Senin, 19 Agustus 2019

AWAL MASA KANAK-KANAK


AWAL MASA KANAK-KANAK

 





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Awal masa kanak-kanak
Masa kanak-kanak pada umumya berdasarkan literature, kebanyakan dimulai dari umur 2-6 tahun, tetapi ada literature juga yang menyatakan bahwa kanak-kanak di mulai dari umur 1-4 tahun, pada dasarnya para ahli menetapkan batasan-batasan tersebut menurut pengamatan dan penelitian yang dilakukan masing-masing para ahli.
Awal masa kanak-kanak adalah suatu masa dimana proses dari bayi menuju perkembangan selanjutnya. Masa ini adalah masa awal dimana anak-anak akan lebih banyak kepada pemenuhan kepuasan bermain anak, karena hamper 70% keseharian anak dihabiskan untuk bermain, meskipun didalam permainan yang dimainkan anak mengandung unsure pembelajaran yang tidak terduga. Seperti halnya ketika anak dibiarkan makan pada sebuah makanan yang terdapat pada piring dan anak memegang sendok untuk berusaha memasukkan makanan yang ia makan kedalam mulutnya, tetapi anak tersebut lebih sering membentur-benturkan sendok pada piring, karena anak tersebut menganggap bahwa itu adalah sebuat permainan.[1]
B.     Ciri-ciri awal masa kanak-kanak
a.       usia yang mengandung masalah atau usia sulit.
Menurut sebagian orang tua, awal masa kanak-kanak adalah usia yang mengandung masalah atau usia sulit karena pada masa ini anak-anak dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan.
b.      Usia mainan
Usia bermain pada kanak-kanan di mulai pada usia 3-5 tahun. Menurut Erickson hasil perkembangan ego pada usia ini adalah inisiatif dan masa bersalah. Kekuatan dasarnya adalah tujuan atau dorongan selama periode ini anak mengalami suatu keinginan untuk meniru orang dewasa disekitarnya dan mengambil inisiatif dalam menciptakan situasi belajar. Mereka bisa bermain dengan boneka berbie, menggukan telpon mainan dan miniature mobil, bermain peran, dan sebagainya.
c.       Usia prasekolah
Usia sekolah di mulai pada umur 6-12 tahun. Menurut Erickson hasil perkembangan pada masa ini dimana manusia mampu belajar, menciptakan, dan menyelesaikan berbagai keterampilan baru dan pengetahuan.
Fase ini juga merupakan tahap yang sangat penting bagi pengembangan social dan jika manusia mengalami perasaan yang belom terselesaikan, ketidak cukupan kemampuan, dan inferioritas di antara teman-temannya, dia dapat memiliki masalah serius dalam hal kompetensi dan harga diri. Ketika dunia pergaulan meluas, yang paling signifikan adalah hubungan manusia dengan sekolah dan lingkungan. Orang tua tidak lagi menjadi sumber otoritas lengkap mereka seperti fase sebelumnya, meski keberadaannya masih di rasa penting.  [2]
d.      Usia belajar kelompok
Usia belajar kelompok adalah masa dimana anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi
e.       Usia menjelajah dan banyak bertanya.
Usia menjelajah adalah dimana anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, mekanisme, perasaan dan dapat menjadibagian dari lingkungannya, sedangkan banyak bertanya merupakan salah satu cara anak-anak pada umumnya dalam menjelajahi lingkungan adalah dengan cara bertanya.
f.       Usia meniru dan kreatif.
Usia meniru merupakan usia dimana anak-anak mudah sekali meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Sedangkan usia kreatif adalah usia dimana anak-anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain.[3]
C.     Tugas perkembangan awal masa kanak-kanak
Tugas perkembangan adalah sesuatu yang bisa diduga timbul dan konsisten pada atau sekitar periode tertentu dalam kehidupan individu (Havighurst, 1953)konsep tugas perkembangan didasari asumsi bahwa perkembangan manusia dalam masyarakat modern ditandai oleh serangkaian tugas dimana individu harus belajar sepanjang hidupnya. Beberapa dari tugas perkembangan ini memiliki kesamaan di masa kanak-kanan dan remaja, sedangkan yang timbul pada saat manusia memasuki usia dewasa dan usia tua.[4]
Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil di tuntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas. Sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidak bahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan, yang dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia dan fase perkembangannya.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa kanak-kanak yaitu sebagai berikut:
1.    Belajar berbicara
Belajar berbcara, yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantara suara itu. Untuk itu, diperlukan kematangan otot-otot dan saraf dari alat-alat bicara,[5]
       Berbicara pada anak dimulai pada fase jeritan. Artinya, anak akan menggunakan jeritan sebagai cara mengungkapkan perasaan. Secara bertahap, jeritan ini akan berubah hingga dapat mengeja beberapa kata yang di dasarkan pada tempat keluarnya huruf tertentu di dalam mulut. Pengejaan ini berubah menjadi kata-kata yang terbentuk dari dua atau tiga huruf yang digunakan anak untuk menggantikan  ungkapan yang panjang atau pendek untuk mengungkapkan kebutuhannya. Selanjutnya, anak akan sampai pada fase penggunaan ungkapan, baik secara benar maupun keliru.
       Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang cocok untuk belajar bahasa. Bagi anak, pada fase-fase pertama, hal ini merupakan permainan dan setahap demi setahap akan menjadi kebiasaan. Dengan demikian, anak dapat menirukan suara-suara orang lain dan merasa senang dengannya. Oleh karena itu, orang tua harus mengawasi fase ini dengan sangat hati-hati.
       Usia anak 1-3 tahun sangat penting untuk belajar bahasa. Usia tersebut merupakan masa bagi anak untuk memulai meniru suara orang lain. Ia akan meniru dan mengulang-ngulang kata yang diucapkan oaring dewasa. Oleh karena itu, orang tua harus berbicara dengannya secara perlahan-lahan dan dengan kata-kata yang jelas serta menggunakan kata-kata dan ungkapan yang tersusun sederhana dan mudah dipahami. Contoh kata yang di ucapkan kata Ibu, Ayah dan benda-benda yang ada di sekitarnya.[6]
2.    Belajar membedakan jenis kelamin
Melalui observasi anak dapat melihat tingkahlaku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, anak dapat mengenal perbedaan pria dan wanita, anak menaruh perhatian besar terhadap alat kelaminnya sendiri maupun orang lain. Agar pengenalan terhadap jenis kelamin itu berjalan normal, maka orang tua perlu memperlakukan anaknya, baik dalam memberikan alat mainan, pakaian, maupun aspek lainya sesuai dengan jenis kelamin anak.
3.    Belajar mengadakan hubungan Emosional selain dengan orang-orang terdekat
Anak mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang diperoleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain, sedikit banyaknya akan menentukan sikapnya di kemudian hari apakah ia bersikap bersahabat, bersikap dingin, introvert, extrovert dan sebagainya. Misalnya, apa bila anak memperoleh pergaulan dengan orang tuanya itu mennyenangkan, maka cenderung bersikap ramah dan ceria.
4.    Belajar membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk dan menggembangkan kata hati
Anak kecil dikuasai oleh hedonisme naiv, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonism adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya mencari kenikmatan dan kebahagiaan). Apabila anak bertambah besar dia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan atau kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenak pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini dip e garuhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah apa yang di perbolehkan itu berarti baik atau benar. Pengalaman ini merupakan permulaan pembentukan kata hati. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasehat, bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri tauladan dari orang tua dan bimbingannya hal ini lebih baik dari pada penggunaan hukuman dan ganjaran, meskipun dalam situasi tertentu masih tetap di perlukan.[7]
5.    Membentuk konsep-konsep pengertian sederhana tentang kenyataan sisoal dan alam
Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang komplesk dan membinggungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya. Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk kesimpula dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai cirri yang sama. Anak belajar bahwa bayangan tertenru dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhanya di sebut” orang”, “ibu dan ayah”.
Anak belajar bahwa benda-benda khusus dapat dikelompokkan dan di beri satu nama, seperti, kucing, ayam, kambing, dan burung dapat di sebut binatang. Untuk mencapai kemampuan tersebut (mengenal pengerian-pengertian) di perlukan kematangan system saraf, pengalaman, dan bimbingan dari orang dewasa.[8]
D.    Emosi awal masa kanak-kanak
Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak yaitu: marah, takut, cemburu, iri, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan gembira.
Perkembangan emosi mencangkup sebagai berikut:
1        Menunjukkan dan menanamkan perasaan
2        Memiliki control emosi yang lebih baik.
3        Menunjukkan selera humor
4        Sensitive dengan tawaan dan kritikan
5        Menunjukkan kekhawatiran berlebih, seperti kehilangan orang tua
6        Memperlihatkan ketekunan
7        Menunjukkan empeti yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
E.     Pola bermain awal masa kanak-kanak
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosialyang dominan pada awal masa anak-anak, sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunya di luar rumah bermain dengan teman-temannya disbanding terlibatdalam aktivitas lain. Karena,itu, kebanyakan hubungan social dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam bentuk permainan. Hetherington & Parke (1979) mendefinisikan permainan sebagai suautu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk aktivitas itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini adalah karena bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya (Sehwartzman,1978)[9]
F.      Jenis disiplin awal masa kanak-kanak
1.    Disiplin Otoriter
Ini merupakan disiplin radisional dan yang berdasarkan pada ungkapan kino yang mengatakan bahwa”menghemat cambukan berarti memanjakan anak”.’ Dalam disiplin yang bersifat otoriter, orang tua dan pengasuh yang lain menetapkan peraturan-peraturan dan memberikan anak bahwa ia harus mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Tidak ada usaha untuk menjelaskan pada anak, mengapa ia harus patuh dan padanya tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang adil tidaknya peraturan-peraturan atau apakah peraturan-peraturan itu masuk akal atau tidak. Kalau tidak mengikuti peraturan, ia akan di hokum yang seringkali kejam dank eras dan yang dianggap sebagai cara untuk mencegah pelanggaran peraturan di masa mendatang. Alas an mengapa pelanggaran peraturan oleh anak tidak pernah dipertimbangkan adalah bahwa ia mengetahui peraturan itu dan sengaja melanggarnya, juga tidak perlu diberikan hadiah karena telah mematuhi peraturan. Hal ini dianggap sebagai kewajibannya dan tiap pemberian hadiah di pandang dapat mendorong anak untuk mengharapkan sogokan agar melakukan sesuatu yang diwajibkan masyarakat.
2.    Disiplin yang Lemah
Disiplin yang lemah berkembang sebagai proses terhadap disiplin otoreter yang dialami oleh banyak orang dewasa dalam masa kanak-kanaknya. Filsafat yang mendasari teknik disiplin ini adalah bahwa melalui akibat dari perbuatannya sendiri anak akan belajar bagaimana berperilaku secara social/ dengan demikian anak tidak di ajarkan peraturan-peraturan, ia tidak dihukum karena sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku social baik. Baik orang yang dewasa saat ini yang cenderung meninggalkan bentuk disiplin ini karena tidak berhasil memenuhi tiga unsure penting dari disiplin.
3.    Disiplin Demokratis
Kecenderungan untuk menyenangi disiplin yang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis sekarang meningkat. Prinsip demikian menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan di buat dan memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan tidak adil. Sekalipun anak masih sangat muda tetapi daripadanya tidak diharapkan perilaku patuh yang buta-butaan diusahakan agar anak mengerti apa arti peraturan-peraturan dan mengapa kelompok social mengharapkan anak mematuhi peraturan-peraturan itu. Dalam disiplin yang demokratis hukuman “disesuaikan dengan kejahat” dalam arti diusahakan agar hukuman yang diberikan berhubungan dengan kesalahan perbuatannya, tidak lagi diberikan hukuman badan. Penghargaan terhadap usaha-usaha untuk menyesuaikan dengan harapan social yang tercakup dalam peraturan-peraturan diperlibatkan dan pengakuan social.[10]
G.    Bahaya fisik dan psikologis awal masa kanak-kanak
1.      Bahaya fisik yang terjadi pada anak-anak yaitu:
a)      Penyakit, karena vaksin terhadap sebagian penyakit anak-anak sekarang mudah didapat, penykait yang diderita anak-anak biasanya gangguan-gangguan pada pencernaan.
b)      Kegemukan pada anak-anak yang lebih besar dapat disebabkan kondisi kelenjar, tetapi lebih sering disebabkan terlalu banyak makan.
c)      Bentuk tubuh yang yang tidak sesuai, anak perempuan yang gayanya seperti laki-laki dan anak laki-laki seperti perempuan sering kali dicemooh oleh teman-temannya sebayanya.
d)     Kecelakaan, sekalipun tidak meninggalkan bekas-belkas fisik, akan tetapi kecelakaan dapat meninggalkan bekas psikologis.
e)      Kesanggupan yaitu, jika anak mulai membanding-bandingkan diri dengan teman-teman sebayanya, ia sering merasa canggung dan kaku untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh temannya
2.      Bahaya psikologi pada anak-anak yaitu:
a)      Bahaya dalam berbicara
b)      Bahaya emosi
c)      Bahaya sosial
d)     Bahaya bermain
e)      Bahaya moral
f)       Bahaya minat
g)      Bahaya dalam hubungan keluarga[11]
h)      Bahaya dalam perkembangan kepribadian.




























DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                                                                       
Elizabeth B.Hurlock,1980, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupan,edisi 5 jakarta:Erlangga
Khairil,2011, Psikologi pendidikan ,bandung: Alfabeta
Rosleny Marliani. 2015 Pikologi perkembangan,Bandung: Pustaka setia
Syamsu yusuf, 2012 psikologi perkembangan anak dan remaja,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012
Desmita,  2002 Psikologi perkembangan Bandung: Rosda Karya, 2002
Hurlock,E.B 2015,  psikologi perkembangan. Jakarta: airlangga.
Ija Suntana, Etika Pendidikan Anak, Bandung: Pustaka Karya



[1] Hurlock,E.B (1980) psikologi perkembangan. Jakarta: airlangga.
[2] Khairil,Psikologi pendidikan , (bandung: Alfabeta, 2011)halm 72-73
[3] Ibid hlm 69
[4] Ibid  halm 69                                                                                                                      
[5] Syamsu yusuf, psikologi perkembangan anak dan remaja,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012)hlm 66
[6] Ija Suntana, Etika Pendidikan Anak, (Bandung: Pustaka Karya, 2015) hlm 75
[7] Syamsu Yusuf, Op.cit hlm 68-69
[8] ibid
[9] Desmita, Psikologi perkembangan (Bandung: Rosda Karya, 2002) hlm 141-143
[10] Elizabeth B.Hurlock, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang kehidupanLedisi 5 jakarta:Erlangga,1980)hlm 125
[11] Rosleny Marliani. Pikologi perkembangan,( Bandung: Pustaka setia, 2015). hllm 148-149

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...