Senin, 19 Agustus 2019

AKHIR MASA KANAK-KANAK



AKHIR MASA KANAK-KANAK

Masa akhir kanak-kanak dimulai dari usia 6 tahun sampai kira-kira usia 12 tahun atau sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Selama setahun atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai-nilai, dan perilaku. Menjelang berakhirnya periode ini anak mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja. Anak pada masa ini di golongkan sebagai anak usia sekolah karena anak sudah memasuki dunia sekolah yang lebih serius, walaupun pembelajaran di sekolah  tetap harus disesuaikan dengan dunia anak-anak yang khas. Masa ini juga ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku, yang membuat anak lebih mampu dan siap untuk belajar dibandingkan sebelumnya.

A.  Ciri-ciri akhir masa kanak-kanak
Hurlock menyatakan orang tua umumnya menganggap masa ini merupakan usia yang menyulitkan, karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebayanya. Juga disebut usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan, kamarnya sangat berantakan, dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya, terutama pada anak laki-laki. Selain itu, disebut usia bertengkar karena anak sering bertengkar dengan saudara-saudaranya.
Para pendidik menyebut sebagai usia sekolah dasar, yaitu saat anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan berbagai keterampilan di sekolah dasar. Masa ini merupakan masa pembentukan kebiasaan dorongan berprestasi yang cenderung menetap sampai dewasa sehingga disebut juga masa kritis dalam dorongan berprestasi.
Psikologi menyebutkan masa ini usia berkelompok karena anak ingin diterima oleh teman-teman sebayanya sebagai anggota kelompok dan saat anak ingin menyesuaikan diri dengan standar kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku. Disebut juga usia kreatif karena saat pe  nentuan apakah anak akan menjadi pencipta karya yang konformis atau baru dan orisinal. Pada masa ini anak mempunyai minat dan kegiatan bermain yang beragam atau luas sehingga disebut usia bermain.

B.  Tugas perkembangan masa akhir kanak-kanak
Menurut Havighurst, tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak, yaitu:
1.    Belajar kemungkinan-kemungkinan fisik/ketangkasan fisik.
2.    Membentuk sikap sehat terhadap dirinya sendiri sebagai pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang.
3.    Belajar peran jenis kelamin.
4.    Belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya.
5.     Mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan menghitung.
6.    Mengembangkan hati nurani atau kata hati.
7.    Belajar membentuk sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga-lembaga di lingkungannya. [1]

C.  Pola Bermain akhir masa kanak-kanak
Kompleksitas bermain membuat defenisi  bermain menjadi sangat sulit dan secara umum dianggap bahwa tidak ada satu pun defenisi bermain yang diperlukan atau memadai. Salah satu kriteria yang paling disepakati untuk mendefenisikan bermain adalah perilaku yang tampaknya tidak memiliki tujaun langsung yang jelas. Menurut defenisi ini, anak-anak kurang perduli pada hasil perilaku tersebut ketimbang proses-proses perilaku itu sendiri. Dala istilah disposisional, yang penting adalah “cara dan bukan tujuan”. Meskipun, seperti akan anda baca dalam bagian berikutnya, ini tidak berarti bahwa bermain tidak memiliki tujuan, hanya saja tujuannya tidak tersurat atau diketahui secara sadar oleh pelakunya.[2]
Pada masa ini, waktu bermain sudah lebih sedikit dibanding saat sebelumnya. Tetapi mengingat pentingnya bermain bagi perkembangan fisik, sosial dan emosi anak, maka anak perlu diberi waktu untuk bermain yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Lever menyatakan bahwa selama bermain anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial sehingga memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak.
Saat ini anak suka bermain konstruktif, menjelajah, mengumpulkan/ mengoleksi sesuatu, permainan dan olahraga, serta hiburan seperti membaca komik, mendengarkan radio, menonton film/televisi, atau melamun/berkhayal. Bermain juga merupakan salah satu cara bagi anak untuk mengasah kepekaannya melalui kelompok pergaulannya. Saat bermain dengan temannya, anak mulai belajar memahami sudut padang orang lain. Menjadi bagian dari kelompok dan lingkungan tertentu, menunggu bagiannya untuk beraksi, tidak selalu menang dan menjadi yang terbaik, merupakan cara anak mempelajari hal yang selama ini mungkin tidak diperhatikannya. Hal ini tentunya sulit, tetapi kegiatan ini member kesempatan kepada anak untuk belajar berbagi. Pada saat anak duduk di kelas 4-5 Sekolah Dasar, anak akan memperoleh kepuasan yang lebih besar jika bermain dengan teman yang seusia, berminat sama, dan dari jenis kelamin yang sama.
Games memiliki peran yang lebih kuat dalam kehidupan kehidupan anak-anak usia sekolah dasar. Dalam satu studi dinyatakan bahwa jumlah/frekuensi terjadinya permainan games yang paling tinggi terjadi di antara usia 10-12 tahun. Setelah usia 12 tahun, popularitas games menurun.
Saat ini permainan games tidak hanya dilakukan dalam kegiatan nyata, tetapi juga di computer, baik video games maupun game online. Hal ini dimungkinkan terjadi karena sekarang ini hampir semua keluarga di Indonesia, terutama yang di kota-kota besar, mempunyai computer dan banyak anak-anak usia sekolah dasar yang sudah sangat paham dengan peralatan ini. Kekhawatiran  berbagai pihak adalah anak-anak akan lebih asik bermain sendiri sehingga kurang menjalin interaksi dengan orang-orang disekelilingnya, terutama dengan teman-teman sebayanya. Yang perlu diperhatikan adalah permainan games di computer membuat anak sedikit bahkan tidak mempunyai interaksi dengan orang lain, mengganggu jadawal belajar dan tidur anak karena terlalu asik bermain. Selain itu yang membahayakan juga karena ada games yang tema permainannya cenderung bersifat perilaku yang penuh kekerasan/agresivitas. Bahkan ada beberapa games yang dilaporkan menyelipkan perilaku porno, yang tentunya semua itu dapat memengaruhi perkembangan anak, apalagi biasanya mereka bermain tanpa didampingi orangtua.
Memang berbagai pihak tidak bisa memungkiri bahwa games juga ada sisi positifnya. Menurut Oppenheim tahun 1984, ada beberapa nilai positif dari computer dan video games. Alat permainan ini memang menarik bagi anak-anak dan dapat mengembangkan koordinasi tangan dan mata.  Karena anak dirangsang untuk melihat dan langsung bereaksi dengan menekan tombol-tombol yang tepat. Selain itu, beberapa peneliti menyatakan bahwa permainan ini dapat meningkatkan tentang perhatian dan konsentrasi anak. Mengingat sifatnya yang kompetitif, alat permainan ini juga dapat menjadi ajang untuk kompetisi diri, yaitu melihat seberapa jauh kemampuannya sendiri.[3]

D.  Bahaya fisik dan psikologis pada  masa akhir kanak-kanak
Bahaya pada akhir masa kanak-kanak dapat berbentuk bahaya fisik dan psokologis.
1.    Bahaya Fisik
Bahaya fisik pada masa akhir kanak-kanak dapat berbentuk sebagai berikut:


a.       Penyakit
Karena vaksin terhadap sebagain penyakit anak-anak sekarang mudah didapat, penyakit yang diderita anak-anak biasanya salesma dan gangguan-gangguan pencernaan yang jarang menimbulkan akibat fisik yang lama.
b.      Kegemukan
Pada anak-anak lebih besar dapat disebabkan kondisi kelenjar, tetapi lebih sering disebabkan terlalu banyak makan, terutama karbohidrat.
c.       Bentuk tubuh yang tidak sesuai
Anak perempuan yang tubuhnya kelaki-lakian dan anak laki-laki yang bentuk fisiknya seperti perempuan sering dicemooh teman-temannya.
d.      Kecelakaan
Sekalipun tidak meninggalkan bekas-bekas fisik, kecelakaan dapat menyebabkan bekas psikologis.
e.       Kecanggungan
Jika anak mulai membanding-bandingkan diri dengan teman-teman seusianya, ia sering merasa canggung dan kaku untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman.
2.      Bahaya psikologis
a.       Bahaya dalam berbicara
Ada empat bahaya berbicara yang umum terdapat pada akhir masa kanak-kanak, yaitu:
1)      Kosakata yang tidak berkembang
2)      Kesalahan dalam berbicara
3)      Kesulitan berbicara
4)      Pembicaraan yang bersifat  egosentris
b.      Bahaya emosi
Anak akan dianggap tidak matang oleh teman-teman sebaya ataupun orang-orang dewasa jika ia masih menunjukkan pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan, seperti amarah yang sangat berlebihan. Apabila emosi yang buruk seperti marah dan cemburu masih sangat kuat, ia akan dijauhi oleh teman-temannya.
c.       Bahaya Sosial
Bahaya sosial mencakup sebagai berikut:
1)      Anak yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman-teman akan kurang mempunyai kesempatan untuk belajar bersifat sosial.
2)      Anak yang terkucil, yang tidak memiliki persamaan dengan kelompok teman-teman akan menganggap dirinya “berbeda” dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk diterima oleh teman-teman.
3)      Anak yang mobilitas sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan untuk diterima dalam kelompok yang sudah terbentuk.
4)      Anak yang berasal dari kelompok rasa atau kelompok agama yang berbeda sering terkena prasangka.
5)      Para pengikut yang ingin menjadi pemimpin akan menjadi anak yang penuh dengki dan tidak puas.
d.      Bahaya Bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang berkhayal atau melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan menjadi anak penurut yang kaku.
e.       Bahaya Moral
Ada enam bahaya yang dikaitkan dengan perkembangan sikap moral dan perilaku anak-anak, yaitu:
1)      Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau berdasarkan konsep media massa tentang benar dan salah yang tidak serupa dengan kode orang dewasa.
2)      Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam terhadap perilaku.
3)      Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang sebaiknya dilakukan.
4)      Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak.
5)      Menganggap dukungan teman-teman terhadap perilaku yang salah begitu memuaskan sehingga perilaku itu menjadi kebiasaan.
6)      Tidak sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.
f.       Bahaya yang menyangkut Minat
Ada dua bahaya umum berkaitan minat masa akhir kanak-kanak, yaitu:
1)      Tidak berminat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman-temannya.
2)      Mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai bagi dirinya, seperti kesehatan dan sekolah.
g.      Bahaya Hubungan keluarga
Hubungan dengan anggota-anggota keluarga mengakibatkan dua hal, yaitu melemahkan ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola penyesuaian yang buruk serta masalah-masalah yang dibawa ke luar rumah.
h.      Bahaya Perkembangan kepribadian
Bahaya dalam perkembangan kepribadian, antara lain:
1)      Perkembangan konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri.
2)      Egosentrisme merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrime merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang palsu.[4]





DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih, Christiana Hari. 2014. Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir. Jakarta: Prenada.
Upton, Penney. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Marliani, Rosleny. Psikologi perkembangan. Bandung: Pustaka Setia.




[1]Christiana Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-kanak Akhir, (Jakarta: Prenada, 2014)., hlm. 248-249.
[2]Penney Upton, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 2012),. Hlm. 130.  
[3]Christiani Hari Soetjiningsih., Op. Cit. hlm. 268-271.
[4]Rosleny Marliani, Psikologi Perkembangan, (Bandung: Pustaka Setia)., hlm.149-151.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA

CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP DAN CARA PERKEMBANGBIAKANNYA Disampaikan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam...