ASPEK
PERKEMBANGAN ANAK
(PERKEMBANGAN
BAHASA)
Disampaikan
Untuk Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah Psikologi Perkembangan Anak
1.
Aspek
Perkembangan Anak (Pekembangan Bahasa)
a.
Menyebutkan
periode perkembangan Bahasa
1)
Permulaan
Bicara
Tangisan bayi pada saat dilahikan merupakan suara pertama yang
dilakukan anak yang berfungsi untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena
sesudah dilahirkan anak harus bernapas
sendiri. Kira-kira pada usia 1-2 bulan bayi mendekut (cooing) dalam
bentuk suara”oo...”,”coo…” atau “goo…”, yang dilakukannya selama berinteraksi
dengan yang mengasuhnya. Pada usia sekitar tiga bulan, anak mulai meraban
(mengoceh) sampai kira-kira umur sembilan bulan, termasuk menggabungkan
kombinasi konsonan vocal seperti “ba..ba…ba..ba”, “da…da…da…da”. Mulai sekitar
bulan keempat sampai keenam maka ocehan bayi mempunyai fungsi komunikatif,
yaitu anak tidak mengoceh bergitu saja tetapi mengoceh sebagai reaksi terhadap
orang lain yang mengadakan kontak verbal dengannya. Pada usia sekitar 10 bulan
sudah dapat menirukan kata-kata, Van Ginneken mengemukakan bahwa anak mulai
menirukan kata-kata sekitar akhir tahun pertama yang disebut echo-lalie.
Meskipun mungkin belum merupakan peniruan yang betul, namun sudah mengandung
unsur peniruan yang cukup banyak.
2)
Kalimat
Satu Kata (Palingual)
Sekitar tahun pertama, yaitu antar 10-15 bulan (rata-rata 13
bulan), anak mengucapkan kata-kata yang pertama, suatu peristiwa yang
sangat dinantikan oleh setiap orangtua. Tidak berarti sebelumnya tidak ada komunikasi
antara bayi dan orangtuanya, karena bentuk komunikasi sebelumnya umumnya dengan
gerak tubuh dan dengan suaa bayi sendiri yang khas. Satu kata yang diucapkan
anak harus dianggap satu kalimat penuh. Misalnya, anak mengatakan “kursi” maka
hal itu apat berarti “saya mau duduk di kursi”, atau “mama harus duduk di
kursi”, atau “saya minta kursi untuk naik”, atau mengatakan “kue” dapat berarti
“saya mau kue itu” atau “itu kue”. Kata yang diucapkan tidak bisa dipandang
penyebutan objek yang murni, tetapi mempunyai isi psikologis yang bersifat
intelektual, emosional, dan sekaligus volisional, yaitu anak menunjukkan mau
atau tidak mau akan sesuatu hal.
Kata-kata pertama bayi meliputi nama oang yang penting baginya
(papa atau mama), binatang yang lazim (kucing, disebut denga istilah “pus”..),
dan beberapa kata lain; ternyata merupakan kata-kata pertama dari bayi-bayi
yang lahir 50 tahun yang lalu dan juga kata-kata pertama bayi-bayi masa kini.
3)
Kalimat
Dua Kata (Lingual Awal)
Sekitar bulan ke-18 hingga ke-24, anak mulai mengeluarkan kalimat
dua kata yang pertama. Anak sudah mempunyai kemungkinan yang lebih banyak untuk
menyatakan maksudnya dan untuk berkomunikasi walaupun masih dengan kata-kata
yang terbatas. Ada dua kelompok kata yang spesifik, yaitu kata-kata pivot
dan kata-kata tebuka. Kata-kata pivot yang sama dapat berbeda-beda artinya
dalam kombinasi dengan kata terbuka yang berlainan. Hal ini berarti bahwa dalam
kalimat dua kata anak sudah mampu untuk menyatakan berbagai maksudnya. Anak
sudah dapat menyatakan bentuk hubungan yang bermacam-macam.
Contoh
: pivotter buka dapaat berarti
gi susu tidak mau minum susu lagi
gi mama ingin
pegi dengan mama
gi mobil mobilnya
bau saja pergi
Kalimat dua kata ini bersifat telegrafis karena menghilangkan
banyak bagian gramatikal dan sangat ringkas. Pembicaraan telegrafis adalah
penggunaan kata-kata pendek dan singkat tanpa tanda-tanda gramatikal seperti
kata keterangan, kata kerja bantu, dan kata penghubung lainnya.
4)
Kalimat
tiga kata(Periode Diffeensial)
Terjadi pada usia antara bulan ke-24 dan bulan ke-30. Walaupun
mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata, namun segera terjadi suatu
diferensiasi dalam kelompok kata. Banyak kata dimasukkan dalam klasifikasi
baru, anak mengatur kembali kata-kata dalam bahasanya. Peralihan dari kalimat
sederhana menjadi kalimat kompleks diawali antara usia 2-3 tahu dan berlanjut
hingga sekolah dasar.[1]
b.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan bahasa
Perkembangan
bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor kesehaan, intelegensi, status sosial
ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
1)
Umur
Anak
Manusia
bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman,
dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan
dengan pertambahan pengalaman dan
kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut mempengaruhi sehubungan semakin
sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan
gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang
menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan
dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual anak akan mampu menunjukkan
cara berkomunikasi dengan baik.
2)
Kondisi
Lingkungan
Lingkungan
tempat anak tumbuh dan berkembang memberi adil yang cukup besar dalam
berbahasa. Pekembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di
lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai,
pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain.[2]
3)
Faktor
Kesehatan. Kesehatan
merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama
pada usia awal kehidupannya. Apabila pada usia dua tahun pertama, anak
mengalami sakit terus-menerus, maka akan tersebut cenderung akan mengalami
kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasanya. Oleh karena itu, untuk
memelihara perkembangan bahasa anak secara normal, orang tua perlu
memperhatikan kondisi kesehatan anak. Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan
cara memberikan ASI, makanan yang bergizi, memelihara kebersihan tubuh anak
atau secara regular memeriksakan anak ke dokter atau ke puskesmas.
4)
Intelegensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat
intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai
intelegensi normal atau di atas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang
mengalami kelambatan perkembangan bahasanya pada usia awal, dikategorikan
sebagai anak yang bodoh (Lidgren, dalam E. Hurlock, 1956). Selanjutnya, Hurlock
mengemukakan hasil studi mengenai anak yang mengalami kelambatan mental, yaitu
bahwa sepertiga di antara mereka yang dapat berbicara secara normal dan anak
yang berda pada tingkat intelektual yang paling rendah, mereka sangat miskin
dalam berbahasanya.
5)
Status
Sosial Ekonomi Keluarga. Beberapa
studi tentang hubungan antara perkembangn bahasa dengan status sosial ekonomi
keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami
kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal
dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan oleh
perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang
memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya (Hetzer &
Reindorf dalam E. Hurlock, 1956).
6)
Jenis
Kelamin (Sex). Pada tahun pertama
usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dengan wanita.
Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih
cepat dari anak pria.
7)
Hubungan
Keluarga. Hubungan ini
dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan
lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan
memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orang tua
dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya) memfasilitasi
perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan
anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya.
Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap orangtua yang keras/kasar,
kurang kasih sayang, atau kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh
dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung
akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti: gagap dalam berbicara, tidak
jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat,
dan berkata yang kasar atau tidak sopan.[3]
c.
Langkah-langkah
untuk membantu perkembangan bahasa anak
1)
Membaca.
Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama
anak setiap hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku
dan sebutkan nama dari gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk
menunjuk gambar yang sama dengan yang ada sebutkan tadi. Buatlah kegiatan
membaca menjadi menyenangkan dan menarik bagi anak dan lakukanlah setiap hari.
2)
Berbicaralah
mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan
bahasa yang sederhana.
3)
Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap
hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang
disiapkan baginya.
4)
Cobalah
untuk tidak menyelesaikan kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk
menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin dia sampaikan.
5)
Berbicaralah
pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan
mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.[4]
d.
Cara
menstimulasi perkembangan bahasa anak
Berikut ini adalah tips dan cara yang bisa digunakan dalam
menstimulasi perkembangan bahasa anak :
1)
Bicara
pada bayi anda.
Bayi yang tampak tak berdaya itu ternyata lebih cerdas dari tampilannya.
Gunakan kalimat lengkap kepada bayi seakan ia sudah besar. Hal ini akan
memberikan penguasan bahasa yang lebih awal dan mempermudah anak memahami
aturan bahasa.
2)
Berikan
contoh untuk kata-kata baru yang ingin diajarkan. Bayi bagaikan manusia gua yang baru datang ke peradaban. Ia belum
pernah melihat, merasa atau berinteraksi dengan semua simbol baru bernama
bahas, sehingga wajar bagi mereka untuk mendapkatan sebanyak mungkin contoh bagi
simbol-simbol baru tersebut. Cara sederhannya adalah dengan menyebutkan nama
dari tindakan orang tua pada bayi, misalnya “Kakak sekarang digendong sama
Nenek!” atau “Sayang ibu,,,” sambil membelaikan tangan anak ke pipi atau kepala
ibu.
3)
Berikan
detail untuk kata yang dikenalkan.
Anak belajar nama-nama benda dari hal-hal yang umum dan semakin hari semakin
detail. Orang tua dapat membantu anak dengan memberikan nama spesifik dan sifat
spesifik kata yang sedang dipelajari. Misalnya saat melihat ambulan, anak
dikenalkan namanya, suaranya, dan fungsinya. Hal ini dapat dilakukan saat
membaca buku atau saat melihat bendanya secara langsung.
4)
Turunkan
tubuh anda setinggi anak. Duduk
atau berlutut sehingga anak dapat menatap mata orang tua. Hal ini akan
memastikan anak sudah fokus dan siap menerima informasi baru.
5)
Berikan
bantuan kata-kata ketika anak sulit mengungkapkan idea tau perasaannya. “Ade lagi memperbaiki truk sampahnya ya?”, “Kakak kesal tutupnya
susah dibuka? Ayo, Ayah bantu.” Hal ini akan memberikan contoh untuk berpikir
dan mengungkapkan bagi anak.
6)
Ulangi
apa yang dikatakan oleh anak. Hal
ini akan menunjukkan pada anak bahwa orang tua mendengar sekaligus mengajarkan
sikap yang baik untuk berusaha saling mengerti.
Selain memastikan anak-anak mendapat gizi yang lengkap, orang tua
dapat memastikan anak mendapatkan stimulasi yang optimal lewat interaksi dan
responsivitas sesuai situasi dan perkembangan anak.[5]
.
e.
Gangguan
keterlambatan perkembangan bahasa anak
Sebenarnya ada
banyak hal yang dapat menyebabkan keterlambatan bahasa anak yang dibedakan
menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal.
1)
Faktor
Internal
Berbgai faktor internal atau faktor biologis tubuh seperti faktor
persepsi, kognisi, dan prematuritas dianggap sebagai faktor penyebab
keterlambatan bicara pada anak.
a)
Persepsi
Persepsi
merupakan kemampuan untuk mengolah infomasi yang masuk atau yang diterima oleh
panca indera diantaranya telinga. Telinga sebagai organ sensori auditori
berperan penting dalam pekembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan
pendengaran karena otitis media pada anak akan mengganggu perkembangan bahasa.
b)
Kognisi
Beberapa
teori yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa :
·
Pertama,
bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive determinism)
·
Kedua,
kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic determinism)
·
Ketiga,
pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi oleh
bahasa
·
Keempat,
bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.
Sesuai
dengan teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan
bahasa dan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.
c)
Prematuritas
Weindrich
menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang
mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score,
lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar
rumah sakit.
Beitchman,
Hood & Inglis, 1990, Spitz et al., 1997, Tallal, Ross & Curtiss, 1989;
Tomblin, Smith, & Zhang, 1997, melaporkan bahwa gangguan bahasa sekitar 40
% dan 70 % merupakan kecenderungan dalam satu keluarga. Separuh keluarga yang
memiliki anak dengan gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya
memiliki problem bahasa. Orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin
bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui
berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut,
disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.
2)
Faktor
Eksternal
a)
Riwayat
Keluarga
Demikian
pula dengan anak dalam keluarga yang mempuyai riwayat keterlambatan atau
gangguan bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula. Riwayat keluarga
yang dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan
berbicara, memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar.
b)
Pola
Asuh
Law
dkk juga mengemukakan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak
dekat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan
juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan
baahasa yang rendah.
c)
Lingkungan
Verbal
Lingkungan
verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak dilingkungan keluarga
professional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu
dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih
rendah.
d)
Pendidikan
Studi
lain melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor
resiko keterlambatan bahasa pada anaknya.
e)
Jumlah
Anak
Chouhury
dan beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga
mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubungan dengan intensitas
komunikasi antara orang tua dan anak.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Agung dan Sunarto. 2006. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Asdi Mahasatya.
Soetjiningsih, Christiana Hari. 2014. Perkembangan Anak Sejak
Pembuahan Sampai Dengan Kanak-kanak Akhir. Jakarta: Prenada.
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jannah, Raudhatul. “Memahami Keterlambatan Perkembangan Bahasa
Anak”. 12 Oktober 2018. https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak
Noory, Khamsha. “Langkah Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak”.
15 Oktober 2018.
.
[1]
Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan
Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2014), hlm. 170-172.
[2] Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta:
Asdi MahasatyaAsdi, 2006), hlm. 139.
[3]
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012), hlm. 121-122.
[4]
Raudhatul Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak,
pada tangggal 12 Oktober 2018 pukul 08.30.
[5] Khamsha Noory, diakses dari https://www.childrencafe.com/6-langkah-stimulasi-kemampuan-bahasa-anak/,
pada tanggal 15 Oktober 2018 pukul 09.30.
[6] Raudhatul
Jannah, diakses dari https://www.kompasiana.com/jannah_92/55005647813311c161f7731/memahami-keterlambatan-perkembangan-bahasa-anak,
pada tangggal 12 Oktober 2018 pukul 08.30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar