Senin, 19 Agustus 2019

ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN KOGNITIF)


ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN KOGNITIF)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK


A.      Aspek Perkembangan Anak ( Perkembangan kognitif)
1.      Pengertian Perkembangan Kognitif
Kognitif adalah proses berfikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepadda ide-ide belajar.[1]
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek pertumbuhan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan). Semua proses psikologis yang berkaitan dengan indra mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Menurut Myers (1996), “cognition refers to all the mental aktivities associated with thinking, knowing and remembering.” Pengertian yang hamper senada juga diberikan oleh Margaret W. Matlin (1994), yaitu: “cognition, or mental activity, involves the acquisition, storage, retrieval, and use of  knowledge.” Dalam  Dictionary of Psychology  karya Drever, dijelaskan bahwa “kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian dan penalaran” (Kuper & Kuper, 2000), kemudian dalam  Dictionary of Psychologykarya Chaplin (2002), dijelaskan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat, mempperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai. Secara tradisional, kognisi ini dipertentangkan dengan konasi (kemauan) dan dengan afeksi (perasaan).
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa kognitif adalah sebuah istialah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkan sesorang memperoleh pengetahuaa, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psokologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya. [2]
Pada usia ini, cara berfikir anak ditandai dengan kreativitas, bebas, dan penuh imaginasi/daya khayal. Hal ini  tampak pada gambar-gambar yang dibuat, missal: menggambar langit dengan warna hijau, pohon warna ungu, dan mobil berjlan di atas awan.
Perkembangan kognitif merupakan perubahan kemampuan berfikir atau intelektual. Seperti juga kemapuan fisik, banyak ulama Islam membagi perkembangan kognitif berdasarkan empat periode, yang diturunkan dari ayat berikut ini:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembli) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Al-Ruum [30]:54)
a.    Periode Perkembangan
Periode ini adalah tahap dimana kemampuan berfikir manusia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama pada masa awal kelahirannya.Pada tahap ini kemampuan berfikir manusia berkembang sampai mencapai kemaatangan yang sejalan dengan pertumuhan otak manusia secara fisiologis.
b.    Periode Pencapaian Kematangan
Penalaran orang dewasa semakin berkembang, karena mereka lebih berpengalaman dan banyak belejar. Mereka dapat berfikir tentang sesuatu melaui proses berfikir logis dan abtraksi yang lebih kaya. Dengan meningkatnya usia seseorang menjadi lebih memahami beberapa konsep abstrak, seperti keadilan, kebenaran,  dan hak asasi.
c.    Periode Tengah Baya
Pada usia 40 tahun, manusia memasuki usia dengan kematangan pemikiran yang lebuh baik. Pengalaman yang mereka lalui semakin banyak, sehingga dengan banyaknya belajar mereka lebih memiliki kebijaksanaan.
d.   Periode Lanjut Usia
Pada periode lanjut usia, terjadi berbagai penurunan kemampuan berfikir. Mereka juga lebih banyak mengingatmasa lalu dan sering kali melupakan apa yang baru diperbuatnya.[3]


2.      Fase-fase Perkembangan Kognitif
a.         Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Salah satu teori perkembangan kognitif yang terkenal yaitu dari Jean Peaget (1896-1980). Piaget membagi menjadi empat tahap yang masing-masing memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)        Tahap Sensori-Motorik (0-2 tahun), karakteristiknya:
a)    Intelegensi tampak dalam bentuk aktivitas motoric sebagai respons stimulasi sensorik.
b)   Awalnya refles, kemudian ada diferensiasi yang jelas antara subjek dan objek.
c)    Terjadinya permanensi objek.
d)   Ada proded desentrasi.
2)        Tahap Pra Operasional (2-7 tahun), karaskteritiknya:
a)    Penguasaan bahasa yang sisrematis.
b)   Permainan simbolis.
c)    Imitasi (tidak langsung).
d)   Bayangan dalalm mental.
e)    Berfikir egosentris.
f)    Centralized (memusat).
g)   Irreversible(tidak dapat dibalik).
h)   Terarah statis.
3)        Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
a)    Egosentris berkurang.
b)   Desentrasi bertambah.
c)    Reversibilitas.
d)   Aktivitas logis (tetapi konkrit).
e)    Seriasi (mengatur secara serial).
f)    Klasifikasi.
g)   Konservasi.
4)        Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas)
a)    Hipotesis dedukatif.
b)   Akomodatif dan fleksibel.
c)    Berfikir proposisioanal.
d)   Berfikir kombinatoris.[4]

b.      Perkembangan Kognitif Masa Kanak-kanak Awal (2-7 tahun)
1)   Teori Piaget
Berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget, maka pada masa kanak-kanak awal ini ada pada tahap pra-operasional.Disebut pra-operasional karena pada masa ini anak bekum siap untuk terlibat dalam operation atau manipulasi mental yang mensyaratkan pemikiran logis.
Menurut Piaget, pada tahap ini pemikiran anak makin kompleks dan mampu menggunakan pemikiran simbolis. Pada berfikir simbolis, anak mengembangkan kemampuan unntuk membayangkan secara mentalsuatu objek yang tidak ada.Kemampuan untuk berfikir simbolis semacam itu disebut fungsi simbolis. Anak-anak prasekolah menunjukkan fungsi simbolis melalui imitasi tertunda (deffered imitation), bermain sandiwara (pretend play), dan kemampuan menggunkan system simbol (kata) untuk komunikasi (Papalian, dkk., 2008).
Piaget membagi perkembangan kognitif terhadap praoresional ini menjadi dua bagian, yaitu:
a)   Umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembanganpemikiran simbolis, yaitu berupa gambaran dan bahasa ucapan.
b)   Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh pemikiran intuitif.

2)   Teori Pemrosesan Informasi
a)   Perhatian
Kemampuan anak untuk memusatkan perhatian berubah secara signifikan selama tahun-tahun prasekolah. Bila sebelum usia dua tahun anak sangat mudah beralih satu kegiatan ke kgiatan lain, maka anak prasekolah sudah mampu memusatkan perhatian dan pikirannya dalam rentang waktu yang agak panjang pada suatu kegiatan, misalnya saat bermain balok-balok kecil (permainan lego), bermain boneka, dan menonton televise. Namun perhatian mereka masih terpusat pada hal-halyang menarik perhatian dan bukan pada dimmensiyang relevan untuk memecahkan masalah atau mengerjakan tuggas dengan baik.[5]
b)   Memori Ingatan
Penelitian Nancy Myers dkk.Pada 1987 (Santrock, 1995) menemukan bahwa pengalaman seorang bayi berusia enem bulan ternyata masih diingat oleh bayi hingga dua tahun kemuudian apabila peristiwanya diulang kembali.
c)   Analisis Tugas
Menurut para pakat piskologi pemrosesan informasi, apabila tugas-tugas dibuat menarik dan sederhana, maka ada kemungkinan anak-anak menunjukkan kematangan kognitif yang lebih besar dari pada yang dikemukakan oleh Piaget.
d)  Pikiran Anak
Kesadaran bahwa pikiran itu ada, ternyata suudah dimiliki oleh anak walaupun masih terbatas.Perkembangan pengetahuan pertama adalah mengetahui bahwa pikiran itu ada. Pada usia 2-3 tahun, pikiran anak-anak mengacu pada kebutuhan, emosi, dan keadaan mentalnya.

3)   Teori Lev Vygotsky
Sama halya dengan Pieget, Vygotsky juga menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka sendiri.Tetapi menuurut Vygotsky, fungsi mental memiliki koneksi sosial. Anak-anak mengembangkan konsp-konsep lebih sistematis, logis dan rasional sebagai akibat bercakap-cakap dengan orang lain yang ahli. [6]

3.      Aspek-aspek Perkembangan Kognitif
Piaget dalam Dahar(1989-156)  mengemukakan ada empat aspek yang besar yang ada hubungannya dengan perkembangan kognitif. Keempat aspek tersebur, yaitu:  (1) Pendewasaan; (2) Pengalaman fisik; (3) Interaksi Sosial; (4) Ekuilibrasi.
Pendewasaan merupakan pengembangan dari susunan syaraf, misalnya kemampuan mengepal dan menendang disebabkan oleh kematangan yang sudah dicapai oleh sususan syaraf dari individu.Anak hrus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulus dalam lingkungan tempat ia breaksi terhadap benda-benda itu. Akomodasi dan asimilasi tidak dapat berlangsung kalau tidak ada interaksi antara individu dengan lingkungannnya. Anak tidak hanya harus mempunyai pengalaman berinteraksi, tetapi ia juga harus mengadakan aksi terhadap lingkungannya.
Interaksi sosial adalah pertukaran ide (gagasan) antara individu dengan individu (teman sebaya, orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya).Keseimbangan atau penyeimbangan dipandang sebagai suatu system pengaturan diri (internal) yang bekerja untuk menyelaraskan peranan pendewasaan/kematangan, pengalaman fisik, dan interaksi sosial.[7]

4.    Prinsip-prinsip Perkembangan Kognitif
Dalam membantu perkembangan kpgnitif anak seharusnya dilakukan dengan memegang beberapa prinsip agar dalam pellaksanaannya tidak justru menghambat perkembangannya. Berikut ini beberapa prinsip yang dapat digunakan mendukung perkembangan kognitif anak:
a.    Memberikan banyak kesempatan.
b.    Membantu anak memahami informasi yang diterima.
c.    Katakan pada anak apa yang terjadi.
d.   Berikan contoh yan baik.
e.    Bantulah anak untuk mengingat sesuatu.
f.     Memberikn motivasi.
g.    Memberikan permainan.
h.    Biarkan anak bereksplorasi.[8]

5.    Karakteristik Kognitif Anak Usia sekolah Dasar
Mengacu pada teori kognitif piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap pemikiran konkret-operasional (concrete operasional thought). Yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya.  Menurut Piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis diantara konsep-konsep atau sekma-skema. Sedangkan operasi konkret adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkret dapat di ukur.[9]
Tahap operasional konkret merupakan tahap ke tiga dari tahap-tahap perkembangan kognitif menurut piaget.Pada tahap ini anak sudah melakukan penalaran secara logis untuk hal-hal yang bersifat konkret.Sedangkan hal-hal yang bersifat abstrak masih belum mampu.Selama masa SD terjadi perkembangan kognitif yang pesat pada anak.Anak mulai belajar membentuk sebuah konsep melihat hubungan dan memecahkan masalah pada situasi yang tidak asing lagi bagig dirinya.Anak juga sudah mulai bergeser dari pemikiran egosentris ke pemukiran yang objektif (Slavin, 2011:5051).Anak mampu mengerti adanya perpindahan pada hal yang konkret serta sudsh memahami persoalan akibat-akibat. Anak mampu memaknai suatu tindakan dianggap baik atau buruk dari akibat yang ditimbulkan (Suparni, et.al., 2002:56).
beberapa penjelasan tersebut dapat menggambarkan bahwa anak usia sekolah dasar membutuhkan objek konkret dan situasi yang nyata bagi anak sebagi metode atau media untuk memudahkan anak dalam berfikir logis, membuat klasifikasi objek, membentuk kkonsep, melihat hubungan dan memecahkan masalah.[10]

6.    Implikasi Perkembangan Kognitif dalam Proses Pembelajaran
Teresa M. MeDevitt dan Jeanne Ellis Ormrod (2002) menyebutkan beberapa implikasi teori Piaget bagi guru-guru di sekolah , yaitu:
a.       Memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan eksperimen terhadap objek-objek fisik dan fenomena-fenomena alam.
b.      Megeksplorasi kemampuan penalaran siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pemberian tugas-tugas pemecahan masalah.
c.       Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget menjadi acuan dalam menginterprestasikan tingkah laku siswa dan mengembangkan rencana pembelajaran.
d.      Tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget juga memberikan petunjuk bagi para guru dalam memilih stategi pembelajaran yang lebih efektif pada tingkat kelas yang berbeda.
e.       Merancang aktivitas kelompok di mana siswa berbagi pandangan dan kepercayaan dengan siswa lain.[11]

























DAFTAR PUSTAKA

Susanto,Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini (Pengajar dalam Berbagai Aspek).Jakarta: Kencana Pernada Media Group.

Desmita. 2015. Psikologi Perkembangan,.Bandung : Remaja Rosdakarya.

Purwakania Hasan,Aliah B. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta: RajaGrafindo.

Soetjinigsih, Cristiana Hari. 2012. Perkembangan Anak. Jakarta: Prenada.



Desmita. 2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Trianingsih, Rima.2016. Pengantar Praktik Mendidik Anak Usia Sekolah Dasar. Vol.3 Nno.2





[1] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini (Pengajar dalam Berbagai Aspek), (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2011). hlm. 47
[2] Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2015), hlm. 103
[3] Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, (Jakarta: RajaGrafindo, 2006), hlm. 125-141
[4] Cristiana Hari Soetjinigsih, Perkembangan Anak, (Jakarta: Prenada, 2012), hlm. 193-194
[5]Ibid, hlm. 195
[6]Ibid, hlm. 199-201
[7]https://kangtofa.wordpress.com
[9] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 104.
[10] Rima Trianingsih,  Pengantar Praktik Mendidik Anak Usia Sekolah Dasar, 2016, 199-200, Vol.3 Nno.2
[11] Desmita,  Op.Cit., hlm. 112-113

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...