Senin, 19 Agustus 2019

ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN MOTORIK)


ASPEK PERKEMBANGAN ANAK (PERKEMBANGAN MOTORIK)

Perkembangan kemampuan motorik bayi akan sangat membantu untuk melakukan eksplorasi dan mempraktikkan kemampuan yang baru. Hal ini dimungkinkan karena pencapaian keterampilan motorik pada tahun pertama menyebabbkan meningkatnya kemandirian, memungkinkan bayi untuk menjelajahi lingkungannya dengan lebih leluasa, dan untuk memulai berinteraksi dengan orang lain. Pada tahun kedua, anak menjadi lebih terampil secara motorik dan lebih aktif, mereka tidka lagi diam di satu tempat tetapi ingin bergerak keseluruh ruangan. Aktivitas motorik selama tahun kedua ini berperan penting bagi perkembangan kompetensi anak. Keterampilan dibedakan menjadi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar:

1.      Perkembangan Motorik Kasar
      Merupakan keterampilan menggunakan otot-otot besar. Bila pada saat bayi lahir bayi belum memiliki  koordinasi dada dan lengan yang baik, maka pada bulan pertama sudah dapat  mengangkat kepalanya dari posisi tengkurap. Pada usia dua-tiga bulan, bayi sudah dapat mengangkat kepalanya lebih tinggi dengan menyangga dada menggunakan lengannya. Setelah usia tiga bulan, bayi yang normal akan mulai berguling dengan sengaja bukan karena kebetulan seperti sebelumnya. Sembilan puluh persen bayi, pada usia 3,5 bulan sudah bisa tengkurap sendiri dan pada sekitar usia 3,4 bulan, sudah dapat berguling. Sekitar usia ini juga sudah padat duduk jiga disengaja diatas pangkuan atau kursi bayi, namun diusia nya yang sekitar enam bulan dapat duduk tanpa sandaran/bantuan walaupun tidak lama da biasanya sekitar usia delapan bulan dapat duduk sendiri dari posisi telentang tanpa bantuan. Di usia 6-10 bulan bayi dapat merangkak/merayap dengan kekuatannya sendiri. Usia kira-kira tujuh bulan dapat berdiri dengan tumpu pada tangan atau pada perabot. Sekitar empat bulan kemudian sudah dapat berdiri tanpa bantuan, dan usia 10-11 bulan dapat berjalan dengan menggunakan kursi atau meja untuk pegangan. Pada usia 12-13 bulan sudah dapat berjalan sendiri tanpa bantuan.  Implikasi penting dari perkembangan motorik ini adalah bahwa makin bertambah usia, kemandirian bayi makin bertambah, mampu menjelajahi lingkungan dan mempraktekkan interaksi social dengan orangtua, pengasuh, dan teman sebayanya.
           Perkembangan berikutnya adalah pada tahun kedua, kemampuan berjalannya makin baik sehingga pada umumnya mereka ingin menjelajahi tempat yang lebih luas. Pada periode ini dianjurkan tidak banyak pembatasan pada anak agar kemampuan berjalannya makin bertambah optimal. Pada usia 13-18 bulan anak mulai dapat menarik dengan tangannya mainan yang diikat dengan tali, menaiki tangga dan mengendarai mainan roda beroda empat. Dan menurut Schismer pada usia 18-24 buan, anak sudah dapat berjalan cepat atau berlari untuk jarak pendek, berjongkok sambil bermain dengan mainan dilantai, berjalan mundur berdiri dan menendang bola tanpa jatuh, berdiri dan melempar bola, dan melompat ditempat dengan kemampuan yang dicapainya ini, makin memungkinkan anak untuk menjelajahi lingkungan dengan lebih leluasa. Aktivitas motorik selama dua tahun ini berperan penting bagi perkembangan komptensi anak, sehigga diharpakan orangtua tidak terlalu member banyak batasan tetapi lebih menjaga keamanannya.
            Walaupun kematangan biologis sangat memengaruhi, tetapi keterampilan berjalan perlu dilatihhkan. Latihan yang berulang dengan kondisi yang bervariasi akan sangat menolong bayi untuk mengenali kombinasi kekuatan dari keseimbangan tubuh yang diperlukan unutk meningkatkan keterampilannya dalam berjalan. Penguasaan berjalan memang  membutuhkan waktu karena menurut Santrock, keterampilan kunci dalam  berjalan adalah menstabilkan keseimbangan diatas satu kaki cukup lama untuk mengayun kaki yang lain ke depan, dan memindahkan berat tubuh tanpa jatuh. Ini merupakan masalah biomekanis yang sulit dipecahkan dan membutuhkan sekitar satu tahun bagi bayi untuk melakukannya.
              Berkaitan dengan keterampilan berjalan, perlu diperhatikan kecendrungan pemakaian alat bantu latihan berjalan yang banyak dilakukan dengan harapan anak akan lebih cepat berjalan. Pemakaian alat ini memerlukan pengawasan ketat dari orangtuaa karena sering kali alat ini dianggap aman sehingga anak dibiarkan dalam alat tersebut. Ada ahli yang menyatakan bahwa sebenarnya alat ini justru memperlambat perkembangan motorik anak dan bahaya bagi anak. Sebagai contoh pada tahun 1999 ada kurang lebih 8.800 anak yang berusia kurang dar 15 bulan dirawat di UGD rumah sakit karena jatuh/terguling akibat pemakaian alat tersebut sehingga mengalami cedera. Oleh karen itu APP mengusulkan pelarangan pembuatan dan penjualan alat bantu berjalan tersebut. Pelarangan ini dapat dipahami karena cedera yang dialami oleh anak pada bagian kepala.[1]

Berikut Perkembangan Keterampilan Motorik Kasar:
a.    Keterampilan motorik kasar melibatkan otot-otot besar tubuh dan mencakup fungsi-fungsi lokomotor seperti duduk tegak, berjalan, menendang, dan melempar bola.
b.      Keterampilan motorik kasar bergantung pada kekerasan dan kekuatan otot. Perkembangan motorik ini berlanjut dari kepala ke bawah (sefalokaudal) dan dari tengah ke arah luar (proksimodistal).
c.       Karena itu, aktivitas-aktivitas yang melibatkan kepala dan ekstremitas atas berkembang sebelum aktivitas yang melibatkan ekstremitas bawah, dan aktivitas yang melibatkan batang tubuh dan bahu berkembang sebelum aktivitas yang melibatkan tangan dan jari. (lihat gambar 3.1)
d.      Keterampilan motorik berkembang dalam urutan pasti, dan norma-norma umur kerap digunakan untuk mengukur kemajuan perkembangan bayi (Bayley 1993).
e.       Pola perkembangan keterampilan motorik yang khas ini mendorong para teoris terdahulu untuk berpendapat bahwa ini merepresentasi rentangan urutan peristiwa-peristiwa yang terprogram secara genetik di mana syaraf-syaraf dan otot-otot matang dalam arah ke bawah dan ke luar (Shirley 1933).
f.       Variasi individual adalah hal umum dalam perkembangan keterampilan-keterampilan ini dan masa perkembangan keterampilan motorik dapat bervariasi sebanyak dua hingga empat bulan tanpa ada indikasi terjadi perkembangan yang tidak normal.
g.      Bukti-bukti menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan memengaruhi masa perkembangan keterampilan-keterampilan motorik. Contohnya, perkembangan motorik awal pada bayi-bayi Afrika dan Jamaika memiliki keterkaitan dengan perilaku-perilaku pengasuhan.
1)      Para orang tua dalam budaya Afrika menunjukkan dorongan bagi perkembangan keterampilan-keterampilan motorik dengan memberikan kesempatan-kesempatan kepada bayi mereka untuk mengembangkan kekerasan dan kekuatan otot dengan, contohnya meletakkan mereka dalam posisi tegak (Cintas 1989).
2)      Para ibu Jamaika secara tradisional mengharapkan perkembangan motorik sejak dini dan berusaha mendorong perkembnagan ini dengan memijat dan meregangkan tangan dan kaki-kaki bayi mereka (Hopkins, 1991).
3)      Para bayi Jamaika yang dilahirkan dan dibesarkan secara tradisional di Inggris tetap menunjukkan perkembangan yang cepat ini.
4)      Pada bayi Jamaika yang tidak disebarkan secara tradisional tidak menunjukkan perbedaan usia dalam menguasai keterampilan-keterampilan ini bila dibandingkan dengan kelompok sebaya non-Jamaika.
5)         Ini menunjukkan dengan jelas bahwa perbedaan tersebut bukanlah genetik, namun karena pengalaman.
h.      Bayi juga dapat melewatkan tonggak perkembangan
1)      Di suku Mali Afrika sebagaian besar bayi tidak pernah merangkak (Bril, 1999).
2)      Adolph (2002) menggambarkan bayi-bayi di AS juga memotong fase merangkak, bergerak denagn berguling atau tidak melakukan gerakan berpindah hingga mereka dapat berdiri.
3)      Faktor-faktor lingkungan seperti prilaku-prilaku pengasuhan kemungkinan juga penting disini: berkurangnya jumlah bayi Amerika yang merangkak bersamaan waktu dengan rekomendasi-rekomendasi di akhir abad 20 untuk menidurkan bayi dalam posisi telentang guna mengurangi risiko SIDS (Davies, dkk., 1998).
i.        karena itu, bukti terkini menguatkan peran lingkungan yang lebih besar dalam perkembangan keterampilan-keterampilan ini.
j.        Proses-proses pematangan diyakini memberikan batas0batas umur bayi untuk mampu duduk tegak, merangkak atau berjalan, namun pengalaman-pengalaman dan kesempatan-kesempatan untuk berlatih yang dimiliki setiap anak sangat penting dalam memengaruhi amur actual ketiak tonggak-tonggak perkembangan ini tercapai.
k.      Teori-teori modern tentang perkembangan keterampilan motorik menekankan proses interaktif antara bawaan dan lingkungan.
l.        Contohnya, teori sistem-sistem dinamik (Thelen, 1995) merupakan pendekatan konstruktivis terhadap perkembangan keterampilan motorik.
1)      Baik bawaan maupun lingkungan diyakini berkontribusi terhadap perkembangan.
2)      Anak memiliki peran aktif dalam perkembangannya sendiri.
3)      Keterampilan-keterampilan motorik dibangun oleh bayi ketika mereka secara aktif mengorganisasikan ulang kemampuan-kemampuan morotik yang sudah dimiliki menjadi tindakan-tindakan baru yang lebih kompleks.
4)      Pada awalnya, tindakan-tindakan motorik bergantung pada refleks-refleks bawaan contohnya, menggenggam, mengisap, dan mengukur.
5)      Secara bertahap refleks-refleks ini diorganisasikan ulang menjadi konfigurasi-konfigurasi motorik baru dan lebih kompleks.
6)      Sistem-sistem tindakan awal kemungkinan tidak pasti, tidak menyatu, dan tidak terkoordinasi, namun sistem-sistem tersebut secara progresif dimodifikasi dan disempurnakan hingga komponen-komponennya terjalin, sehingga menghasilkan sistem-sistem yang halus dan terkoordinasi dengan baik.
7)      Perkembangan dipandang sebagai sistem yang mengorganisasikan diri sendiri, dimana bayi yang penuh rasa ingin tahu secara aktif mengembangkan keterampilan-keterampilan motorik yang lebih kompleks guna mencapai tujuan-tujuan baru. Pemandangan dan suara-suara yang menarik di lingkungan, contohnya memberikan motivasi untuk bergerak perpindah, terutama bila targetnya berada di luar jangkauan.
8)      Kekuatan fisik yang semakin besar, meningkatnya koneksi-koneksi neurologis, stimuli indrawi, dan perilaku-perilaku pengasuhan kesemuanya berkontribusi terhadap perkembangan keterampilan-keterampilan motorik ini.
9)      Karena itu, teori ini mengintegrasi tindakan, persepsi, dan pikiran karena bayi harus memikirkan bagaimana mengorganisasikan gerakan berpindah guna mencapai tujuan-tujuannya (Von Hofsten, 2007).[2]

2.   Perkembangan Motorik Halus
Keterampilan ini mengakibatkan gerakan tangan yang diatur secara halus seperti menggenggam mainan, mengancingkan baju, menulis, atau melakukan apapun yang memerlukan keterampilan tangan. Saat lahir bayi mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halusnya. Awalnya, bayi hanya melihatkan gerakan bahu dan siku yang kasar tetapi kemudian memperlihatkan gerakan pergelangan tangan, perputaran tangan, koordinasi ibu jari dan jari telunjuk tangan, serta kemampuan meraih dan menggenggam yang makin baik.
Pada usia sekitar 10,5 bulan (90% bayi usia 14,5 bulan sudah bisa) sudah mulai mampu menjemput objek-objek kecil seperti remah-remah kue dengan menggunakan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Kemampuan mencoret-coret dengan menggunakan krayon atau spidol dikuasi sebagaian besar anak pada usia 24 bulan, walaupun sekitar 50% anak sudah mulai melakukan pada usia sekitar 13,5 bulan. Keterampilan motorik halus baru baru berkembang pesat setelah anak berusia tiga tahunan, dan umumnya keterampilan tangan dapat lebih cepat dikuasi dibandingkan keterampilan kata.
Perkembangan bayi pada usia 3 sampai 4 bulan sangat penting, karena akan mengarahkannya pada pengalaman belajar yang lain. Diusia sekitar 24 bulan biasanya anak sudah mampu membangun menara dari enam balok atau lebih, sudah mampu merangkai manic-manik dari kayu dalam ukuran besar, dan coretan-coretan yang tadinya belum jelas sekarang sudah menampakkan bentuknya. Juga sudah mampu melemparkan segala sesuatu dengan lebi terarah menuju sasaran tertentu, lebih terampil memegang cangkir minumannya sendiri, menggunakan sendok untuk makan sendiri walau mungkin masih berceceran, menyisir rambut sendiri walaupun belum rapi, sudah bisa melepas pakaiannya sendiri walaupun belum bisa mengenakannya sendiri, dan membalik-balik halaman buku.
Berikut Perkembangan keterampilan-keterampilan Motorik Halus:
a.       Keterampilan-keterampilan motorik halus melibatkan otot kecil yang memungkinkan fungsi-fungsi seperti menggenggam dan memanipulasi objek-objek kecil.
b.      Fungsi-fungsi seperti menulis, menggambar, dan mengenakan pakaian bergantung pada keterampilan-keterampilan motorik halus kita.
c.       Keterampilan-keterampilan ini melibatkan kekuatan, pengendalian motorik halus dan kecekatan.
d.      Kemampuan bayi untuk meraih dan memanipulasi objek berkembang pesat dalam tahun pertama usianya.
e.       Meraih dan menggenggam secara sengaja biasanya berkembang pada usia tiga bulan, sebelum ini bayi menyambar objek dalam bidang penglihatannya secara terkoordinasi, kerap tidak berhasil dan jarang dapat meraih objek yang dilihatnya tersebut.
f.       Munculnya tindakan meraih dan menggenggam menandai pencapaian signifikan dalam kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
g.      Pada usia 4 atau 5 bulan bayi dapat memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lainnya dan refleks genggaman telapak tangan (palmar) berganti dengan genggaman tulang hasta (ulnar) secara sengaja.
h.      Meski kaku dan mirip cengkraman namun genggaman ini meningkatkan kemampuan untuk melakukan eksplorasi objek melalui perabaan.
i.        Secara bertahap, diperoleh keahlian yang lebih tinggi dalam memanipulasi objek, sehingga pada akhir tahun pertama usianya bayi mampu melakukan genggaman yang jauh lebih unggul yaitu genggaman menjepit (pincer).
j.        Ini merupakan perkembangan penting dalam keadaan kecekatan, karena genggaman jari dan ibu jari ini menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan manual kita yang lebih canggih seperti menulis, menggunakan gunting dan alat pemotong, membalik halaman buku, dan sebagainya.
k.      Sepanjang tahun kedua usianya bayi menjadi semakin cekatan dan terkoordinasi.
l.        Pada usia 16 bulan bayi mampu menggenggam pensil dan membuat coretan-coretan dasar.
m.    Pada usia 24 bulan mereka mampu menggambar garis vertical atau horizontal sederhana.
n.      Balok-balok susun, kancing, tombol-tombol, dan objek-objek lain juga dapat di manipulasi dengan mudah oleh balita berusia 24 bulan.
o.      Sejalan dengan teori sistem-sistem dinamik, bayi telah memiliki kendali atas gerakan-gerakan sederhana dan secara bertahap mengorganisasikan ulang gerakan-gerakan tersebut menjadi sistem-sistem yang semakin kompleks (Fentress & McLeod, 1986).[3]

3.   Tahapan Perkembangan Motorik Anak
Dalam buku balita dan masalah perkembangannya (2001) secara umum ada tiga perkembangan keterampilan motorik anak usia dini, yaitu:
a.       Tahap Kognitif
                  Pada tahap ini, anak berusaha memahami keterampilan motorik serta apa saja yang idbutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Pada tahap ini, dengan kasadaran mentalnya anak berusah mengembangkan strategi tertentu untuk mengingat gerakan serupa yang pernah dilakukan pada masa yang lalu.
b.      Tahap Asosiatif
        Pada tahap asosiatif anak banyak belajar dengan coba-coba kemudian meralat lahan pada keterampilan atau gerakan akan dikoreksi agar tidak melakukan kesalahan kembali dimasa mendatang. Tahap ini adalah perubahan strategi dari tahapam sebelumnya, yaitu dari apa yang harus dilakukan menjadi bagaimana melakukannya.
c.       Tahap Autonomous
            Pada tahap autonomous, gerakan yang ditampilkan anak merupakan respons yang lebih efesien dengan sedikit kesalahan. Anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis.
Pada anak-anak tertentu latihan tidak selalu dapat memantu memperbaiki kemampuan motoriknya. Sebab ada anak yang memiliki masalah pada susunan syarafnya sehingga menghambatnya melakukan keterampilan motorik tertentu.[4]

4.   Faktor Pendukung dan Penghambat Kemampuan Psikomotorik Anak
            Perlu diketahui bahwa perkembangan motorik anak dapat berjalan tidak optimal atau terhambat. Berikut  adalah beberapa factor yang dapat menghambat perkembangan motorik anak yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam usaha pendampingan perkembangan psikomotorik anak, berikut factor-faktor yang mempengaruhi:
a.       Sifat dasar genetic
              Factor ini merupakan factor internal yang berasal dari dalam diri anak dan merupakan sifat bawaan dari orangtua anak. Factor ini ditandai dengan beberapa kemiripan fisik dan gerak tubuh anak dengan salah satu anggota keluarganya, apakah ayah, ibu kakek, nenek atau keluarga lainnya.
                  Sebagai contoh anak yanag memiliki bentuk tubuh tinggi kurusseperti ayahnya, padahal sang anak sangat suka makan (dianggap dapat membuat anaj menjadi gemuk) tetapi kenyataannya anka menjadi gemuk.

b.      Kondisi pra lahir ibu
                        Ketika anak berada dalam kandungan, pertumbuhan fisiknya dangat tergantung pada suplai gizi yang diperolehnya dari ibunya. Jika kondisi fisik seorang ibu yang sedang mengandung terganggu karena kurang gizi, maka anak yang dikandungnya pun akan mengalami pertumbuhan fisik yang tidak sempurna. Contohnya ibu hamil yang kekurangan asam folat akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan otak dan cacat pada janin.
c.       Kondisi lingkungan
                           Kondisi lingkungan merupakan factor internal atau factor diluar diri anak. Kondisi lingkungan yang kurang kondusif dapat menghambat perkembangan motorik anak, dimana anak kurang mendapatkan keleluasaan dalam bergerak dan melakukan latihan-latihan. Misalnya ruangan bermain yang terlalu sempit, sedangkan jumlah anak banyak, akan mengakibatkan anak bergerak cepat dan sangat terbatas bentuk gerakan yang dilakukannya.
d.      Kesehatan dan Gizi
           Kesehatan dan gizi anak sangat berpengaruh terhadap optimalisasi perkembangan motorik anak, mengingat bahwa anak berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan fisik yang sangat pesat. Hal ini ditandai dengan bertambah volume dan fungsi tubuh anak.
Dalam pertumbuhan fisik atau motorik yang pesat ini anak membutuhkan gizi yang cukup untuk membentuk sel-sel tubuh an jaringan tubuhnya yang baru. Kesehatan anak yang terganggu karena sakit akan memperlambat pertumbuhan/perkembangan fisiknya dan akan merusak sel-sel serta jaringan tubuh anak.
e.       IQ
      Kecerdasan itelektual turut mempengaruhi perkembangan motorik anak. Kecerdasan intelektual yang ditandai dengan tinggi rendahnya skor IQ secara tidak langsung membuktikan tingkat pertumbuhan otak anak dan perkembangan  otak anak dan perkembangan otak anak sangat mempengaruhi kemampuan gerakan yang dapat dilakukan oleh anak, mengingat bahwa salah satu fungsi bagian otak adalah mengukur dan mengendalikan gerakan yang dilakukan anak. Sekecil apapun gerakan yang dilakukan anka, merupakan hasil kerjasama antara tiga unsure yaitu otak, urat saraf dan otot, yang berinteraksi secara positif.
f.       Adanya stimulasi, dorongan dan kesempatan
              Perkembangan motorik anak sangat tergantung pada seberapa banyak stimulasi dan dorongan yang diberikan. Hal ini disebabkan karena otot-otot anak baik otot halus maupun ksar belum mencapai kematangan. Gerakan otot yang dilakukan anak masih sangat kasar. Dengan latihan-latihan yang cukup akan membantu anak untuk mengendalikan gerakan ototnya sehingga mencapai kondisi motoris yang sempurna ynag ditandainya dengan gerakan yang lancer dan luwes.
g.      Pola Asuh
                                                   Ada tiga pol asuh yang dilakukan oleh orangtua yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan permasif. Pola asuh otoriter cendrung tidak memberikan kebebasan kepada anak, dimana anak dianggap sebagai robot yang harus taat pada semua aturan dan perintahyang diberikan.
  Sedangkan pola asuh perasif sangat berlawanan dengan otoriter,  yaitu ornagtua cendrung akan memberikan kebebasan tanpa batas pada anak untuk bertumbuh dan berkembang dengan sendirnya tanpa dukungan orangtua.
Pola asuh yang terbaik adalah demokratis dimana orangtua akan memberikan kebebasan yang terarah artinya orangtua memberikan arahan, bimbingan dan stimulasi sesuai dengankebutuhan dan kemampuan anak, jadi orangtua berusaha memberdayakan anak.
Ketiga pola asuh ini tentunya akan menentukan suasana kehidupan yang akan dialami anak dalam kesehariannya dan tentu saja akan sangat mempengaruhi proses perkembangannya diantaranya perkembangan motorik.
h.      Cacat Fisik
Kondisi cacat fisik yang dialami ole anak akan mempengaruhi kemampuan gerak anak. Kecacatan ini akan menghambat kelancaran dan keluwesan akan dalam bergerak. Contohnya sederhana seorang anak yang mengalami cacat tuna netra cendrung terlihat kaku dalam bergerak, atau anak yang mengalami gangguan dalam keseimbangan badan.[5]

5.   Stimulasi Perkembangan Psikomotorik Anak
              Tumbuh kembang kemampuan psikomotorik anak juga memerlukan stimulasi guna tercapai pengoptimalannya. Beberapa diantaranya adalah:
            Diberikan dasar-dasar keterampilan untukm menulis dan menggambar keterangan berolah raga atau menggunakan alat olah raga gerakan-gerakan permainan, seperti melompat, memanjat, dan berlari baris berbaris secara sederhana.
            Perkembangan psikomotorik anak akan lebih optimal jika lingkungan tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak secara bebas. Kegiatan diluar ruangan bisa menjadi pilihan karena dapat memberikan stimulsi perkembangan otot, meningkatkan koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuhnya. Jika kegiatan anak didalam ruangan, ruangan sebaiknya dipersiapkan untuk tetap menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk berlari melompat dan mengegrakkan seluruh anggota tubuhya. Kemampuan motorik halus dapat dikembangkan dengan cara anak seperti: menggali pasir dan tanah, menungkan air, mengambil dan mengumpulakan batu, dedaunan atau benda kecil lainnya, dan bermain permainan luar ruangan seperti kelereng. Kemampuan psikomotorik halus ini merupakan modal dasar untuk menulis.[6]
























DAFTAR PUSTAKA

Christiana, Hari Soetjiningsih. 2012. Perkembangan Anak. Jakarta: Prenada
http://margaretha-fpsi.web.unair.ac.id/artikel detail-45222-Perkembangan%20Anak Perkembangan%Psikomotor%20Anak%20Usia%20Dini.html
Upton, Paney. 2012. Psikologi Perkembangan. Bandung: Erlangga



[1] Hari Soetjiningsih Christiana, Perkembangan Anak, (Jakarta:Prenada 2012) hlm. 23-28  
[2] Paney Upton, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Erlangga, 2012), hlm 60-62.
[3] Paney Upton.Op. Cit., hlm 62-64.
[4] http:melyloelhabox.blogsot.com/2013/05/fase-tahapan-prinsip-dan aspek-aspek.htm?=1
[5] https:/citratwinfy.wordpress.com/2017/01/30/103/
[6] http://margaretha-fpsi.web.unair.ac.id/artikel detail-45222-Perkembangan%20Anak-Perkembangan%Psikomotor%20Anak%20Usia%20Dini.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...