AWAL MASA
KANAK-KANAK
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Awal
masa kanak-kanak
Masa kanak-kanak pada umumya
berdasarkan literature, kebanyakan dimulai dari umur 2-6 tahun, tetapi ada
literature juga yang menyatakan bahwa kanak-kanak di mulai dari umur 1-4 tahun,
pada dasarnya para ahli menetapkan batasan-batasan tersebut menurut pengamatan
dan penelitian yang dilakukan masing-masing para ahli.
Awal masa kanak-kanak adalah suatu
masa dimana proses dari bayi menuju perkembangan selanjutnya. Masa ini adalah
masa awal dimana anak-anak akan lebih banyak kepada pemenuhan kepuasan bermain
anak, karena hamper 70% keseharian anak dihabiskan untuk bermain, meskipun didalam
permainan yang dimainkan anak mengandung unsure pembelajaran yang tidak
terduga. Seperti halnya ketika anak dibiarkan makan pada sebuah makanan yang
terdapat pada piring dan anak memegang sendok untuk berusaha memasukkan makanan
yang ia makan kedalam mulutnya, tetapi anak tersebut lebih sering
membentur-benturkan sendok pada piring, karena anak tersebut menganggap bahwa
itu adalah sebuat permainan.[1]
B.
Ciri-ciri
awal masa kanak-kanak
a.
usia
yang mengandung masalah atau usia sulit.
Menurut sebagian orang tua, awal
masa kanak-kanak adalah usia yang mengandung masalah atau usia sulit karena
pada masa ini anak-anak dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan
menuntut kebebasan.
b.
Usia
mainan
Usia bermain pada kanak-kanan di
mulai pada usia 3-5 tahun. Menurut Erickson hasil perkembangan ego pada usia
ini adalah inisiatif dan masa bersalah. Kekuatan dasarnya adalah tujuan atau
dorongan selama periode ini anak mengalami suatu keinginan untuk meniru orang
dewasa disekitarnya dan mengambil inisiatif dalam menciptakan situasi belajar.
Mereka bisa bermain dengan boneka berbie, menggukan telpon mainan dan miniature
mobil, bermain peran, dan sebagainya.
c.
Usia
prasekolah
Usia sekolah di mulai pada umur 6-12
tahun. Menurut Erickson hasil perkembangan pada masa ini dimana manusia mampu
belajar, menciptakan, dan menyelesaikan berbagai keterampilan baru dan
pengetahuan.
Fase ini juga merupakan tahap yang
sangat penting bagi pengembangan social dan jika manusia mengalami perasaan
yang belom terselesaikan, ketidak cukupan kemampuan, dan inferioritas di antara
teman-temannya, dia dapat memiliki masalah serius dalam hal kompetensi dan
harga diri. Ketika dunia pergaulan meluas, yang paling signifikan adalah
hubungan manusia dengan sekolah dan lingkungan. Orang tua tidak lagi menjadi
sumber otoritas lengkap mereka seperti fase sebelumnya, meski keberadaannya
masih di rasa penting. [2]
d.
Usia
belajar kelompok
Usia belajar kelompok adalah masa
dimana anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi
kehidupan sosial yang lebih tinggi
e.
Usia
menjelajah dan banyak bertanya.
Usia menjelajah adalah dimana
anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, mekanisme, perasaan dan dapat
menjadibagian dari lingkungannya, sedangkan banyak bertanya merupakan salah
satu cara anak-anak pada umumnya dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan
cara bertanya.
f.
Usia
meniru dan kreatif.
Usia meniru merupakan usia dimana
anak-anak mudah sekali meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Sedangkan
usia kreatif adalah usia dimana anak-anak lebih menunjukkan kreativitas dalam
bermain.[3]
C.
Tugas
perkembangan awal masa kanak-kanak
Tugas perkembangan adalah sesuatu
yang bisa diduga timbul dan konsisten pada atau sekitar periode tertentu dalam
kehidupan individu (Havighurst, 1953)konsep tugas perkembangan didasari asumsi
bahwa perkembangan manusia dalam masyarakat modern ditandai oleh serangkaian tugas
dimana individu harus belajar sepanjang hidupnya. Beberapa dari tugas
perkembangan ini memiliki kesamaan di masa kanak-kanan dan remaja, sedangkan
yang timbul pada saat manusia memasuki usia dewasa dan usia tua.[4]
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan
itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang
kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil di tuntaskan akan
membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas. Sementara apabila
gagal, maka akan menyebabkan ketidak bahagiaan pada diri individu yang
bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan dalam menuntaskan
tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ini
berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan, yang dimiliki oleh
individu, sesuai dengan usia dan fase perkembangannya.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa
kanak-kanak yaitu sebagai berikut:
1.
Belajar
berbicara
Belajar berbcara, yaitu mengeluarkan
suara yang berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantara suara
itu. Untuk itu, diperlukan kematangan otot-otot dan saraf dari alat-alat
bicara,[5]
Berbicara
pada anak dimulai pada fase jeritan. Artinya, anak akan menggunakan jeritan
sebagai cara mengungkapkan perasaan. Secara bertahap, jeritan ini akan berubah
hingga dapat mengeja beberapa kata yang di dasarkan pada tempat keluarnya huruf
tertentu di dalam mulut. Pengejaan ini berubah menjadi kata-kata yang terbentuk
dari dua atau tiga huruf yang digunakan anak untuk menggantikan ungkapan yang panjang atau pendek untuk
mengungkapkan kebutuhannya. Selanjutnya, anak akan sampai pada fase penggunaan
ungkapan, baik secara benar maupun keliru.
Masa
kanak-kanak adalah masa-masa yang cocok untuk belajar bahasa. Bagi anak, pada
fase-fase pertama, hal ini merupakan permainan dan setahap demi setahap akan
menjadi kebiasaan. Dengan demikian, anak dapat menirukan suara-suara orang lain
dan merasa senang dengannya. Oleh karena itu, orang tua harus mengawasi fase
ini dengan sangat hati-hati.
Usia
anak 1-3 tahun sangat penting untuk belajar bahasa. Usia tersebut merupakan
masa bagi anak untuk memulai meniru suara orang lain. Ia akan meniru dan
mengulang-ngulang kata yang diucapkan oaring dewasa. Oleh karena itu, orang tua
harus berbicara dengannya secara perlahan-lahan dan dengan kata-kata yang jelas
serta menggunakan kata-kata dan ungkapan yang tersusun sederhana dan mudah
dipahami. Contoh kata yang di ucapkan kata Ibu, Ayah dan benda-benda yang ada
di sekitarnya.[6]
2.
Belajar
membedakan jenis kelamin
Melalui
observasi anak dapat melihat tingkahlaku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda
antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, anak
dapat mengenal perbedaan pria dan wanita, anak menaruh perhatian besar terhadap
alat kelaminnya sendiri maupun orang lain. Agar pengenalan terhadap jenis
kelamin itu berjalan normal, maka orang tua perlu memperlakukan anaknya, baik
dalam memberikan alat mainan, pakaian, maupun aspek lainya sesuai dengan jenis
kelamin anak.
3.
Belajar
mengadakan hubungan Emosional selain dengan orang-orang terdekat
Anak mengadakan
hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya menggunakan berbagai cara,
yaitu isarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang diperoleh dalam
belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain, sedikit banyaknya akan
menentukan sikapnya di kemudian hari apakah ia bersikap bersahabat, bersikap
dingin, introvert, extrovert dan sebagainya. Misalnya, apa bila anak memperoleh
pergaulan dengan orang tuanya itu mennyenangkan, maka cenderung bersikap ramah
dan ceria.
4.
Belajar
membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk dan menggembangkan kata hati
Anak kecil
dikuasai oleh hedonisme naiv, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan
penderitaan dianggapnya buruk (hedonism adalah aliran yang menyatakan bahwa
manusia dalam hidupnya mencari kenikmatan dan kebahagiaan). Apabila anak
bertambah besar dia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan
salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya
memperhatikan kepentingan atau kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus
memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenak pengertian baik dan buruk,
benar dan salah ini dip e garuhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada
mulanya anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah apa yang di
perbolehkan itu berarti baik atau benar. Pengalaman ini merupakan permulaan
pembentukan kata hati. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasehat,
bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting
dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri tauladan dari orang tua dan
bimbingannya hal ini lebih baik dari pada penggunaan hukuman dan ganjaran,
meskipun dalam situasi tertentu masih tetap di perlukan.[7]
5.
Membentuk
konsep-konsep pengertian sederhana tentang kenyataan sisoal dan alam
Pada mulanya
dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang komplesk dan membinggungkan.
Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya.
Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk
kesimpula dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai cirri yang sama. Anak
belajar bahwa bayangan tertenru dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi
kebutuhanya di sebut” orang”, “ibu dan ayah”.
Anak belajar
bahwa benda-benda khusus dapat dikelompokkan dan di beri satu nama, seperti,
kucing, ayam, kambing, dan burung dapat di sebut binatang. Untuk mencapai
kemampuan tersebut (mengenal pengerian-pengertian) di perlukan kematangan
system saraf, pengalaman, dan bimbingan dari orang dewasa.[8]
D.
Emosi
awal masa kanak-kanak
Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak yaitu: marah, takut,
cemburu, iri, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan gembira.
Perkembangan emosi mencangkup sebagai berikut:
1
Menunjukkan
dan menanamkan perasaan
2
Memiliki
control emosi yang lebih baik.
3
Menunjukkan
selera humor
4
Sensitive
dengan tawaan dan kritikan
5
Menunjukkan
kekhawatiran berlebih, seperti kehilangan orang tua
6
Memperlihatkan
ketekunan
7
Menunjukkan
empeti yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
E.
Pola
bermain awal masa kanak-kanak
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosialyang dominan
pada awal masa anak-anak, sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya
di luar rumah bermain dengan teman-temannya disbanding terlibatdalam aktivitas
lain. Karena,itu, kebanyakan hubungan social dengan teman sebaya dalam masa ini
terjadi dalam bentuk permainan. Hetherington & Parke (1979) mendefinisikan
permainan sebagai suautu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan
semata-mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu
yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak-anak
proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya
(Sehwartzman,1978)[9]
F.
Jenis
disiplin awal masa kanak-kanak
1.
Disiplin
Otoriter
Ini merupakan disiplin radisional
dan yang berdasarkan pada ungkapan kino yang mengatakan bahwa”menghemat
cambukan berarti memanjakan anak”.’ Dalam disiplin yang bersifat otoriter,
orang tua dan pengasuh yang lain menetapkan peraturan-peraturan dan memberikan
anak bahwa ia harus mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Tidak ada usaha
untuk menjelaskan pada anak, mengapa ia harus patuh dan padanya tidak diberi
kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang adil tidaknya
peraturan-peraturan atau apakah peraturan-peraturan itu masuk akal atau tidak.
Kalau tidak mengikuti peraturan, ia akan di hokum yang seringkali kejam dank
eras dan yang dianggap sebagai cara untuk mencegah pelanggaran peraturan di
masa mendatang. Alas an mengapa pelanggaran peraturan oleh anak tidak pernah
dipertimbangkan adalah bahwa ia mengetahui peraturan itu dan sengaja
melanggarnya, juga tidak perlu diberikan hadiah karena telah mematuhi
peraturan. Hal ini dianggap sebagai kewajibannya dan tiap pemberian hadiah di
pandang dapat mendorong anak untuk mengharapkan sogokan agar melakukan sesuatu
yang diwajibkan masyarakat.
2.
Disiplin
yang Lemah
Disiplin yang lemah berkembang
sebagai proses terhadap disiplin otoreter yang dialami oleh banyak orang dewasa
dalam masa kanak-kanaknya. Filsafat yang mendasari teknik disiplin ini adalah
bahwa melalui akibat dari perbuatannya sendiri anak akan belajar bagaimana
berperilaku secara social/ dengan demikian anak tidak di ajarkan
peraturan-peraturan, ia tidak dihukum karena sengaja melanggar peraturan, juga
tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku social baik. Baik orang yang dewasa
saat ini yang cenderung meninggalkan bentuk disiplin ini karena tidak berhasil
memenuhi tiga unsure penting dari disiplin.
3.
Disiplin
Demokratis
Kecenderungan untuk menyenangi
disiplin yang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis sekarang meningkat.
Prinsip demikian menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan
di buat dan memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri bila
ia menganggap bahwa peraturan tidak adil. Sekalipun anak masih sangat muda
tetapi daripadanya tidak diharapkan perilaku patuh yang buta-butaan diusahakan
agar anak mengerti apa arti peraturan-peraturan dan mengapa kelompok social
mengharapkan anak mematuhi peraturan-peraturan itu. Dalam disiplin yang
demokratis hukuman “disesuaikan dengan kejahat” dalam arti diusahakan agar
hukuman yang diberikan berhubungan dengan kesalahan perbuatannya, tidak lagi
diberikan hukuman badan. Penghargaan terhadap usaha-usaha untuk menyesuaikan
dengan harapan social yang tercakup dalam peraturan-peraturan diperlibatkan dan
pengakuan social.[10]
G.
Bahaya
fisik dan psikologis awal masa kanak-kanak
1.
Bahaya
fisik yang terjadi pada anak-anak yaitu:
a)
Penyakit,
karena vaksin terhadap sebagian penyakit anak-anak sekarang mudah didapat,
penykait yang diderita anak-anak biasanya gangguan-gangguan pada pencernaan.
b)
Kegemukan
pada anak-anak yang lebih besar dapat disebabkan kondisi kelenjar, tetapi lebih
sering disebabkan terlalu banyak makan.
c)
Bentuk
tubuh yang yang tidak sesuai, anak perempuan yang gayanya seperti laki-laki dan
anak laki-laki seperti perempuan sering kali dicemooh oleh teman-temannya
sebayanya.
d)
Kecelakaan,
sekalipun tidak meninggalkan bekas-belkas fisik, akan tetapi kecelakaan dapat
meninggalkan bekas psikologis.
e)
Kesanggupan
yaitu, jika anak mulai membanding-bandingkan diri dengan teman-teman sebayanya,
ia sering merasa canggung dan kaku untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh
temannya
2.
Bahaya
psikologi pada anak-anak yaitu:
a)
Bahaya
dalam berbicara
b)
Bahaya
emosi
c)
Bahaya
sosial
d)
Bahaya
bermain
e)
Bahaya
moral
f)
Bahaya
minat
g)
Bahaya
dalam hubungan keluarga[11]
h)
Bahaya
dalam perkembangan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth
B.Hurlock,1980, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupan,edisi
5 jakarta:Erlangga
Khairil,2011, Psikologi pendidikan ,bandung: Alfabeta
Rosleny Marliani. 2015 Pikologi perkembangan,Bandung: Pustaka setia
Syamsu yusuf,
2012 psikologi perkembangan anak dan remaja,Bandung: Remaja Rosdakarya,
2012
Desmita, 2002 Psikologi
perkembangan Bandung: Rosda Karya, 2002
Hurlock,E.B 2015, psikologi
perkembangan. Jakarta: airlangga.
Ija Suntana, Etika Pendidikan Anak, Bandung: Pustaka Karya
[1]
Hurlock,E.B (1980) psikologi perkembangan. Jakarta: airlangga.
[2] Khairil,Psikologi
pendidikan , (bandung: Alfabeta, 2011)halm 72-73
[4]
Ibid halm 69
[5]
Syamsu yusuf, psikologi perkembangan anak dan remaja,(Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012)hlm 66
[8]
ibid
[9]
Desmita, Psikologi perkembangan (Bandung: Rosda Karya, 2002) hlm 141-143
[10] Elizabeth
B.Hurlock, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupanLedisi
5 jakarta:Erlangga,1980)hlm 125
Tidak ada komentar:
Posting Komentar