ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN
MOTORIK)
Perkembangan
kemampuan motorik bayi akan sangat membantu untuk melakukan eksplorasi dan
mempraktikkan kemampuan yang baru. Hal ini dimungkinkan karena pencapaian
keterampilan motorik pada tahun pertama menyebabbkan meningkatnya kemandirian,
memungkinkan bayi untuk menjelajahi lingkungannya dengan lebih leluasa, dan untuk
memulai berinteraksi dengan orang lain. Pada tahun kedua, anak menjadi lebih
terampil secara motorik dan lebih aktif, mereka tidka lagi diam di satu tempat
tetapi ingin bergerak keseluruh ruangan. Aktivitas motorik selama tahun kedua
ini berperan penting bagi perkembangan kompetensi anak. Keterampilan dibedakan
menjadi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar:
1.
Perkembangan
Motorik Kasar
Merupakan keterampilan menggunakan otot-otot
besar. Bila pada saat bayi lahir bayi belum memiliki koordinasi dada dan lengan yang baik, maka
pada bulan pertama sudah dapat
mengangkat kepalanya dari posisi tengkurap. Pada usia dua-tiga bulan,
bayi sudah dapat mengangkat kepalanya lebih tinggi dengan menyangga dada
menggunakan lengannya. Setelah usia tiga bulan, bayi yang normal akan mulai
berguling dengan sengaja bukan karena kebetulan seperti sebelumnya. Sembilan
puluh persen bayi, pada usia 3,5 bulan sudah bisa tengkurap sendiri dan pada
sekitar usia 3,4 bulan, sudah dapat berguling. Sekitar usia ini juga sudah
padat duduk jiga disengaja diatas pangkuan atau kursi bayi, namun diusia nya
yang sekitar enam bulan dapat duduk tanpa sandaran/bantuan walaupun tidak lama
da biasanya sekitar usia delapan bulan dapat duduk sendiri dari posisi
telentang tanpa bantuan. Di usia 6-10 bulan bayi dapat merangkak/merayap dengan
kekuatannya sendiri. Usia kira-kira tujuh bulan dapat berdiri dengan tumpu pada
tangan atau pada perabot. Sekitar empat bulan kemudian sudah dapat berdiri
tanpa bantuan, dan usia 10-11 bulan dapat berjalan dengan menggunakan kursi
atau meja untuk pegangan. Pada usia 12-13 bulan sudah dapat berjalan sendiri
tanpa bantuan. Implikasi penting dari perkembangan
motorik ini adalah bahwa makin bertambah usia, kemandirian bayi makin
bertambah, mampu menjelajahi lingkungan dan mempraktekkan interaksi social
dengan orangtua, pengasuh, dan teman sebayanya.
Perkembangan berikutnya adalah pada
tahun kedua, kemampuan berjalannya makin baik sehingga pada umumnya mereka
ingin menjelajahi tempat yang lebih luas. Pada periode ini dianjurkan tidak
banyak pembatasan pada anak agar kemampuan berjalannya makin bertambah optimal.
Pada usia 13-18 bulan anak mulai dapat menarik dengan tangannya mainan yang
diikat dengan tali, menaiki tangga dan mengendarai mainan roda beroda empat.
Dan menurut Schismer pada usia 18-24 buan, anak sudah dapat berjalan cepat atau
berlari untuk jarak pendek, berjongkok sambil bermain dengan mainan dilantai,
berjalan mundur berdiri dan menendang bola tanpa jatuh, berdiri dan melempar
bola, dan melompat ditempat dengan kemampuan yang dicapainya ini, makin
memungkinkan anak untuk menjelajahi lingkungan dengan lebih leluasa. Aktivitas
motorik selama dua tahun ini berperan penting bagi perkembangan komptensi anak,
sehigga diharpakan orangtua tidak terlalu member banyak batasan tetapi lebih
menjaga keamanannya.
Walaupun kematangan biologis sangat
memengaruhi, tetapi keterampilan berjalan perlu dilatihhkan. Latihan yang
berulang dengan kondisi yang bervariasi akan sangat menolong bayi untuk
mengenali kombinasi kekuatan dari keseimbangan tubuh yang diperlukan unutk
meningkatkan keterampilannya dalam berjalan. Penguasaan berjalan memang membutuhkan waktu karena menurut Santrock,
keterampilan kunci dalam berjalan adalah
menstabilkan keseimbangan diatas satu kaki cukup lama untuk mengayun kaki yang
lain ke depan, dan memindahkan berat tubuh tanpa jatuh. Ini merupakan masalah
biomekanis yang sulit dipecahkan dan membutuhkan sekitar satu tahun bagi bayi
untuk melakukannya.
Berkaitan dengan keterampilan
berjalan, perlu diperhatikan kecendrungan pemakaian alat bantu latihan berjalan
yang banyak dilakukan dengan harapan anak akan lebih cepat berjalan. Pemakaian
alat ini memerlukan pengawasan ketat dari orangtuaa karena sering kali alat ini
dianggap aman sehingga anak dibiarkan dalam alat tersebut. Ada ahli yang
menyatakan bahwa sebenarnya alat ini justru memperlambat perkembangan motorik
anak dan bahaya bagi anak. Sebagai contoh pada tahun 1999 ada kurang lebih
8.800 anak yang berusia kurang dar 15 bulan dirawat di UGD rumah sakit karena
jatuh/terguling akibat pemakaian alat tersebut sehingga mengalami cedera. Oleh
karen itu APP mengusulkan pelarangan pembuatan dan penjualan alat bantu
berjalan tersebut. Pelarangan ini dapat dipahami karena cedera yang dialami
oleh anak pada bagian kepala.[1]
Berikut
Perkembangan Keterampilan Motorik Kasar:
a.
Keterampilan
motorik kasar melibatkan otot-otot besar tubuh dan mencakup fungsi-fungsi
lokomotor seperti duduk tegak, berjalan, menendang, dan melempar bola.
b.
Keterampilan
motorik kasar bergantung pada kekerasan dan kekuatan otot. Perkembangan motorik
ini berlanjut dari kepala ke bawah (sefalokaudal) dan dari tengah ke arah luar
(proksimodistal).
c.
Karena
itu, aktivitas-aktivitas yang melibatkan kepala dan ekstremitas atas berkembang
sebelum aktivitas yang melibatkan ekstremitas bawah, dan aktivitas yang
melibatkan batang tubuh dan bahu berkembang sebelum aktivitas yang melibatkan
tangan dan jari. (lihat gambar 3.1)
d.
Keterampilan
motorik berkembang dalam urutan pasti, dan norma-norma umur kerap digunakan
untuk mengukur kemajuan perkembangan bayi (Bayley 1993).
e.
Pola
perkembangan keterampilan motorik yang khas ini mendorong para teoris terdahulu
untuk berpendapat bahwa ini merepresentasi rentangan urutan peristiwa-peristiwa
yang terprogram secara genetik di mana syaraf-syaraf dan otot-otot matang dalam
arah ke bawah dan ke luar (Shirley 1933).
f.
Variasi
individual adalah hal umum dalam perkembangan keterampilan-keterampilan ini dan
masa perkembangan keterampilan motorik dapat bervariasi sebanyak dua hingga
empat bulan tanpa ada indikasi terjadi perkembangan yang tidak normal.
g.
Bukti-bukti
menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan memengaruhi masa perkembangan
keterampilan-keterampilan motorik. Contohnya, perkembangan motorik awal pada
bayi-bayi Afrika dan Jamaika memiliki keterkaitan dengan perilaku-perilaku
pengasuhan.
1)
Para
orang tua dalam budaya Afrika menunjukkan dorongan bagi perkembangan
keterampilan-keterampilan motorik dengan memberikan kesempatan-kesempatan
kepada bayi mereka untuk mengembangkan kekerasan dan kekuatan otot dengan,
contohnya meletakkan mereka dalam posisi tegak (Cintas 1989).
2)
Para
ibu Jamaika secara tradisional mengharapkan perkembangan motorik sejak dini dan
berusaha mendorong perkembnagan ini dengan memijat dan meregangkan tangan dan
kaki-kaki bayi mereka (Hopkins, 1991).
3)
Para
bayi Jamaika yang dilahirkan dan dibesarkan secara tradisional di Inggris tetap
menunjukkan perkembangan yang cepat ini.
4)
Pada
bayi Jamaika yang tidak disebarkan secara tradisional tidak menunjukkan
perbedaan usia dalam menguasai keterampilan-keterampilan ini bila dibandingkan
dengan kelompok sebaya non-Jamaika.
5)
Ini
menunjukkan dengan jelas bahwa perbedaan tersebut bukanlah genetik, namun
karena pengalaman.
h.
Bayi
juga dapat melewatkan tonggak perkembangan
1)
Di
suku Mali Afrika sebagaian besar bayi tidak pernah merangkak (Bril, 1999).
2)
Adolph
(2002) menggambarkan bayi-bayi di AS juga memotong fase merangkak, bergerak
denagn berguling atau tidak melakukan gerakan berpindah hingga mereka dapat
berdiri.
3)
Faktor-faktor
lingkungan seperti prilaku-prilaku pengasuhan kemungkinan juga penting disini:
berkurangnya jumlah bayi Amerika yang merangkak bersamaan waktu dengan
rekomendasi-rekomendasi di akhir abad 20 untuk menidurkan bayi dalam posisi
telentang guna mengurangi risiko SIDS (Davies, dkk., 1998).
i.
karena
itu, bukti terkini menguatkan peran lingkungan yang lebih besar dalam
perkembangan keterampilan-keterampilan ini.
j.
Proses-proses
pematangan diyakini memberikan batas0batas umur bayi untuk mampu duduk tegak,
merangkak atau berjalan, namun pengalaman-pengalaman dan kesempatan-kesempatan
untuk berlatih yang dimiliki setiap anak sangat penting dalam memengaruhi amur
actual ketiak tonggak-tonggak perkembangan ini tercapai.
k.
Teori-teori
modern tentang perkembangan keterampilan motorik menekankan proses interaktif
antara bawaan dan lingkungan.
l.
Contohnya,
teori sistem-sistem dinamik (Thelen, 1995) merupakan pendekatan konstruktivis
terhadap perkembangan keterampilan motorik.
1)
Baik
bawaan maupun lingkungan diyakini berkontribusi terhadap perkembangan.
2)
Anak
memiliki peran aktif dalam perkembangannya sendiri.
3)
Keterampilan-keterampilan
motorik dibangun oleh bayi ketika mereka secara aktif mengorganisasikan ulang
kemampuan-kemampuan morotik yang sudah dimiliki menjadi tindakan-tindakan baru
yang lebih kompleks.
4)
Pada
awalnya, tindakan-tindakan motorik bergantung pada refleks-refleks bawaan
contohnya, menggenggam, mengisap, dan mengukur.
5)
Secara
bertahap refleks-refleks ini diorganisasikan ulang menjadi
konfigurasi-konfigurasi motorik baru dan lebih kompleks.
6)
Sistem-sistem
tindakan awal kemungkinan tidak pasti, tidak menyatu, dan tidak terkoordinasi,
namun sistem-sistem tersebut secara progresif dimodifikasi dan disempurnakan
hingga komponen-komponennya terjalin, sehingga menghasilkan sistem-sistem yang
halus dan terkoordinasi dengan baik.
7)
Perkembangan
dipandang sebagai sistem yang mengorganisasikan diri sendiri, dimana bayi yang
penuh rasa ingin tahu secara aktif mengembangkan keterampilan-keterampilan
motorik yang lebih kompleks guna mencapai tujuan-tujuan baru. Pemandangan dan
suara-suara yang menarik di lingkungan, contohnya memberikan motivasi untuk
bergerak perpindah, terutama bila targetnya berada di luar jangkauan.
8)
Kekuatan
fisik yang semakin besar, meningkatnya koneksi-koneksi neurologis, stimuli
indrawi, dan perilaku-perilaku pengasuhan kesemuanya berkontribusi terhadap
perkembangan keterampilan-keterampilan motorik ini.
9)
Karena
itu, teori ini mengintegrasi tindakan, persepsi, dan pikiran karena bayi harus
memikirkan bagaimana mengorganisasikan gerakan berpindah guna mencapai
tujuan-tujuannya (Von Hofsten, 2007).[2]
2.
Perkembangan
Motorik Halus
Keterampilan ini
mengakibatkan gerakan tangan yang diatur secara halus seperti menggenggam
mainan, mengancingkan baju, menulis, atau melakukan apapun yang memerlukan
keterampilan tangan. Saat lahir bayi mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan
motorik halusnya. Awalnya, bayi hanya melihatkan gerakan bahu dan siku yang
kasar tetapi kemudian memperlihatkan gerakan pergelangan tangan, perputaran
tangan, koordinasi ibu jari dan jari telunjuk tangan, serta kemampuan meraih dan
menggenggam yang makin baik.
Pada usia
sekitar 10,5 bulan (90% bayi usia 14,5 bulan sudah bisa) sudah mulai mampu
menjemput objek-objek kecil seperti remah-remah kue dengan menggunakan ujung
jari telunjuk dan ibu jari. Kemampuan mencoret-coret dengan menggunakan krayon
atau spidol dikuasi sebagaian besar anak pada usia 24 bulan, walaupun sekitar
50% anak sudah mulai melakukan pada usia sekitar 13,5 bulan. Keterampilan
motorik halus baru baru berkembang pesat setelah anak berusia tiga tahunan, dan
umumnya keterampilan tangan dapat lebih cepat dikuasi dibandingkan keterampilan
kata.
Perkembangan bayi pada
usia 3 sampai 4 bulan sangat penting, karena akan mengarahkannya pada
pengalaman belajar yang lain. Diusia sekitar 24 bulan biasanya anak sudah mampu
membangun menara dari enam balok atau lebih, sudah mampu merangkai manic-manik
dari kayu dalam ukuran besar, dan coretan-coretan yang tadinya belum jelas
sekarang sudah menampakkan bentuknya. Juga sudah mampu melemparkan segala
sesuatu dengan lebi terarah menuju sasaran tertentu, lebih terampil memegang
cangkir minumannya sendiri, menggunakan sendok untuk makan sendiri walau
mungkin masih berceceran, menyisir rambut sendiri walaupun belum rapi, sudah
bisa melepas pakaiannya sendiri walaupun belum bisa mengenakannya sendiri, dan
membalik-balik halaman buku.
Berikut Perkembangan keterampilan-keterampilan Motorik Halus:
a.
Keterampilan-keterampilan
motorik halus melibatkan otot kecil yang memungkinkan fungsi-fungsi seperti
menggenggam dan memanipulasi objek-objek kecil.
b.
Fungsi-fungsi
seperti menulis, menggambar, dan mengenakan pakaian bergantung pada
keterampilan-keterampilan motorik halus kita.
c.
Keterampilan-keterampilan
ini melibatkan kekuatan, pengendalian motorik halus dan kecekatan.
d.
Kemampuan
bayi untuk meraih dan memanipulasi objek berkembang pesat dalam tahun pertama
usianya.
e.
Meraih
dan menggenggam secara sengaja biasanya berkembang pada usia tiga bulan,
sebelum ini bayi menyambar objek dalam bidang penglihatannya secara
terkoordinasi, kerap tidak berhasil dan jarang dapat meraih objek yang
dilihatnya tersebut.
f.
Munculnya
tindakan meraih dan menggenggam menandai pencapaian signifikan dalam kemampuan
bayi untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
g.
Pada
usia 4 atau 5 bulan bayi dapat memindahkan objek dari satu tangan ke tangan
lainnya dan refleks genggaman telapak tangan (palmar) berganti dengan genggaman
tulang hasta (ulnar) secara sengaja.
h.
Meski
kaku dan mirip cengkraman namun genggaman ini meningkatkan kemampuan untuk
melakukan eksplorasi objek melalui perabaan.
i.
Secara
bertahap, diperoleh keahlian yang lebih tinggi dalam memanipulasi objek,
sehingga pada akhir tahun pertama usianya bayi mampu melakukan genggaman yang
jauh lebih unggul yaitu genggaman menjepit (pincer).
j.
Ini
merupakan perkembangan penting dalam keadaan kecekatan, karena genggaman jari
dan ibu jari ini menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan manual kita yang
lebih canggih seperti menulis, menggunakan gunting dan alat pemotong, membalik
halaman buku, dan sebagainya.
k.
Sepanjang
tahun kedua usianya bayi menjadi semakin cekatan dan terkoordinasi.
l.
Pada
usia 16 bulan bayi mampu menggenggam pensil dan membuat coretan-coretan dasar.
m.
Pada
usia 24 bulan mereka mampu menggambar garis vertical atau horizontal sederhana.
n.
Balok-balok
susun, kancing, tombol-tombol, dan objek-objek lain juga dapat di manipulasi
dengan mudah oleh balita berusia 24 bulan.
o.
Sejalan
dengan teori sistem-sistem dinamik, bayi telah memiliki kendali atas
gerakan-gerakan sederhana dan secara bertahap mengorganisasikan ulang
gerakan-gerakan tersebut menjadi sistem-sistem yang semakin kompleks (Fentress
& McLeod, 1986).[3]
3.
Tahapan
Perkembangan Motorik Anak
Dalam buku
balita dan masalah perkembangannya (2001) secara umum ada tiga perkembangan
keterampilan motorik anak usia dini, yaitu:
a. Tahap
Kognitif
Pada
tahap ini, anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa saja yang
idbutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap ini, dengan
kasadaran mentalnya anak berusah mengembangkan strategi tertentu untuk
mengingat gerakan serupa yang pernah dilakukan pada masa yang lalu.
b. Tahap
Asosiatif
Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan coba-coba
kemudian meralat lahan pada keterampilan atau gerakan akan dikoreksi agar tidak
melakukan kesalahan kembali dimasa mendatang. Tahap ini adalah perubahan
strategi dari tahapam sebelumnya, yaitu dari apa yang harus dilakukan menjadi
bagaimana melakukannya.
c. Tahap
Autonomous
Pada tahap autonomous, gerakan yang
ditampilkan anak merupakan respons yang lebih efesien dengan sedikit kesalahan.
Anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis.
Pada
anak-anak tertentu latihan tidak selalu dapat memantu memperbaiki kemampuan
motoriknya. Sebab ada anak yang memiliki masalah pada susunan syarafnya
sehingga menghambatnya melakukan keterampilan motorik tertentu.[4]
4.
Faktor
Pendukung dan Penghambat Kemampuan Psikomotorik Anak
Perlu
diketahui bahwa perkembangan motorik anak dapat berjalan tidak optimal atau
terhambat. Berikut adalah beberapa
factor yang dapat menghambat perkembangan motorik anak yang dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam usaha pendampingan perkembangan psikomotorik
anak, berikut factor-faktor yang mempengaruhi:
a. Sifat
dasar genetic
Factor ini merupakan factor
internal yang berasal dari dalam diri anak dan merupakan sifat bawaan dari
orangtua anak. Factor ini ditandai dengan beberapa kemiripan fisik dan gerak
tubuh anak dengan salah satu anggota keluarganya, apakah ayah, ibu kakek, nenek
atau keluarga lainnya.
Sebagai
contoh anak yanag memiliki bentuk tubuh tinggi kurusseperti ayahnya, padahal
sang anak sangat suka makan (dianggap dapat membuat anaj menjadi gemuk) tetapi
kenyataannya anka menjadi gemuk.
b. Kondisi
pra lahir ibu
Ketika
anak berada dalam kandungan, pertumbuhan fisiknya dangat tergantung pada suplai
gizi yang diperolehnya dari ibunya. Jika kondisi fisik seorang ibu yang sedang
mengandung terganggu karena kurang gizi, maka anak yang dikandungnya pun akan
mengalami pertumbuhan fisik yang tidak sempurna. Contohnya ibu hamil yang
kekurangan asam folat akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan otak dan cacat
pada janin.
c. Kondisi
lingkungan
Kondisi lingkungan
merupakan factor internal atau factor diluar diri anak. Kondisi lingkungan yang
kurang kondusif dapat menghambat perkembangan motorik anak, dimana anak kurang
mendapatkan keleluasaan dalam bergerak dan melakukan latihan-latihan. Misalnya
ruangan bermain yang terlalu sempit, sedangkan jumlah anak banyak, akan
mengakibatkan anak bergerak cepat dan sangat terbatas bentuk gerakan yang
dilakukannya.
d. Kesehatan
dan Gizi
Kesehatan dan gizi anak sangat
berpengaruh terhadap optimalisasi perkembangan motorik anak, mengingat bahwa
anak berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan fisik yang sangat pesat. Hal
ini ditandai dengan bertambah volume dan fungsi tubuh anak.
Dalam
pertumbuhan fisik atau motorik yang pesat ini anak membutuhkan gizi yang cukup
untuk membentuk sel-sel tubuh an jaringan tubuhnya yang baru. Kesehatan anak
yang terganggu karena sakit akan memperlambat pertumbuhan/perkembangan fisiknya
dan akan merusak sel-sel serta jaringan tubuh anak.
e. IQ
Kecerdasan itelektual turut mempengaruhi
perkembangan motorik anak. Kecerdasan intelektual yang ditandai dengan tinggi
rendahnya skor IQ secara tidak langsung membuktikan tingkat pertumbuhan otak
anak dan perkembangan otak anak dan
perkembangan otak anak sangat mempengaruhi kemampuan gerakan yang dapat
dilakukan oleh anak, mengingat bahwa salah satu fungsi bagian otak adalah
mengukur dan mengendalikan gerakan yang dilakukan anak. Sekecil apapun gerakan
yang dilakukan anka, merupakan hasil kerjasama antara tiga unsure yaitu otak,
urat saraf dan otot, yang berinteraksi secara positif.
f. Adanya
stimulasi, dorongan dan kesempatan
Perkembangan motorik anak sangat
tergantung pada seberapa banyak stimulasi dan dorongan yang diberikan. Hal ini
disebabkan karena otot-otot anak baik otot halus maupun ksar belum mencapai
kematangan. Gerakan otot yang dilakukan anak masih sangat kasar. Dengan
latihan-latihan yang cukup akan membantu anak untuk mengendalikan gerakan
ototnya sehingga mencapai kondisi motoris yang sempurna ynag ditandainya dengan
gerakan yang lancer dan luwes.
g. Pola
Asuh
Ada
tiga pol asuh yang dilakukan oleh orangtua yaitu pola asuh otoriter, demokratis
dan permasif. Pola asuh otoriter cendrung tidak memberikan kebebasan kepada
anak, dimana anak dianggap sebagai robot yang harus taat pada semua aturan dan
perintahyang diberikan.
Sedangkan pola asuh perasif sangat berlawanan
dengan otoriter, yaitu ornagtua cendrung
akan memberikan kebebasan tanpa batas pada anak untuk bertumbuh dan berkembang dengan
sendirnya tanpa dukungan orangtua.
Pola
asuh yang terbaik adalah demokratis dimana orangtua akan memberikan kebebasan
yang terarah artinya orangtua memberikan arahan, bimbingan dan stimulasi sesuai
dengankebutuhan dan kemampuan anak, jadi orangtua berusaha memberdayakan anak.
Ketiga
pola asuh ini tentunya akan menentukan suasana kehidupan yang akan dialami anak
dalam kesehariannya dan tentu saja akan sangat mempengaruhi proses
perkembangannya diantaranya perkembangan motorik.
h. Cacat
Fisik
Kondisi
cacat fisik yang dialami ole anak akan mempengaruhi kemampuan gerak anak.
Kecacatan ini akan menghambat kelancaran dan keluwesan akan dalam bergerak.
Contohnya sederhana seorang anak yang mengalami cacat tuna netra cendrung
terlihat kaku dalam bergerak, atau anak yang mengalami gangguan dalam
keseimbangan badan.[5]
5.
Stimulasi
Perkembangan Psikomotorik Anak
Tumbuh kembang kemampuan psikomotorik anak juga
memerlukan stimulasi guna tercapai pengoptimalannya. Beberapa diantaranya
adalah:
Diberikan dasar-dasar keterampilan
untukm menulis dan menggambar keterangan berolah raga atau menggunakan alat
olah raga gerakan-gerakan permainan, seperti melompat, memanjat, dan berlari
baris berbaris secara sederhana.
Perkembangan psikomotorik anak akan
lebih optimal jika lingkungan tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk
bergerak secara bebas. Kegiatan diluar ruangan bisa menjadi pilihan karena
dapat memberikan stimulsi perkembangan otot, meningkatkan koordinasi dan
pengembangan kekuatan tubuhnya. Jika kegiatan anak didalam ruangan, ruangan
sebaiknya dipersiapkan untuk tetap menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak
untuk berlari melompat dan mengegrakkan seluruh anggota tubuhya. Kemampuan
motorik halus dapat dikembangkan dengan cara anak seperti: menggali pasir dan tanah,
menungkan air, mengambil dan mengumpulakan batu, dedaunan atau benda kecil
lainnya, dan bermain permainan luar ruangan seperti kelereng. Kemampuan
psikomotorik halus ini merupakan modal dasar untuk menulis.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Christiana, Hari Soetjiningsih.
2012. Perkembangan Anak. Jakarta: Prenada
https://citratwinfy.wordpress.com /2017/01/30/103/
http://margaretha-fpsi.web.unair.ac.id/artikel
detail-45222-Perkembangan%20Anak
Perkembangan%Psikomotor%20Anak%20Usia%20Dini.html
Upton, Paney.
2012. Psikologi Perkembangan. Bandung: Erlangga
[1] Hari Soetjiningsih
Christiana, Perkembangan Anak, (Jakarta:Prenada
2012) hlm. 23-28
[3]
Paney Upton.Op. Cit., hlm 62-64.
[5]
https:/citratwinfy.wordpress.com/2017/01/30/103/
[6] http://margaretha-fpsi.web.unair.ac.id/artikel
detail-45222-Perkembangan%20Anak-Perkembangan%Psikomotor%20Anak%20Usia%20Dini.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar