Senin, 19 Agustus 2019

ASPEK PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK



ASPEK PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK


A.      Makna Perkembangan Sosial Anak
Perkembangan adalah terjadinya perubahan yang berjalan secara kontinyu dalam diri individu mulai ia dilahirkan hingga meninggal dunia. Perkembangan adalah proses terjadinya berbagai perubahan yang bertahap yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya (maturation) yang terlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik terhadap fisiknya maupun psikisnya (Syamsu Yusuf dalam Rosleny Marliany, 2010: 231).[1]
Semua yang berkembang menuju pada bentuk dan keadaan yang lebih baik dan lebih maju, artinya progresif. Manusia terus berkembangan maju secara fisik dari kekuatan tubuhnya dan fungsi-fungsinya. Perkembangan itu pun dialaminya secara berkesinambungan atau bertahap, seperti dari merangkak menjadi berdiri, dari berdiri menjadi berjalan, dan seterusnya.
Sedangkan sosial merupakan rangkaian norma, moral, nilai dan aturan yang bersumber dari kebudayaan suatu masyarakat atau komuniti. Dimana sosial ini dipakai sebagai acuan dalam berinteraksi antar manusia dalam konteks masyarakat atau komunitas.[2] Sosial juga dipahami sebagai upaya pengenalan (sosialisasi) anak terhadap orang lain yang ada diluar dirinya dan lingkungannya, serta pengaruh timbal balik dari berbagai segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok.
Jadi, Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.[3]
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orang tua ini lazim disebut sosialisasi.
Robinson (dalam Ahmad Susanto, 2011: 40-41), mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.[4] Sosialisasi dari orang tua ini sangatlah penting bagi anak, karena dia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri ke arah kematangan.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang. Namun, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua yang kasar, sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajaran atau pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama maupun tatakrama/budi pekerti, cenderung menampilkan perilaku maladjustment, seperti: bersifat minder, senang mendominasi orang lain, bersifat egois/selfish, senang mengisolasi diri/menyendiri, kurang memiliki perasaan tenggang rasa dan kurang memperdulikan norma dalam berperilaku.

B.       Pola Prilaku Sosial Anak
Prilaku sosial adalah kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, kegiatan yang berkaitan dengan pihak lain yang memerlukan sosialisasi dalam hal bertingkah laku, belajar memainkan peran sosial, serta upaya mengembangkan sikap sosial yang layak diterima oleh orang lain. Prilaku sosial pada anak ini diarahkan untuk pengembangan sosial yang baik, seperti kerja sama, tolong menolong, berbagi simpati, empati, dan saling membutuhkan satu sama lain.
Begitu selanjutnya, bahwa prilaku sosial yang berkembang pada awal masa kanak-kanak merupakan prilaku yang terbentuk berdasarkan landasan yang diletakkan pada masa bayi.  Sehingga perlu diarahkan kepada bentuk prilaku sosial agar dapat menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan anak dan kepentingan anak selanjutnya. Adapun beberapa pola prilaku sosial pada anak, adalah sebagai berikut:
1.         Meniru, yaitu agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat dikagumi.
2.         Persaingan, yaitu keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang lain. Persaingan biasanya sudah tampak pada usia empat tahun.
3.         Kerja sama, mulai usia tahun ketiga akhir, anak mulai bermain secara bersama dan kooperatif, serta kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat baik dalam frekuensi maupun lamanya berlangsung.
4.         Simpati. Karena simpati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang lain, maka hal ini hanya kadang-kadang timbul sebelum tiga tahun. Simpati juga merupakan sikap emosional yang mendorong individu atau untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya.[5]
5.          Empati. Seperti halnya simpati, empati membutuhkan pengertian membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi orang lain, tetapi disamping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri ditempat orang lain.
6.         Dukungan sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak dukungan dari teman-teman menjadi lebih penting dari pada persetujuan orang-orang dewasa.
7.         Membagi. Anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan sosial ialah membagi miliknya, terutama mainan untuk anak-anak lainnya. Pada momen-momen tertentu, anak juga rela membagi makanan kepada anak lain dalam rangka mempertebal tali pertemanan mereka dan menunjukkan identitas keakraban antar mereka.
8.         Perilaku akrab. Anak memberikan rasa kasih sayang kepada guru dan teman-teman, bentuk dari perilaku akrab diperlihatkan dengan canda gurau dan tawa riang diantara mereka.[6]

C.       Keterampilan Sosial Yang Perlu Dimiliki Anak
Dalam masa tumbuh kembang anak, terdapat lima hal yang penting dan harus selaras untuk selalu diperhatikan para orang tua, yakni aspek fisik, kemampuan kognitif, kemampuan bahasa, emosi dan keterampilan sosial. Keterampilan sosial menjadi sangat penting bagi anak-anak karena dengan memiliki keterampilan sosial, anak mampu bekerja sana dengan orang lain di masa tumbuh kembangnya dan memiliki rasa percaya diri sehingga mampu menempatkan dirinya pada lingkungan yang tepat. Berikut keterampilan sosial yang penting untuk dikuasai oleh anak:
1.         Berteman dan bekerja sama
Anak yang punya keteramppilan sosial yang baik tidak pilih-pilih teman, namun tahu apa yang perlu dicontoh atau sebaliknya tak dicontoh dari teman tersebut. Ia pun bisa bekerja sama dengan berbagai jenis teman.
2.         Peduli terhadap yang sakit atau kekurangan
Jika ada temannya yang merasa sakit atau membutuhkan sesuatu anak dapat dengan sigap dan cepat merespon temannya, misalnya dengan membantu menghibur lewat celotehan lucu atau dengan senang hati memberikan kue sebagai hiburan agar temannya tidak sedih lagi.
3.         Sabar menunggu
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk mengantre dengan memberikan contoh secara langsung. Misalnya ketika berbelanja di supermarket terdekat, tunjukkan pada anak mengantre untuk membayar dan katakan kepadanya untuk menunggu dan bersabar.
4.         Selesaikan/damaikan pertengkaran
Jika ada yang berselisih disekitarnya, anak mampu menengahi dan mendamaikan teman-temannya yang sedang menunjukkan amarahnya.
5.         Marah tanpa mengganggu orang lain
Marah merupakan salah satu perwujudan emosi dari pribadi seorang anak. Anak yang nemiliki keterampilan sosial yang baik bisa tetap mengekspresikan kemarahannya namun tidak mengganggu orang lain.
6.         Mengikuti aturan
Anak yang memiliki keterampilan sosial mampu mengikuti aturan yang ada. Misalnya ketika bermain petak jongkok bersama teman-temannya, jika ia terkena tangan penjaga, maka ia mengikuti aturan dengan berubah peran menjadi penjaga yang berusaha menangkapi mereka yang tal berjongkok. Anak yang mampu mengikuti aturan akan lebih mudah beradaptasi di lingkungan sosialnya kelak.[7]

D.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Anak
       Secara garis besarnya terdapat dua faktor yang mempengaruhi proses perkembaangan yang optimal bagi seorang anak, yaitu faktor internal (dalam) dan eksternal (luar). Faktor internal ialah faktor-faktor yang terdapat dari dalam diri anak itu sendiri, baik yang berupa bawaan maupun yang diperoleh dari pengalaman anak. Faktor internal ini meliputi hal-hal yang diturunkan dari orang tua, unsur berpikir dan kemampuan intelektual, unsur hormonal, dan emosi juga sifat (tempramen) tertentu. Sedangkan faktor eksternal ialah faktor-faktor yang diperoleh anak dari luar dirinya, seperti faktor keluarga, gizi, budaya, dan teman bermain atau teman sekolah.  
Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak, sikap dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh anak, mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, dan antara anggota keluarga. Keluarga yang proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Seperti hubungan keluarga antara bapak dan ibu yang tidak harmonis, sering bertengkar di depan anak, terlalu ketat dan mengekang kebebasan anak, semua itu akan sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian dan sosial anak.
Di dalam buku Syamsu Yusuf juga menyebutkan bahwa lingkungan perkembangan siswa adalah keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan siswa. Ada beberapa yang mempengaruhi perkembangan sosial siswa yaitu, lingkungan keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer group), dan masyarakat.


1.         Lingkungan keluarga
F.J. Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang sosio;ogis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga dan dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.
Senada, Sudardja Adiwikarta dan Sigelman & Shaffer berpendapat bahwa “keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem sosial yang terbentuk dalam sistem sosial yang lebih besar”.  
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan anak.
2.         Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.
Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock (1986) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku. Ada beberapa alasan, mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi perkembangan kepribadian anak, yaitu:
a.    Para sisiwa harus hadir ke sekolah.
b.    Sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan perkembangan konsep dirinya.
c.    Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di tempat lain di luar rumah.
d.   Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses.
e.    Sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya, kemampuannya secara realistik.
3.         Kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi siswa mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya. Peranan kelompok teman sebaya bagi anak adalah memberikan kesempatan untuk belajar tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, mengontrol tingkah laku sosial, mengembangkan keterampilan, dan minat yang relevan dengan usianya, dan saling bertukar perasaan juga masalah.
Kelompok teman sebaya itu mempunyai kontribusi yang positif terhadap perkembangan kepribadian anak. Namun disisi lain, tidak sedikit anak yang berperilaku menyimpang, karena pengaruh teman sebayanya. Pengaruh kelompok teman sebaya terhadap anak itu berkaitan dengan iklim keluarga anak itu sendiri. Iklim keluarga yang sehat cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman sebayanya, dibandingkan dengan anak yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik.




DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:

Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta: Prenada Media Group.
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Sumber Internet:

http://definisi.blogspot.com/2012/11/definisi-sosial.html?=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 19:46)
http://www.laudyamahya.id/2017/04/keterampilan-sosial-anak.html?m=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 21:51)




[1] Rosleny Marliany, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 231.
[2] http://definisi.blogspot.com/2012/11/definisi-sosial.html?=1 (diakses pada 16 Oktober 2018, pukul 19:46)
[3] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 122.
[4] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini: Pengantar Dalam Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 40-41.
[5] Syamsu Yusuf, Op. Cit, hlm. 125.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...