ASPEK PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK
A. Makna Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan adalah terjadinya perubahan yang berjalan
secara kontinyu dalam diri individu mulai ia dilahirkan hingga meninggal dunia.
Perkembangan adalah proses terjadinya berbagai perubahan yang bertahap yang
dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya (maturation)
yang terlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik
terhadap fisiknya maupun psikisnya (Syamsu Yusuf dalam Rosleny Marliany, 2010:
231).[1]
Semua yang berkembang menuju pada bentuk dan keadaan yang
lebih baik dan lebih maju, artinya progresif. Manusia terus berkembangan maju
secara fisik dari kekuatan tubuhnya dan fungsi-fungsinya. Perkembangan itu pun
dialaminya secara berkesinambungan atau bertahap, seperti dari merangkak
menjadi berdiri, dari berdiri menjadi berjalan, dan seterusnya.
Sedangkan sosial merupakan rangkaian norma, moral, nilai
dan aturan yang bersumber dari kebudayaan suatu masyarakat atau komuniti.
Dimana sosial ini dipakai sebagai acuan dalam berinteraksi antar manusia dalam
konteks masyarakat atau komunitas.[2]
Sosial juga dipahami sebagai upaya pengenalan (sosialisasi) anak terhadap orang
lain yang ada diluar dirinya dan lingkungannya, serta pengaruh timbal balik
dari berbagai segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan yang
lainnya, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok.
Jadi, Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk
menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi meleburkan
diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.[3]
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia
belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai
kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri
dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan
atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua,
saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses
perlakuan atau bimbingan orang tua anak dalam mengenalkan berbagai aspek
kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan
memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut
dalam kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orang tua ini lazim disebut
sosialisasi.
Robinson (dalam Ahmad Susanto, 2011: 40-41), mengartikan
sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah
perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang
bertanggung jawab dan efektif.[4] Sosialisasi
dari orang tua ini sangatlah penting bagi anak, karena dia masih terlalu muda
dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri ke arah
kematangan.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh
lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau
teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau
memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan
dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang. Namun, apabila lingkungan
sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua yang kasar, sering
memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajaran atau
pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama maupun
tatakrama/budi pekerti, cenderung menampilkan perilaku maladjustment,
seperti: bersifat minder, senang mendominasi orang lain, bersifat egois/selfish,
senang mengisolasi diri/menyendiri, kurang memiliki perasaan tenggang rasa dan
kurang memperdulikan norma dalam berperilaku.
B. Pola Prilaku Sosial Anak
Prilaku sosial adalah kegiatan yang berhubungan dengan
orang lain, kegiatan yang berkaitan dengan pihak lain yang memerlukan
sosialisasi dalam hal bertingkah laku, belajar memainkan peran sosial, serta
upaya mengembangkan sikap sosial yang layak diterima oleh orang lain. Prilaku
sosial pada anak ini diarahkan untuk pengembangan sosial yang baik, seperti
kerja sama, tolong menolong, berbagi simpati, empati, dan saling membutuhkan
satu sama lain.
Begitu selanjutnya, bahwa prilaku sosial yang berkembang
pada awal masa kanak-kanak merupakan prilaku yang terbentuk berdasarkan
landasan yang diletakkan pada masa bayi. Sehingga perlu diarahkan kepada bentuk prilaku
sosial agar dapat menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan anak dan
kepentingan anak selanjutnya. Adapun beberapa pola prilaku sosial pada anak,
adalah sebagai berikut:
1.
Meniru, yaitu agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku
orang yang sangat dikagumi.
2.
Persaingan, yaitu keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain.
Persaingan biasanya sudah tampak pada usia empat tahun.
3.
Kerja sama, mulai usia tahun ketiga akhir, anak mulai bermain secara
bersama dan kooperatif, serta kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat
baik dalam frekuensi maupun lamanya berlangsung.
4.
Simpati. Karena simpati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan
dan emosi orang lain, maka hal ini hanya kadang-kadang timbul sebelum tiga
tahun. Simpati juga merupakan sikap emosional yang mendorong individu atau
untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama
dengannya.[5]
5.
Empati. Seperti halnya simpati,
empati membutuhkan pengertian membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi
orang lain, tetapi disamping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan
diri sendiri ditempat orang lain.
6.
Dukungan sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak dukungan dari
teman-teman menjadi lebih penting dari pada persetujuan orang-orang dewasa.
7.
Membagi. Anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan
sosial ialah membagi miliknya, terutama mainan untuk anak-anak lainnya. Pada
momen-momen tertentu, anak juga rela membagi makanan kepada anak lain dalam
rangka mempertebal tali pertemanan mereka dan menunjukkan identitas keakraban
antar mereka.
8.
Perilaku akrab. Anak memberikan rasa kasih sayang kepada guru dan
teman-teman, bentuk dari perilaku akrab diperlihatkan dengan canda gurau dan
tawa riang diantara mereka.[6]
C. Keterampilan Sosial Yang Perlu Dimiliki Anak
Dalam masa tumbuh kembang anak, terdapat lima hal yang
penting dan harus selaras untuk selalu diperhatikan para orang tua, yakni aspek
fisik, kemampuan kognitif, kemampuan bahasa, emosi dan keterampilan sosial.
Keterampilan sosial menjadi sangat penting bagi anak-anak karena dengan
memiliki keterampilan sosial, anak mampu bekerja sana dengan orang lain di masa
tumbuh kembangnya dan memiliki rasa percaya diri sehingga mampu menempatkan
dirinya pada lingkungan yang tepat. Berikut keterampilan sosial yang penting
untuk dikuasai oleh anak:
1.
Berteman dan bekerja sama
Anak yang punya keteramppilan sosial yang baik tidak
pilih-pilih teman, namun tahu apa yang perlu dicontoh atau sebaliknya tak
dicontoh dari teman tersebut. Ia pun bisa bekerja sama dengan berbagai jenis
teman.
2.
Peduli terhadap yang sakit atau kekurangan
Jika ada temannya yang merasa sakit atau membutuhkan
sesuatu anak dapat dengan sigap dan cepat merespon temannya, misalnya dengan
membantu menghibur lewat celotehan lucu atau dengan senang hati memberikan kue
sebagai hiburan agar temannya tidak sedih lagi.
3.
Sabar menunggu
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk mengantre dengan
memberikan contoh secara langsung. Misalnya ketika berbelanja di supermarket
terdekat, tunjukkan pada anak mengantre untuk membayar dan katakan kepadanya
untuk menunggu dan bersabar.
4.
Selesaikan/damaikan pertengkaran
Jika ada yang berselisih disekitarnya, anak mampu
menengahi dan mendamaikan teman-temannya yang sedang menunjukkan amarahnya.
5.
Marah tanpa mengganggu orang lain
Marah merupakan salah satu perwujudan emosi dari pribadi
seorang anak. Anak yang nemiliki keterampilan sosial yang baik bisa tetap
mengekspresikan kemarahannya namun tidak mengganggu orang lain.
6.
Mengikuti aturan
Anak yang memiliki keterampilan sosial mampu mengikuti
aturan yang ada. Misalnya ketika bermain petak jongkok bersama teman-temannya,
jika ia terkena tangan penjaga, maka ia mengikuti aturan dengan berubah peran
menjadi penjaga yang berusaha menangkapi mereka yang tal berjongkok. Anak yang
mampu mengikuti aturan akan lebih mudah beradaptasi di lingkungan sosialnya
kelak.[7]
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Sosial Anak
Secara garis
besarnya terdapat dua faktor yang mempengaruhi proses perkembaangan yang
optimal bagi seorang anak, yaitu faktor internal (dalam) dan eksternal (luar).
Faktor internal ialah faktor-faktor yang terdapat dari dalam diri anak itu
sendiri, baik yang berupa bawaan maupun yang diperoleh dari pengalaman anak.
Faktor internal ini meliputi hal-hal yang diturunkan dari orang tua, unsur
berpikir dan kemampuan intelektual, unsur hormonal, dan emosi juga sifat
(tempramen) tertentu. Sedangkan faktor eksternal ialah faktor-faktor yang diperoleh
anak dari luar dirinya, seperti faktor keluarga, gizi, budaya, dan teman
bermain atau teman sekolah.
Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian
anak, sikap dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh anak, mendidik anak, hubungan
orang tua dengan anak, dan antara anggota keluarga. Keluarga yang proses
pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Seperti hubungan keluarga
antara bapak dan ibu yang tidak harmonis, sering bertengkar di depan anak,
terlalu ketat dan mengekang kebebasan anak, semua itu akan sangat mempengaruhi
perkembangan kepribadian dan sosial anak.
Di dalam buku Syamsu Yusuf juga menyebutkan bahwa
lingkungan perkembangan siswa adalah keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi,
atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan
siswa. Ada beberapa yang mempengaruhi perkembangan sosial siswa yaitu,
lingkungan keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer group), dan
masyarakat.
1.
Lingkungan keluarga
F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang
sosio;ogis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu dalam arti luas, keluarga
meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat
dibandingkan dengan “clan” atau marga dan dalam arti sempit keluarga
meliputi orang tua dan anak.
Senada, Sudardja Adiwikarta dan Sigelman & Shaffer
berpendapat bahwa “keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat
universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe)
atau suatu sistem sosial yang terbentuk dalam sistem sosial yang lebih besar”.
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya
mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan
pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang
diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi
pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga dipandang sebagai
institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama
kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Maka
keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan anak.
2.
Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara
sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka
membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek
moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian
anak, Hurlock (1986) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi
perkembangan kepribadian anak, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara
berperilaku. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan peranan yang
berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu:
a. Para sisiwa harus hadir ke sekolah.
b. Sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara
dini, seiring dengan perkembangan konsep dirinya.
c. Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di
sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
d. Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa
untuk meraih sukses.
e. Sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak
untuk menilai dirinya, kemampuannya secara realistik.
3.
Kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi
siswa mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya.
Peranan kelompok teman sebaya bagi anak adalah memberikan kesempatan untuk
belajar tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, mengontrol tingkah
laku sosial, mengembangkan keterampilan, dan minat yang relevan dengan usianya,
dan saling bertukar perasaan juga masalah.
Kelompok teman sebaya itu mempunyai kontribusi yang
positif terhadap perkembangan kepribadian anak. Namun disisi lain, tidak
sedikit anak yang berperilaku menyimpang, karena pengaruh teman sebayanya.
Pengaruh kelompok teman sebaya terhadap anak itu berkaitan dengan iklim
keluarga anak itu sendiri. Iklim keluarga yang sehat cenderung dapat
menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan
anak yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung:
Pustaka Setia.
Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini:
Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta: Prenada Media Group.
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sumber Internet:
http://definisi.blogspot.com/2012/11/definisi-sosial.html?=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 19:46)
http://nizaryudharta.blogspot.com/2013/12/perilaku-sosial-dan-emosional-anak-usia.html?m=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 21:11)
http://www.laudyamahya.id/2017/04/keterampilan-sosial-anak.html?m=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 21:51)
[2] http://definisi.blogspot.com/2012/11/definisi-sosial.html?=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 19:46)
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 122.
[4] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini:
Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011),
hlm. 40-41.
[6] http://nizaryudharta.blogspot.com/2013/12/perilaku-sosial-dan-emosional-anak--usia.html?m=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 21:11)
[7] http://www.laudyamahya.id/2017/04/keterampilan-sosial-anak.html?m=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 21:51)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar