minimal sekolah daerahnya (sekolah agama dan sekolah umum), dan jika mampu disekolahkan kejenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian ibu telah membentuk moral, sikap, dan memberi “ajar” untuk memelihara nilai-nilai sejak dini, serta telah mengawali peroses sosialisasi dalam mengenal dan memelihara kebudayaan. Peran ibu dalam keluarga sangat besar dalam membina masa depan anak.



2.      Peran perempuan melayu dalam masyarakat
      Pada umumnya, perempuan melayu riau baru berkecimpung dalam masyarakat setelah berkembang pendidikan, baik yang bersifat formal maupun non-formal. Dalam hal ini penulis akan menguraikan beberapa tokoh perempuan melayu riau yang diketahui, terutama yang pernah menyumbang tenaga maupun pemikirannya dalam meningkatkan peran perempuan melayu, baik dalam organisasi masyarakat maupun dalam pendidikan. Uraian peran perempuan dalam masyarakat melayu akan dibagi atas dua periode, yaitu sebelum tahun 1945 dan periode setelah tahun 1945.
a.       Periode sebelum tahun 1945
1)      Dang mardu.
      Ia adalah tokoh perempuan melayu riau yang telah berhasil mendidik anaknya menjadi seorang laksamana, yaitu laksamana hang tuah. Hang tuah terkenal dengan perjuanngannya disekitar selat malaka, walaupun dia berasal dari rakyat biasa.
2)      Cik puan.
      Pada masa perempuan sultan siak v, yaitu sultan assyaidis syarif ali abdul jalil syarifuddin (1784-1810), kerajaan siak terkenal mempunyai dua belas daerah jajahan, bahkan masih mengadakan penyerangan kekerajaan sambas di Kalimantan barat. Dalam penyerangan ini, peran srikandi siak yang bernama cik puan juga besar. (Lutfi, 1977: 235)
3)      Tengku agung.
      Tengku agung adalah permaisuri sultan siak, sultan syarif kasim II. Perannya dalam memajumkan kaumnya ialah mendirikan sekolah perempuan yang bernama latifah school, pada tahun 1926. Masa pendidikan di sekolah itu di tempuh selama 3 tahun, dengan beberapa guru, yaitu:
a)      Halimah Batang Taris dari Pematang Siantar yang mengajar bahasa belanda;
b)      Encik Saejah, istri Encik muhayan dari siak, mengajar jahit-menjahit; dan
c)      Zaidar dari Payakumbuh, mengajar masak-masak.
      Di samping sekolah umum, sekolah agama pun telah maju baik untuk kaum perempuan maupun untuk laki-laki. Sekolah untuk kaum perempuan yang bernama madrasatun nisak yang terdiri dari dua tingkat ibtidaiyah, Selama 5 tahun dan tingkat tsanawiyah, selama 2 tahun.[2]

b.      Priode setelah tahun 1945
1)      Tengku maharatu
Tengku Maharatu adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua, setalah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggalkan dunia. Beliau melanjutkan perjuangan kakaknya dalam meninggalkan kedudukan kaum perempun di siak dan sekitarnya, yaitu mengajarkan cara bertenun yang kemudaian dikenal dengan nama ‘’tenun siak” Tenun Siak yang merupakan hasil karya kaum perempuan telah menjadi pakaian adat melayu riau yang dipergunakan dalam pakaian adat perkawinan disamping upacara lainnya. Kembali pada masalah pendidikan berkat perjuangan permaisuri pertama dan dilanjutkan oleh permaisuri kedua mereka yang tamat sekolah Madrasatuk Nisak, dapat menjadi Mubalighat, dan memberi dakwah terutama kepada kaum perempuan.
2)      Raja Khodijzh binti h. Usman
Beliau lahir di daik lingga 21 februari 1919 dan pendidikannya adalah inlandese school (5 tahun ) di daik, tamat tahun 1932. Pendidikan terakhir kweek school mienews still (gaya baru) di tanjung pinang tahun 1937 sebagai pemimpin Aisiah Muhammadiyah, kemudian pada zaman jepang ikut aktif dalam organisasi wanita (fujinkai).
Pada masa agresi ke dua aktif dalam organisasi BKIR (Badan Kebangsan Indonesia Riau ) dan KRIR (Kaimoyapan Rakyat Indonesia Riau). Tahun 1951 mulai ikut berpolitik dan memasuki partai islam. Sekarang menjadi anggota DPRD Tk. ll kepulauan Riau mewakili Partai Persatuan Pembangunan. Dari pendidikan dan kegiatan atau pengabdiannya sesuian dengan priode angkatan 45 beliau telah mempunyai keinginan besar untuk memajukan perempuan melayu riu seperti perempuan lainnya yang telah dapat membuka matanya untuk melihat kemajuan yang ada dilingkungannya atau pada zamannya.[3]
3)         Syahawa H.B.
Adalah seorang perepuan melayu riau yang telah ikut berjuang untuk memajukan kaumnya di riau. Pendidikannya adalah HIS di siak sri indrapura dank week school di bukit tinggi (sekolah pendidikan guru). pada zaman jepag dia dikrimkan ke padang untuk mengikuti kursus pertenunan.
Sapai tahun 1940 dapat dikatakan bahwa dia adalah sedikit contoh di antara wanita terpelajar di melayu terutama jahit enjahit dan tenunan siak. Pada tanggal 16 juli 1945 dia menikah dengan  hasan basri. Pada tanggal 22 oktober 1945 hasan basri diangkat sebagai pemimpin TNI di riau dala aa perjuangan pertahanan kemerdekaan RI, Syahwa menjabat sebagai ketuan organisasi ibu-ibu TNI  yang bertugas memberikan informasi pada masyarakat umum dan kaum ibu tentang makna dan tujuan perjuangan, agar mendapat dukungan dari masyarakat dan sekaligus mengumpulkan bahan makanan dan sumbangan untuk dikirim kegaris depan.\
Pada tanggal 16 september 1949 Syahwa di sergap oleh belanda. Saat dia bersembunyi di sekitar siak sri indrapura untuk menunggu kelahiran bayinya yang ketiga. Oleh karena pandai berbahasa belanda, maka dia dapat menghadap perwira distrik KNIL.
Selama di siak selalu mengadakan kegiatab bagi kaum perempuan, terutama jahit-menjahit dan tenunan siak. Syahawa perna menjabat sebagai ketua organisasi ibu-ibu TNI yang bertugas memberikan informasi pada masyarakat umum dan kaum ibu tentang makna dan tujuan perjungan.
Setelah Indonesia merdeka, Pada awal tahun 1950 syahawa H.B. pindah ke jakarta bersama suami beliau, yaitu Letkol Hasan Basri . di jakartaja beliau aktif di organisasi seperti kerukunan wanita riau, koperasi wanita dan lain-lain.
4)      Khadijah Ali
Beliau adalah seorang tokoh pemuka masyarakat yang berasal dari pekanbaru. Dia lahir di pekanbaru, pada tanggal 25 oktober 1925. Pendidika terakhir adalah Diniyah Putri tahun 1938 di padang panjang. Tahun 1944 (zaman jepang) beliau  ekerja di bidang organisasi wanita (fujinkai) bagian Hahanokai (penerangan). Kegiatan pada zaman jepang adalah jahit-menjahit dan masak-memasak. Tahun 1946-1947, dia menjabat sebagi ketua panitia pemberantas Buta Huruf (membaca menulis) atas nama organisasi  Aisyah. Beliau pernah menjadi ketua kursus pendidikan umum bagian atas (KPUA) selam 3 bulan dengan mata pelajaran jahit-menjahit, masak-memasak, dan pengetahuan umum. Beliau juga pernah menjabat sebagi penasihat ahli di kantor BP4 sejak tahun 1963.
5)      Fatimah binti suhil
Beliau adalah seorang perempuan melayu riau yang telah mendapat pendiidkan kuliatul maulimat islamiah di padang panjang. Dia lahir di bagan siapi-api pada tanggal 11 november 1925. Di siak ia aktif di redaksi riau koho (surat kabar jepang) yang beranggotakan fatimah, misbah thaib, dan lain-lain. Tahun 1944-1946 menjadi anggota palang merah dengan tugas memberi makan pasukan gerilya, menjahit pakain dan lat perlengkapan tentara lainnya yang di datangkan dari singapura. Kegiatan lain yang berhubungan dengan agama ialah memberi wirid pengajian kepadakaum ibu dan berzanzi marhaban yang merupakan kegiatan kaum perempuan yang dilaksanakan pada waktu upaara peserta pernikahan, khitan, dan waktu mencukur rambut bayi berumur 40 hari.[4]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan perempuan melayu sebelum 1950 dalam masyarakat berperan dalam memajukan kaum perempuan dan kebudayang melalui bidang pendidikan informal, formal, nonformal dan aktif dalam bidang organisasi serta partai politik.
3.      Peranan Perempuan Melayu dalam adat Pernikahan
Dalam adat pernikahan, perempuan melayu riau berperan anatara lain sebagai: perhias, mak adam, penenun kain.
a.       Penghias
Perempuan Melayu Riau berperan sebagai penghias tepak, yaitu mengukir membentuk daun sirih. Tepak (tempat sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau) merupakan inti dari segala kegiatan Tanpa Tepak, upacara pernikahan dianggap tidak beradat. Sebelum dipersembahkan, Tepak harus dihias dengan membentuk daun sirih dan pinang dengan ukuran tertentu. Bagian luar/tutup tepak dengan kain tenun siak berbentuk bunga sesuai dengan bunga terdapat dalam seni hias tenun Siak. Fungsi tepak adalah sebagian pembuka kata dalam pertemuan adat. Selanjutnya beberapa tangkai sirih yang telah diukir dibawa oleh pengantin laki-laki kerumah pengantin perempuan. Beberapa tangkai sirih yang yang telah diukir disebut “bunga genggam” atau “bunga lelat”.
Selain menghiat tepak, perempuan melayu juga berperan mengukir kertas bunga atur ulur-ulur atau bendera hias pada tabak atau kepuk. Menurut upacara adat daerah Bengkalis. Tabak atau kepuk merupakan tempat nasi kunyit dan telur yang diletakkan dihadapan pelaminan. Tabak berwarna merah dan berdiri dari beberapa tingkat, sesuai stratifikasi sosial masyarakat riau. Khusus nya yang berada dibawah naungan kerajaan siak. Jika keturunan raja, tabak terdiri dari tujuh tingkat; keturunan tengkub atau bangsawan, terdiri dari lima tingkat; dan orang kebanyakan terdiri dari tiga tingkat. Nasi kunyit dan telur juga berfungsi dalam upacara khatam al qur’an yang dilengkapi dengan berzanzi dan marhaban.
Mak Andam
Peran Mak Andam selain mengandam dan merias pengantin juga sebagi penjaga pintu masuk perempuan. Setelah bersanding, sebelum pemimpin rombongan laki-laki membayar pajak untuk melawati pintu rumah pengantin perempuan, pintunya akan ditutup oleh mak andam dan kawan-kawannya dengan kain panjang. Apabila pajak telah dibayar dan lolos dalam membalas pantun, pintu akan terbuka dan pengantin laki-laki masuk, kemudian duduk disanggasana. Setelah bersanding, tugas mak andam ialah memutar-mutar “bunga genggam” atau “bunga lelat” yang dibawa oleh pengantin laki-laki diatas kepala kedua pengantin sebanyak tujuh kali, lalu “bunga/sirih lelat” tersebut diletakkan ditengah tangga pelaminan sebagai lambang pernyataan cinta kasih antara pengantin laki-laki dan perempuan. Tanpa mak andam, adat istiadat pernikahan tidak dapat dilaksanakan, walaupun pernikahan itu sah. Pernikahan baru resmi disebut beradat apabila tata-cara adat diikuti seperti yang telah diatur oleh mak andam.



b.      Penemuan Kain Tenun Siak
Kain tenun siak adalah hasil teknologi tradisional yang diusahakan oleh perempuan melayu riau, khususnya di daerah Siak Indraapura . kain tenun  siak yang diperuntunkan bagi perempuan baerupa kain dan baju kurung, sedangkan bagi laki-laki berupa teluk belangga dan kain sarung.
B.     Peran Perempuan Melayu Riau 1950-sekarang
Secara umum, peran perempuan masa sekarang meliputi berbagai bidang, antara lain bidang; (1) pendidikan. (2) masyarakat,
1.      Bidang pendidikan
a.       Pendidikan formal
Pendidikan formal menunjukkan pada pendidikan sistem persekolahan. Pendidikan formal terstandardisir didalam hal jenjang jenjangnya, lama belajarnya, perasyaratan usia, prosedur evaluasi hasil belajrnya, penyajian materi dan latihan-latihannya, dan bahkan pada persyaratan resensi, waktu liburan, serta dan sumbangan pendidikannya. Peranan perempuan mealayu riau meningkatkan sejalan dengan lajunya pendidikan baik sebagai guru, pemimpin organisasi maupun sebagi pengusaha.
b.      Pendidkan nonformal
Pendidikan nonformal relatif lentur dan berjangka pedek penyelenggaraannya dibandingkan dengan pendidikan formal. Dalam pendidikan nonformal kegiatan kaum perempuan adalah dalam bentuk kursus-kursus.

2.      Bidang masyarakat (organisasi)
Beberapa perempuan melayu riau berperan aktif dalam organisasi kemasyarakatan seperti organisasi sosial aisyah di pekanbaru yang dipimpin oleh Khadijah Ali dan organisasi aljamiatul Washiliyah yang dipimpin oleh Hj.faridah.
Selanjutnya peran perempuan melayu riau telah meningkatkan dengan yaitu sebagi anggota DPRD seperti : R. Hatijah dari Tanjung pinang. Maimanah Umar dan lain-lain dari pekanbaru, sedangkan fatimah binti suhil duduk di organisasi wanita Alhidayah di bawah  maungan Golkar.

KESIMPULAN
Peran perempuan melayu riau sebelum tahun 1950 lebih banyak dalam keluarga, baik sebagi istri, ibu, maupun berwiraswasta (bo me industry) walaupun demikian, perempuan melayu riau tetap ikut berjuang seperti, Cik Puan yang telah ikut berjuang pada masa pemerintahan Sultan Siak V, Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syarifudin (1784-1810) dalam usaha pengembangan wilayah ke kuasaan kerajaan siak.
Beberapa perempuan melayu riau telah memajukan pendidikan di awal abad ke-20 dengan berjuang melalui peningkatan pendiidkan formal dan non formal kaum perempuan . kaum perempuan melayu riau juga telah memajukan bidang kesenian, meliputu seni suara, seperti barzanzi dan  marbaban . seni menghias dan mengukir alat-alat perlengkaapn pernikahan yang bernafaskan kemelayuan riau, seperti membuat kain tenun siak, juga dilakukan perempuan.
Peran perempuan melayu riau meningkat sesuai dengan perkembangan zaman, terutama sesudah tahun 1950. Sebagian besar perempuan melayu riau bekerja di jawatan pemerintah, bahkan telah duduk menjadi anggota DPRD. Dengan demikian pemrintahan, bahkan telah menunjukkan kemampuan kaum perempuan melayu riau dalam berjuang mencapai masyarrakat adil dan mamur berdasarkan pancasila dan undang- undang 1945.




[1] Koentjaraningrat, dkk, Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan,Yogyakarta : adicita karya nusa, 2007, hlm 524-525
[2] Hlm.526-528
[3] S. Budhisantoso, dll, Masyarakat Melayu Riau Dan Kebuidayaan. Pekanbaru: Pemerintahan Provinsi Tigkat I Riau. Hlm 269
[4] Hlm. 530-532

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...